alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Ariq, Gusti Ayu, Nadya

6 Jam Bangun Shelter Bencana, Mahasiswa FTUI Juara Arsitektur Internasional

DEPOK, BALI EXPRESS – Tiga mahasiswa Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2018, meraih juara kompetisi arsitektur internasional setelah berhasil membangun desain shelter bencana hanya dalam waktu enam jam.

Tim FTUI yang berkompetisi di ajang tersebut terdiri atas Ariq Dhia Athallah, Gusti Ayu Putu Nadya, Nadya Fatin Nur Rahma Sultan. Tim ini berhasil meraih juara 1 sayembara arsitektur berskala internasional Disaster Relief Shelter untuk kategori mitigasi bencana kota-kota di India.

“Shelter yang tidak memperhatikan kearifan lokal dapat menimbulkan dampak negatif bagi para korban bencana. Kesepian dan rasa putus asa, dapat timbul pada korban bencana alam, yang merasa terputus dari identitas mereka sebagai bagian dari suatu komunitas,” kata Ariq Dhia Athallah dalam keterangan tertulisnya di Depok, Jumat (14/1).

Ia mengatakan untuk menghindari dampak negatif tersebut, shelter dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar kelangsungan hidup biologis individu, juga mempertahankan identitas dalam komunitas.

Desain dengan nama Narana Shelter itu menyingkirkan 350 karya lain dari seluruh dunia pada kompetisi yang diselenggarakan oleh Mango Architecture pada 15 Juni hingga 15 Desember 2021 dengan tema Disaster Relief Shelter-Reinventing the Tens.

Narana Shelter merupakan hunian modular adaptif yang memungkinkan penyesuaian dan pertumbuhan sesuai dengan fase kebutuhan para penyintas. Shelter tersebut mempertahankan identitas komunitas dengan menghargai lokalitas dan budaya, menyediakan tempat yang aman dan dapat dengan mudah dirakit dan dibongkar.

Baca Juga :  Ledakan Bom Tewaskan 6 Orang dalam Aksi Pro-Palestina di Pakistan

Dosen Departemen Arsitektur FTUI dan arsitek profesional Evawani Ellisa yang juga pakar perancangan kota ini memaparkan, meskipun desain shelter Narana dilombakan untuk penyediaan shelter bencana di kota-kota India, desain ini juga sangat cocok untuk digunakan di Indonesia.

Selain kesamaan iklim, masyarakat India dan Indonesia memiliki kesamaan dalam hal eratnya identifikasi individu terhadap budaya lokal. Untuk penggunaan di Indonesia, kain saree dapat digantikan dengan kain batik nusantara, yang merupakan salah satu identitas kebanggaan masyarakat Indonesia.

Mahasiswa FTUI, Gusti Ayu Putu Nadya menyatakan shelter darurat harus dapat dibangun sepraktis mungkin. “Oleh karena itu, kami memiliki ide untuk merancang shelter modular yang dibangun dengan memanfaatkan mekanisme permukaan sebagai strategi utama kami. Kami membuat desain struktur bangunan dan sistem darurat yang komprehensif untuk komunitas yang berkelanjutan,” ujarnya.

Mahasiswa FTUI lainnya, Nadya Fatin Nur Rahma Sultan mengatakan kami menggunakan kain saree sebagai bagian dari desain shelter Narana. Saree telah mengakar ke dalam budaya India sejak 2800-1800 SM. Seiring waktu, setiap wilayah India telah mengembangkan gaya saree-nya sendiri.

“Kain saree merupakan salah satu benang merah yang menghubungkan identitas dan kebudayaan India secara keseluruhan. Saree lebih dari sekadar pakaian atau kain. Saree mewakili keakraban, identitas, dan rasa memiliki bagi masyarakat India,” kata Nadya. ant

DEPOK, BALI EXPRESS – Tiga mahasiswa Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) angkatan 2018, meraih juara kompetisi arsitektur internasional setelah berhasil membangun desain shelter bencana hanya dalam waktu enam jam.

Tim FTUI yang berkompetisi di ajang tersebut terdiri atas Ariq Dhia Athallah, Gusti Ayu Putu Nadya, Nadya Fatin Nur Rahma Sultan. Tim ini berhasil meraih juara 1 sayembara arsitektur berskala internasional Disaster Relief Shelter untuk kategori mitigasi bencana kota-kota di India.

“Shelter yang tidak memperhatikan kearifan lokal dapat menimbulkan dampak negatif bagi para korban bencana. Kesepian dan rasa putus asa, dapat timbul pada korban bencana alam, yang merasa terputus dari identitas mereka sebagai bagian dari suatu komunitas,” kata Ariq Dhia Athallah dalam keterangan tertulisnya di Depok, Jumat (14/1).

Ia mengatakan untuk menghindari dampak negatif tersebut, shelter dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar kelangsungan hidup biologis individu, juga mempertahankan identitas dalam komunitas.

Desain dengan nama Narana Shelter itu menyingkirkan 350 karya lain dari seluruh dunia pada kompetisi yang diselenggarakan oleh Mango Architecture pada 15 Juni hingga 15 Desember 2021 dengan tema Disaster Relief Shelter-Reinventing the Tens.

Narana Shelter merupakan hunian modular adaptif yang memungkinkan penyesuaian dan pertumbuhan sesuai dengan fase kebutuhan para penyintas. Shelter tersebut mempertahankan identitas komunitas dengan menghargai lokalitas dan budaya, menyediakan tempat yang aman dan dapat dengan mudah dirakit dan dibongkar.

Baca Juga :  WNI di Inggris Galang Dana Melalui Ride for Indonesia

Dosen Departemen Arsitektur FTUI dan arsitek profesional Evawani Ellisa yang juga pakar perancangan kota ini memaparkan, meskipun desain shelter Narana dilombakan untuk penyediaan shelter bencana di kota-kota India, desain ini juga sangat cocok untuk digunakan di Indonesia.

Selain kesamaan iklim, masyarakat India dan Indonesia memiliki kesamaan dalam hal eratnya identifikasi individu terhadap budaya lokal. Untuk penggunaan di Indonesia, kain saree dapat digantikan dengan kain batik nusantara, yang merupakan salah satu identitas kebanggaan masyarakat Indonesia.

Mahasiswa FTUI, Gusti Ayu Putu Nadya menyatakan shelter darurat harus dapat dibangun sepraktis mungkin. “Oleh karena itu, kami memiliki ide untuk merancang shelter modular yang dibangun dengan memanfaatkan mekanisme permukaan sebagai strategi utama kami. Kami membuat desain struktur bangunan dan sistem darurat yang komprehensif untuk komunitas yang berkelanjutan,” ujarnya.

Mahasiswa FTUI lainnya, Nadya Fatin Nur Rahma Sultan mengatakan kami menggunakan kain saree sebagai bagian dari desain shelter Narana. Saree telah mengakar ke dalam budaya India sejak 2800-1800 SM. Seiring waktu, setiap wilayah India telah mengembangkan gaya saree-nya sendiri.

“Kain saree merupakan salah satu benang merah yang menghubungkan identitas dan kebudayaan India secara keseluruhan. Saree lebih dari sekadar pakaian atau kain. Saree mewakili keakraban, identitas, dan rasa memiliki bagi masyarakat India,” kata Nadya. ant

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru