26.5 C
Denpasar
Friday, February 3, 2023

Kemenkes Impor Obat Gagal Ginjal Akut, Harga 1 Vial Rp 16 Juta

JAKARTA, BALI EXPRESS- Pemerintah menyatakan telah menemukan obat untuk penyakit gagal ginjal akut pada anak.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan akan mendatangkan antidotum (Fomepizole) dari Singapura sebanyak 200 vial untuk obat pasien gangguan ginjal akut progresif atipikal (acute kidney injury).

Budi mengaku telah menghubungi Menteri Kesehatan Singapura dan Australia tentang obat ini. “Saya sudah kontak teman saya Menteri Kesehatan Singapura dan Australia. Kami mau bawa 200 dulu, karena satu vial bisa buat satu orang. Ada beberapa kali injeksi, tapi bisa cukup satu vial,” kata Budi Gunadi di Gedung Adhyatama Kemenkes RI, Jumat (21/10).

Sebelumnya, pasien gangguan ginjal akut progresif atipikal di RSCM telah menggunakan obat ini sejak 18 Oktober lalu dan memiliki 10 vial yang digunakan untuk 11 pasien.

Baca Juga :  Kemenkes Impor 200 Vial Obat Gagal Ginjal Akut, Harga 1 Vial Rp 16 Juta

Hasilnya, Budi menjelaskan, kondisi pasien anak di RSCM itu sebagian membaik dan sebagian stabil. Dari perkembangan inilah, pihak pemerintah ingin mendatangkan antidotum bermerek Fomepizole lagi ke tanah air.

Budi mengatakan, harga satu vial Fomepizole dari Singapura itu mencapai Rp 16 juta dan akan ditanggung pihak Kementerian Kesehatan. “Untuk harganya, satu vialnya Rp16 juta. Itu untuk sementara kita yang nanggung,” tuturnya.

Hingga per 21 Oktober 2022,
Kemenkes mengumumkan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal di Indonesia telah mencapai 241 kasus dengan persentase angka kematian 55 persen atau 133 dinyatakan meninggal dunia.

Kemenkes menyatakan, penyebab gangguan ginjal akut ini diduga disebabkan oleh obat sirup yang mengandung polietelin glikol yang berfungsi sebagai pelarut tambahan.

Baca Juga :  3 Cara Ampuh Hilangkan Bekas Cupang di Leher

Sebenarnya, kata Budi, polietelin
glikol bukan bahan berbahaya atau beracun. Namun, bila penggunaannya tidak dalam kualitas baik, maka akan menimbulkan cemaran berupa senyawa kimia berbahaya seperti etilen glikol (EG) dan dietlien glikol (DEG).

“Untuk melarutkan obat sirup, dia kasih pelarut tambahan polietelin glikol. Enggak beracun, tapi kalau membuatnya tidak baik, ini jadi cemaran. Nah cemaran ini yang mengandung senyawa berbahaya seperti EG dan DEG,” kata Budi.

 






Reporter: Wiwin Meliana

JAKARTA, BALI EXPRESS- Pemerintah menyatakan telah menemukan obat untuk penyakit gagal ginjal akut pada anak.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan akan mendatangkan antidotum (Fomepizole) dari Singapura sebanyak 200 vial untuk obat pasien gangguan ginjal akut progresif atipikal (acute kidney injury).

Budi mengaku telah menghubungi Menteri Kesehatan Singapura dan Australia tentang obat ini. “Saya sudah kontak teman saya Menteri Kesehatan Singapura dan Australia. Kami mau bawa 200 dulu, karena satu vial bisa buat satu orang. Ada beberapa kali injeksi, tapi bisa cukup satu vial,” kata Budi Gunadi di Gedung Adhyatama Kemenkes RI, Jumat (21/10).

Sebelumnya, pasien gangguan ginjal akut progresif atipikal di RSCM telah menggunakan obat ini sejak 18 Oktober lalu dan memiliki 10 vial yang digunakan untuk 11 pasien.

Baca Juga :  Bikin Iri, Kim Keon Hee, Ibu Negara Cantik dan Muda di Usia 50 Tahun

Hasilnya, Budi menjelaskan, kondisi pasien anak di RSCM itu sebagian membaik dan sebagian stabil. Dari perkembangan inilah, pihak pemerintah ingin mendatangkan antidotum bermerek Fomepizole lagi ke tanah air.

Budi mengatakan, harga satu vial Fomepizole dari Singapura itu mencapai Rp 16 juta dan akan ditanggung pihak Kementerian Kesehatan. “Untuk harganya, satu vialnya Rp16 juta. Itu untuk sementara kita yang nanggung,” tuturnya.

Hingga per 21 Oktober 2022,
Kemenkes mengumumkan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal di Indonesia telah mencapai 241 kasus dengan persentase angka kematian 55 persen atau 133 dinyatakan meninggal dunia.

Kemenkes menyatakan, penyebab gangguan ginjal akut ini diduga disebabkan oleh obat sirup yang mengandung polietelin glikol yang berfungsi sebagai pelarut tambahan.

Baca Juga :  3 Cara Ampuh Hilangkan Bekas Cupang di Leher

Sebenarnya, kata Budi, polietelin
glikol bukan bahan berbahaya atau beracun. Namun, bila penggunaannya tidak dalam kualitas baik, maka akan menimbulkan cemaran berupa senyawa kimia berbahaya seperti etilen glikol (EG) dan dietlien glikol (DEG).

“Untuk melarutkan obat sirup, dia kasih pelarut tambahan polietelin glikol. Enggak beracun, tapi kalau membuatnya tidak baik, ini jadi cemaran. Nah cemaran ini yang mengandung senyawa berbahaya seperti EG dan DEG,” kata Budi.

 






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru