alexametrics
27.8 C
Denpasar
Saturday, June 25, 2022

Menanti Keajaiban Glasgow (1) : Selamatkan Bumi dari Gelombang Panas

GLASGOW, BALI EXPRESS – Gelaran tahunan Konvensi Kerangka Kerja untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Glasgow, Skotlandia, tiba waktunya. Pandemi Covid-19 pada akhirnya tidak bisa menahan terlalu lama konferensi yang tertunda itu.

‘Glasgow’ punya beban berat, untuk menghasilkan sesuatu yang konkret guna menyelamatkan masa depan seisi Bumi.

Sedikit menyegarkan ingatan, para ilmuwan dalam Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) telah memproyeksikan meski komitmen kolektif negara-negara para pihak yang meratifikasi Paris Agreement dalam dokumen kontribusi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) yang ditetapkan secara nasional (NDC) telah diperbarui, tetap akan menaikkan suhu Bumi 2,7 derajat Celsius.

Dengan skenario pada level apa pun (ambisius maupun tidak ambisius) yang masyarakat global lakukan, penghangatan suhu di Bumi tetap akan berlangsung di abad 21 ini. 

Seperti dirilis Antara, Selasa (2/11), sekalipun upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dinaikkan ke level ambisius oleh semua negara para pihak, temperatur diproyeksikan tetap akan meningkat di atas 2 derajat Celsius.

Artinya, mereka yang bernegosiasi di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB Ke-26 di Glasgow, tidak cukup lagi hanya berbicara soal menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), tetapi harus memikirkan bagaimana agar masyarakat selamat dari banjir bandang, bagaimana mereka selamat dari longsor, bagaimana mereka lolos dari gelombang panas.

Bagaimana mereka selamat dari badai tropis, bagaimana mereka dapat bertahan dari kekeringan, bagaimana mereka dapat bertahan dari hilangnya keanekaragaman hayati yang menjadi sumber hidup pada masa depan.


GLASGOW, BALI EXPRESS – Gelaran tahunan Konvensi Kerangka Kerja untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Glasgow, Skotlandia, tiba waktunya. Pandemi Covid-19 pada akhirnya tidak bisa menahan terlalu lama konferensi yang tertunda itu.

‘Glasgow’ punya beban berat, untuk menghasilkan sesuatu yang konkret guna menyelamatkan masa depan seisi Bumi.

Sedikit menyegarkan ingatan, para ilmuwan dalam Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) telah memproyeksikan meski komitmen kolektif negara-negara para pihak yang meratifikasi Paris Agreement dalam dokumen kontribusi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) yang ditetapkan secara nasional (NDC) telah diperbarui, tetap akan menaikkan suhu Bumi 2,7 derajat Celsius.

Dengan skenario pada level apa pun (ambisius maupun tidak ambisius) yang masyarakat global lakukan, penghangatan suhu di Bumi tetap akan berlangsung di abad 21 ini. 

Seperti dirilis Antara, Selasa (2/11), sekalipun upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dinaikkan ke level ambisius oleh semua negara para pihak, temperatur diproyeksikan tetap akan meningkat di atas 2 derajat Celsius.

Artinya, mereka yang bernegosiasi di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB Ke-26 di Glasgow, tidak cukup lagi hanya berbicara soal menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), tetapi harus memikirkan bagaimana agar masyarakat selamat dari banjir bandang, bagaimana mereka selamat dari longsor, bagaimana mereka lolos dari gelombang panas.

Bagaimana mereka selamat dari badai tropis, bagaimana mereka dapat bertahan dari kekeringan, bagaimana mereka dapat bertahan dari hilangnya keanekaragaman hayati yang menjadi sumber hidup pada masa depan.


Most Read

Artikel Terbaru

/