alexametrics
30.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Pesawat Militer Italia di Kabul Hampir Tertembak, Belgia Stop Evakuasi

KABUL,BALI EXPRESS -Pasukan Afghanistan melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan kerumunan di dekat bandara Kabul, Kamis  (26/8), dan bukan ke arah pesawat militer Italia yang hendak lepas landas, seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Pernyataan itu disampaikan oleh sumber pemerintah yang mengutip penilaian intelijen. Sebelumnya, sumber pertahanan di Roma menyebutkan pesawat pengangkut C-130 yang membawa hampir 100 warga sipil Afghanistan ditembaki beberapa saat setelah lepas landas dari Kabul. Belum ada pernyataan resmi mengenai insiden tersebut. 

Seorang wartawan Italia mengatakan kepada saluran berita Sky TG 24 bahwa ia berada di dalam pesawat bersama dengan 98 warga sipil Afghanistan, ketika pesawat sepertinya menjadi sasaran tembakan senapan mesin.

“Sang pilot langsung bereaksi dan melakukan manuver untuk menghindari serangan tak lama setelah lepas landas dari Kabul. Terjadi sedikit kepanikan,” katanya.

Italia merupakan salah satu negara yang ingin mengevakuasi ribuan warga asing dan warga Afghanistan, menyusul runtuhnya pemerintahan dukungan Barat di Kabul setelah direbut kelompok pemberontak Taliban.

Berkaitan dengan makin kacaunya situasi di Afghanistan, Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo, Kamis  (26/8) mengatakan, negaranya menghentikan operasi evakuasi Red Kite, setelah sumber-sumber dari Amerika Serikat memberitahu pemerintah tentang ancaman serangan bom bunuh diri di sekitar bandara Kabul.

De Croo saat konferensi pers mengatakan bahwa 1.400 orang lebih telah dievakuasi dari Kabul oleh otoritas Belgia.

Penerbangan terakhir tiba di Islamabad, Pakistan pada Rabu malam. “Pada Rabu siang situasinya memburuk secara drastis, kami mendapat informasi dari otoritas Amerika dan sumber lainnya bahwa serangan bom bunuh diri akan segera terjadi di area bandara dan akses melalui pintu gerbang akan semakin sulit dan akses di sejumlah titik menjadi tidak mungkin,” ungkap De Croo.

Mayoritas dari 1.400 pengungsi adalah warga negara Belgia. Namun, negara berpenduduk 11 juta jiwa itu juga mengevakuasi warga atas nama negara lain seperti Belanda.(ant)


KABUL,BALI EXPRESS -Pasukan Afghanistan melepaskan tembakan ke udara untuk membubarkan kerumunan di dekat bandara Kabul, Kamis  (26/8), dan bukan ke arah pesawat militer Italia yang hendak lepas landas, seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Pernyataan itu disampaikan oleh sumber pemerintah yang mengutip penilaian intelijen. Sebelumnya, sumber pertahanan di Roma menyebutkan pesawat pengangkut C-130 yang membawa hampir 100 warga sipil Afghanistan ditembaki beberapa saat setelah lepas landas dari Kabul. Belum ada pernyataan resmi mengenai insiden tersebut. 

Seorang wartawan Italia mengatakan kepada saluran berita Sky TG 24 bahwa ia berada di dalam pesawat bersama dengan 98 warga sipil Afghanistan, ketika pesawat sepertinya menjadi sasaran tembakan senapan mesin.

“Sang pilot langsung bereaksi dan melakukan manuver untuk menghindari serangan tak lama setelah lepas landas dari Kabul. Terjadi sedikit kepanikan,” katanya.

Italia merupakan salah satu negara yang ingin mengevakuasi ribuan warga asing dan warga Afghanistan, menyusul runtuhnya pemerintahan dukungan Barat di Kabul setelah direbut kelompok pemberontak Taliban.

Berkaitan dengan makin kacaunya situasi di Afghanistan, Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo, Kamis  (26/8) mengatakan, negaranya menghentikan operasi evakuasi Red Kite, setelah sumber-sumber dari Amerika Serikat memberitahu pemerintah tentang ancaman serangan bom bunuh diri di sekitar bandara Kabul.

De Croo saat konferensi pers mengatakan bahwa 1.400 orang lebih telah dievakuasi dari Kabul oleh otoritas Belgia.

Penerbangan terakhir tiba di Islamabad, Pakistan pada Rabu malam. “Pada Rabu siang situasinya memburuk secara drastis, kami mendapat informasi dari otoritas Amerika dan sumber lainnya bahwa serangan bom bunuh diri akan segera terjadi di area bandara dan akses melalui pintu gerbang akan semakin sulit dan akses di sejumlah titik menjadi tidak mungkin,” ungkap De Croo.

Mayoritas dari 1.400 pengungsi adalah warga negara Belgia. Namun, negara berpenduduk 11 juta jiwa itu juga mengevakuasi warga atas nama negara lain seperti Belanda.(ant)


Most Read

Artikel Terbaru

/