Selasa, 26 Oct 2021
Bali Express
Home / Internasional
icon featured
Internasional

AS Pulangkan Imigran, Bandara Haiti Ricuh

22 September 2021, 19: 31: 58 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

AS Pulangkan Imigran, Bandara Haiti Ricuh

IMIGRAN : Imigran Haiti menuju bus setelah dideportasi oleh AS dari Texas di Bandara Internasional Toussaint Louverture di Port-au-Prince, Haiti Selasa (21/9/2021). (Antara/Reuters)

Share this      

HAITI, BALI EXPRESS - Kericuhan terjadi di bandara Port-au-Prince Selasa (21/9), ketika warga Haiti yang dipulangkan oleh pemerintah Amerika Serikat turun dari sebuah pesawat.

Mereka mengungkapkan kemarahan dengan mendatangi area terlarang di bandara itu untuk mengambil paspor dan barang mereka.

"Sekelompok pria berkaus putih lalu bergerak kembali ke pesawat, seorang diantaranya berusaha masuk ke dalamnya. Petugas bandara lalu menutup pintu pesawat itu," kata seorang saksi.

Baca juga: Gempa 6,0 Magnitudo Guncang Melbourne

Insiden tersebut menambah tekanan pada pemerintahan Presiden AS Joe Biden agar menghentikan kebijakan pengusiran pada imigran gelap.

Hampir 10.000 imigran yang sebagian besar warga Haiti tinggal di sebuah kamp darurat dengan kondisi yang makin memburuk di bawah jembatan Rio Grande.

Jembatan itu menghubungkan Del Rio di Texas dengan Ciudad Acuna di Meksiko. Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah AS telah memindahkan sedikitnya 4.000 orang dari kamp tersebut untuk diproses di pusat-pusat penahanan.

"Sebanyak 523 imigran telah dideportasi ke Haiti dalam empat penerbangan dan upaya repatriasi terus dilanjutkan secara berkala, " kata Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.

Para imigran yang tiba di Haiti  marah karena mereka telah menghabiskan ribuan dolar untuk pergi ke AS dan berharap bisa memulai kehidupan baru yang lebih baik.

Kemarahan bertambah ketika mendengar kabar bahwa pemerintah Haiti menerima deportasi mereka. "Saya marah kepada pemerintah. Kami diberi tahu di tahanan bahwa pemerintah Haiti telah menyetujui pemulangan kami. Mereka semua orang jahat, " kata Yranese Melidor, 45 tahun, yang tiba di Haiti dengan penerbangan sebelumnya.

Kericuhan di bandara itu menegaskan gambaran soal krisis yang memburuk di Haiti, negara termiskin di belahan bumi bagian barat.

Pembunuhan presiden, peningkatan kekerasan oleh geng-geng kriminal, dan hantaman gempa besar telah menyulut berbagai kerusuhan di negara itu dalam beberapa pekan terakhir.

Filippo Grandi, Kepala Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengatakan, pengusiran oleh AS dalam situasi krisis seperti itu bisa melanggar hukum internasional karena membuat orang-orang yang mencari perlindungan terancam jiwanya.

Pemimpin mayoritas Senat AS Chuck Schumer juga mengritik Biden, rekannya di Partai Demokrat, dengan mengatakan pemulangan imigran ke Haiti itu 'menentang akal sehat'.

Dia juga mengungkapkan kemarahan pada perlakuan penjaga perbatasan saat mengendalikan para imigran di kamp Texas.

Wakil Presiden AS Kamala Harris mengatakan situasinya rumit dan bahwa AS perlu melakukan lebih banyak hal untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat Haiti.

Kamp-kamp pengungsi di perbatasan Meksiko semakin banyak. Para imigran dibantu sejumlah organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah, Doctors Without Borders, dan badan pengungsi PBB.

Masyarakat Ciudad Acuna juga membantu para imigran dengan memberi makanan. Surreane Petit, sambil merangkul puteranya yang berusia 3 tahun, mengatakan berada di Meksiko jauh lebih baik daripada di kamp AS. "Di sini masyarakat Meksiko sangat membantu. Di sana (AS) kami lapar. Di bawah jembatan tak ada bantuan, tak ada pertolongan," kata Petit.

Dia mengaku telah tinggal di Chile selama lima tahun dan anaknya lahir di sana. Setelah Chile menerapkan lockdown akibat pandemi, dia pun meninggalkan negara itu karena sulit mendapatkan penghasilan.

Meski berisiko dideportasi ke Haiti, banyak imigran tetap bertahan di kamp Del Rio. Carly Pierre, 40 tahun, mengatakan dirinya berada di sana karena melihat peluang untuk bisa tinggal di AS bersama istri dan dua anak balitanya, setelah tinggal sekian lama di Brazil.

"Ada yang dideportasi dan ada yang berhasil menetap," kata Pierre, yang bajunya terlihat basah setelah menyeberangi sungai untuk membeli es dan soda di sebuah toko di Meksiko. (ant)

(bx/rin/rin/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia