alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 16, 2022

ISIS Tebar Ancaman, Warga di Kabul Diminta Jauhi Bandara 

KABUL, BALI EXPRESS – Amerika Serikat dan sekutunya mendesak orang-orang untuk menjauh dari bandara Kabul karena ada ancaman serangan teror ISIS.

Desakan itu dikeluarkan ketika pasukan negara-negara Barat bergegas untuk mengevakuasi sebanyak mungkin warga Afghanistan sebelum batas waktu 31 Agustus.

Tekanan untuk menyelesaikan evakuasi ribuan orang asing dan warga Afghanistan yang membantu negara-negara Barat selama perang 20 tahun melawan Taliban, telah meningkat karena semua pasukan AS dan sekutu harus meninggalkan bandara minggu depan.

Dalam peringatan yang dikeluarkan pada Rabu malam, Kedutaan Besar AS di Kabul menyarankan warga AS untuk menghindari bepergian ke bandara dan mengatakan mereka yang sudah berada di gerbang Bandara harus segera pergi, karena ada ancaman keamanan yang tidak ditentukan.

Inggris mengeluarkan peringatan serupa, memberi tahu orang-orang di area bandara untuk pindah ke lokasi yang aman 

“Ada ancaman serangan teroris yang sedang berlangsung dan tinggi”, kata pernyataan Kantor Luar Negeri Inggris.

Australia juga mendesak warganya dan mereka yang memiliki visa ke Australia untuk meninggalkan daerah itu, memperingatkan ancaman serangan teroris yang sangat tinggi di bandara.

Peringatan itu datang karena adanya kekacauan di Ibukota, Kabul, dan bandaranya, di mana pengangkutan udara besar-besaran warga negara asing dan keluarga mereka serta beberapa warga Afghanistan telah berlangsung sejak Taliban merebut kota itu pada 15 Agustus.

Sementara pasukan negara-negara Barat di dalam bandara bekerja keras untuk menjaga evakuasi bergerak secepat mungkin.

Sementara kelompok militan Taliban menjaga perimeter di luar tempat ribuan orang berkerumun yang mencoba melarikan diri dari negara itu daripada tinggal di Afghanistan.

“Sangat mudah bagi seorang pembom bunuh diri untuk menyerang koridor yang dipenuhi orang dan peringatan telah dikeluarkan berulang kali,” papar Ahmedullah Rafiqzai, seorang pejabat Afghanistan yang bekerja di Direktorat Penerbangan Sipil di Bandara Kabul mengatakan kepada Reuters.

“Tetapi orang-orang tidak mau pindah, mereka memiliki tekad untuk meninggalkan Afghanistan dan mereka tidak takut mati,” tambahnya.

“Militan Taliban telah berjanji untuk memberikan keamanan di luar bandara, tetapi laporan intelijen tentang ancaman segera dari ISIS tidak dapat diabaikan,” papar seorang diplomat negara NATO di Ibukota Afghanistan.

Gedung Putih mengatakan Presiden Joe Biden diberi pengarahan pada Rabu tentang ancaman dari kelompok militan ISIS-K serta rencana darurat untuk evakuasi.

Biden telah memerintahkan semua pasukan keluar dari Afghanistan pada akhir bulan, untuk mematuhi kesepakatan dengan Taliban, meskipun sekutu Eropa mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengeluarkan orang.

Dalam 11 hari sejak Taliban menyapu Kabul, Amerika Serikat dan sekutunya telah melakukan salah satu evakuasi udara terbesar dalam sejarah, membawa lebih dari 88.000 orang, termasuk 19.000 orang dalam 24 jam terakhir.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan sedikitnya 4.500 warga Amerika dan keluarga mereka telah dievakuasi dari Afghanistan sejak pertengahan Agustus, dan Kementerian Luar Negeri menjangkau sekitar 1.500 orang yang masih tinggal di sana.

Militer AS mengatakan akan mengalihkan fokusnya untuk mengevakuasi pasukannya sendiri dalam dua hari terakhir sebelum batas waktu penarikan 31 Agustus.

Taliban mengatakan pasukan asing harus keluar pada akhir bulan. Mereka telah mendorong warga Afghanistan untuk tetap tinggal, sambil mengatakan mereka yang memiliki izin untuk pergi masih akan diizinkan untuk melakukannya begitu penerbangan komersial dilanjutkan setelah pasukan asing pergi.

Kelompok militan Taliban telah meminta anggota NATO Turki untuk membantu menjaga bandara tetap terbuka setelah pasukan asing pergi.

Turki mengatakan para ahli teknis mungkin tetap membantu mengoperasikan bandara. PBB meninggalkan sekitar 3.000 staf Afghanistan untuk misinya. Sebuah dokumen keamanan PBB yang ditinjau oleh Reuters menggambarkan lusinan insiden ancaman, penjarahan kantor-kantor PBB dan penganiayaan fisik terhadap staf terjadi sejak 10 Agustus. (ant)


KABUL, BALI EXPRESS – Amerika Serikat dan sekutunya mendesak orang-orang untuk menjauh dari bandara Kabul karena ada ancaman serangan teror ISIS.

Desakan itu dikeluarkan ketika pasukan negara-negara Barat bergegas untuk mengevakuasi sebanyak mungkin warga Afghanistan sebelum batas waktu 31 Agustus.

Tekanan untuk menyelesaikan evakuasi ribuan orang asing dan warga Afghanistan yang membantu negara-negara Barat selama perang 20 tahun melawan Taliban, telah meningkat karena semua pasukan AS dan sekutu harus meninggalkan bandara minggu depan.

Dalam peringatan yang dikeluarkan pada Rabu malam, Kedutaan Besar AS di Kabul menyarankan warga AS untuk menghindari bepergian ke bandara dan mengatakan mereka yang sudah berada di gerbang Bandara harus segera pergi, karena ada ancaman keamanan yang tidak ditentukan.

Inggris mengeluarkan peringatan serupa, memberi tahu orang-orang di area bandara untuk pindah ke lokasi yang aman 

“Ada ancaman serangan teroris yang sedang berlangsung dan tinggi”, kata pernyataan Kantor Luar Negeri Inggris.

Australia juga mendesak warganya dan mereka yang memiliki visa ke Australia untuk meninggalkan daerah itu, memperingatkan ancaman serangan teroris yang sangat tinggi di bandara.

Peringatan itu datang karena adanya kekacauan di Ibukota, Kabul, dan bandaranya, di mana pengangkutan udara besar-besaran warga negara asing dan keluarga mereka serta beberapa warga Afghanistan telah berlangsung sejak Taliban merebut kota itu pada 15 Agustus.

Sementara pasukan negara-negara Barat di dalam bandara bekerja keras untuk menjaga evakuasi bergerak secepat mungkin.

Sementara kelompok militan Taliban menjaga perimeter di luar tempat ribuan orang berkerumun yang mencoba melarikan diri dari negara itu daripada tinggal di Afghanistan.

“Sangat mudah bagi seorang pembom bunuh diri untuk menyerang koridor yang dipenuhi orang dan peringatan telah dikeluarkan berulang kali,” papar Ahmedullah Rafiqzai, seorang pejabat Afghanistan yang bekerja di Direktorat Penerbangan Sipil di Bandara Kabul mengatakan kepada Reuters.

“Tetapi orang-orang tidak mau pindah, mereka memiliki tekad untuk meninggalkan Afghanistan dan mereka tidak takut mati,” tambahnya.

“Militan Taliban telah berjanji untuk memberikan keamanan di luar bandara, tetapi laporan intelijen tentang ancaman segera dari ISIS tidak dapat diabaikan,” papar seorang diplomat negara NATO di Ibukota Afghanistan.

Gedung Putih mengatakan Presiden Joe Biden diberi pengarahan pada Rabu tentang ancaman dari kelompok militan ISIS-K serta rencana darurat untuk evakuasi.

Biden telah memerintahkan semua pasukan keluar dari Afghanistan pada akhir bulan, untuk mematuhi kesepakatan dengan Taliban, meskipun sekutu Eropa mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengeluarkan orang.

Dalam 11 hari sejak Taliban menyapu Kabul, Amerika Serikat dan sekutunya telah melakukan salah satu evakuasi udara terbesar dalam sejarah, membawa lebih dari 88.000 orang, termasuk 19.000 orang dalam 24 jam terakhir.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan sedikitnya 4.500 warga Amerika dan keluarga mereka telah dievakuasi dari Afghanistan sejak pertengahan Agustus, dan Kementerian Luar Negeri menjangkau sekitar 1.500 orang yang masih tinggal di sana.

Militer AS mengatakan akan mengalihkan fokusnya untuk mengevakuasi pasukannya sendiri dalam dua hari terakhir sebelum batas waktu penarikan 31 Agustus.

Taliban mengatakan pasukan asing harus keluar pada akhir bulan. Mereka telah mendorong warga Afghanistan untuk tetap tinggal, sambil mengatakan mereka yang memiliki izin untuk pergi masih akan diizinkan untuk melakukannya begitu penerbangan komersial dilanjutkan setelah pasukan asing pergi.

Kelompok militan Taliban telah meminta anggota NATO Turki untuk membantu menjaga bandara tetap terbuka setelah pasukan asing pergi.

Turki mengatakan para ahli teknis mungkin tetap membantu mengoperasikan bandara. PBB meninggalkan sekitar 3.000 staf Afghanistan untuk misinya. Sebuah dokumen keamanan PBB yang ditinjau oleh Reuters menggambarkan lusinan insiden ancaman, penjarahan kantor-kantor PBB dan penganiayaan fisik terhadap staf terjadi sejak 10 Agustus. (ant)


Most Read

Artikel Terbaru

/