alexametrics
26.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Taliban Bunuh Manajer Radio Afghanistan, Culik Wartawan

KABUL, BALI EXPRESS – Pejuang Taliban diduga membunuh seorang manajer stasiun radio Afghanistan di Kabul dan menculik seorang wartawan di provinsi Helmand.

Sejumlah pejabat pemerintah setempat, Senin (9/8) memgatakan, serangan terbaru itu menambah daftar panjang serangan Taliban yang menargetkan awak media.

Orang-orang bersenjata menembak Toofan Omar, manajer stasiun radio Paktia Ghag, dan seorang pengurus NAI dalam pembunuhan yang ditargetkan di ibukota Kabul, Minggu (8/8).

NAI adalah kelompok pembela hak asasi yang mendukung media independen di Afghanistan. “Omari dibunuh oleh orang-orang bersenjata tak dikenal. Kami menjadi sasaran karena bekerja secara independen,” kata kepala NAI, Mujeeb Khelwatgar.

Para pejabat di Kabul menduga para pejuang Taliban telah melakukan serangan itu. NAI pada bulan lalu melaporkan sedikitnya 30 jurnalis dan pekerja media tewas, terluka atau diculik oleh kelompok militan di Afghanistan sepanjang tahun ini.

Di provinsi selatan Helmand, para pejabat pada Minggu mengatakan pejuang Taliban telah menangkap seorang jurnalis lokal bernama Nematullah Hemat dari rumahnya di Lashkar Gah, ibukota provinsi tersebut.

“Sama sekali tidak ada petunjuk di mana Taliban telah menculik Hemat. Kami benar-benar panik,” kata Razwan Miakhel, kepala saluran TV swasta Gharghasht TV,  tempat Hemat bekerja.

Seorang juru bicara Taliban mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak memiliki informasi tentang pembunuhan di Kabul atau jurnalis yang diculik di Helmand.

Koalisi organisasi berita Afghanistan telah menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan para pemimpin di Dewan Perwakilan Rakyat AS, untuk mendesak mereka agar memberikan visa imigrasi khusus kepada wartawan Afghanistan dan staf pendukung media.

Taliban merebut tiga kota di wilayah utara Afghanistan pada akhir pekan dan mengancam akan merebut lebih banyak lagi.

Taliban juga meningkatkan serangan terhadap pasukan pemerintah Afghanistan setelah Washington memutuskan untuk mengakhiri misi militer AS di negara itu pada akhir Agustus. (ant)


KABUL, BALI EXPRESS – Pejuang Taliban diduga membunuh seorang manajer stasiun radio Afghanistan di Kabul dan menculik seorang wartawan di provinsi Helmand.

Sejumlah pejabat pemerintah setempat, Senin (9/8) memgatakan, serangan terbaru itu menambah daftar panjang serangan Taliban yang menargetkan awak media.

Orang-orang bersenjata menembak Toofan Omar, manajer stasiun radio Paktia Ghag, dan seorang pengurus NAI dalam pembunuhan yang ditargetkan di ibukota Kabul, Minggu (8/8).

NAI adalah kelompok pembela hak asasi yang mendukung media independen di Afghanistan. “Omari dibunuh oleh orang-orang bersenjata tak dikenal. Kami menjadi sasaran karena bekerja secara independen,” kata kepala NAI, Mujeeb Khelwatgar.

Para pejabat di Kabul menduga para pejuang Taliban telah melakukan serangan itu. NAI pada bulan lalu melaporkan sedikitnya 30 jurnalis dan pekerja media tewas, terluka atau diculik oleh kelompok militan di Afghanistan sepanjang tahun ini.

Di provinsi selatan Helmand, para pejabat pada Minggu mengatakan pejuang Taliban telah menangkap seorang jurnalis lokal bernama Nematullah Hemat dari rumahnya di Lashkar Gah, ibukota provinsi tersebut.

“Sama sekali tidak ada petunjuk di mana Taliban telah menculik Hemat. Kami benar-benar panik,” kata Razwan Miakhel, kepala saluran TV swasta Gharghasht TV,  tempat Hemat bekerja.

Seorang juru bicara Taliban mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak memiliki informasi tentang pembunuhan di Kabul atau jurnalis yang diculik di Helmand.

Koalisi organisasi berita Afghanistan telah menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan para pemimpin di Dewan Perwakilan Rakyat AS, untuk mendesak mereka agar memberikan visa imigrasi khusus kepada wartawan Afghanistan dan staf pendukung media.

Taliban merebut tiga kota di wilayah utara Afghanistan pada akhir pekan dan mengancam akan merebut lebih banyak lagi.

Taliban juga meningkatkan serangan terhadap pasukan pemerintah Afghanistan setelah Washington memutuskan untuk mengakhiri misi militer AS di negara itu pada akhir Agustus. (ant)


Most Read

Artikel Terbaru

/