alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, May 20, 2022

Wayan Sudirta Biayai Kuliah Mahasiswi ULM Korban Asusila Oknum Polisi

BANJARMASIN, BALI EXPRESS –
Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI I Wayan Sudirta menjamin biaya kuliah mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berinisial VDPS yang jadi korban asusila oknum anggota Polri yang kini telah dipecat dari Polda Kalimantan Selatan.

“Banyak simpati yang diberikan oleh Anggota Komisi III DPR, bahkan Pak I Wayan Sudirta dari Bali menjamin kuliah korban sampai S-3 (doktor) berapa pun biaya yang diperlukan,” ujar Rektor ULM Prof Sutarto Hadi, di Banjarmasin, Kamis (3/2).

Sutarto mengungkapkan, dalam pertemuan di Polda Kalimantan Selatan (Kalsel) itu, I Wayan Sudirta yang merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan menyebut korban adalah pahlawan karena keberaniannya mengungkap kasus ini ke publik.

“Karena kasus yang menimpa korban ini telah membuka kesadaran kita semua. Jangan-jangan ini fenomena gunung es yang tidak diketahui oleh publik, padahal banyak terjadi,” ujarnya.

Namun dengan adanya pengungkapan kasus yang dialami VDP, diharapkan akan timbul kesadaran setiap korban pelecehan atau kekerasan seksual untuk berani mengungkapnya ke publik demi keadilan korban

Atas nama sivitas akademika ULM, Sutarto pun menyampaikan terima kasih dan penghargaan tinggi atas perhatian yang diberikan Komisi III DPR, sehingga memberikan atensi khusus kepada aparat penegak hukum, termasuk memperhatikan masa depan korban. “Komisi III telah memberikan penekanan pentingnya agar persoalan ini tidak terulang lagi di kemudian hari,” ujar Sutarto.

Kemudian terhadap penjelasan Kapolda Kalsel Irjen Pol Rikwanto dan juga pihak kejaksaan dan pengadilan atas kasus yang menimpa korban hingga proses hukumnya selesai dengan pelaku divonis pidana penjara 2 tahun 6 bulan dan pemecatan dari dinas Polri, Sutarto juga mengapresiasi.

“Mahasiswi kami memohon keadilan atas proses persidangan terhadap kasus yang menimpa dirinya. Komisi III berjanji menyampaikan hasil pertemuan hari ini termasuk cerita langsung dari korban kepada Kapolri dan Jaksa Agung,” kata dia, didampingi Dekan Fakultas Hukum ULM Prof Dr Abdul Halim Barkatullah.

Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan resmi memecat oknum polisi pelaku asusila Bripka BT, ditandai dengan pelepasan baju seragam dinas dalam Upacara pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) yang dipimpin Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Sabana A. Martosumito di halaman Mapolresta Banjarmasin, Sabtu (29/1) lalu.

Oknum polisi tersebut melakukan perbuatan asusila terhadap seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Ditegaskan Kombes Pol Sabana A. Martosumito, kewajiban Polri sudah dituntaskan dalam menindak tegas oknum anggotanya yang melakukan pelanggaran berat tersebut.

Sejak peristiwa asusila terjadi, kata dia, pelaku langsung diproses secara internal di Bidang Propam Polda Kalsel hingga menjalani sidang kode etik Polri pada 2 Desember 2021 dengan rekomendasi PTDH.

Setelah itu pelaku mengajukan banding dan hasil sidang banding Kamis (27/1) menolak banding pelaku dan menguatkan putusan PTDH hingga terbit keputusan Kapolda Kalimantan Selatan Nomor : Kep/23/I/2022 tanggal 28 Januari 2022 tentang PTDH dari dinas Polri atas nama Bripka BT.

“Perbuatan pelaku sangat kami kutuk dan tidak bisa ditolerir karena tidak sejalan dengan sosok Polri yang Presisi sebagaimana program Kapolri,” tegas Sabana.

Selain sanksi internal berupa pemecatan, pelaku juga sudah divonis pidana 2 tahun 6 bulan pada 11 Januari 2022 oleh Pengadilan Negeri Banjarmasin. Terdakwa divonis bersalah melakukan tindak pidana asusila seperti yang dimaksud dalam Pasal 286 KUHP tentang persetubuhan dengan perempuan yang bukan istrinya sedang diketahuinya perempuan itu pingsan tidak berdaya.

Korbannya adalah mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berinisia VDP yang saat itu merupakan peserta program magang di Polresta Banjarmasin.

VDP menumpahkan curhatannya di media sosial tentang kasus pemerkosaan yang menimpanya. Curhatan itu kemudian viral dan menjadi perhatian publik Banjarmasin, karena pelakunya adalah oknum anggota polisi yang bertugas di Satuan Reserse Narkoba Polresta Banjarmasin.

VDP kenal dengan pelaku bermula saat dia melaksanakan magang di Satres Narkoba Polresta Banjarmasin pada 4 Juli hingga 14 Agustus 2021. Usai melaksanakan magang, pelaku sering menghubungi korban dan mengajaknya jalan-jalan. Ajakan sering ditolak, namun
korban akhirnya mau diajak jalan oleh pelaku menggunakan mobil.

Pelaku ternyata sudah merencanakan akan memperkosa korban, karena minuman energi yang dibelinya di supermarket telah dicampur dengan obat-obatan.

Korban awalnya sejatinya curiga, tetapi akhirnya terpaksa meminum minuman itu hingga kemudian tak berapa lama korban lemas dan tak berdaya.

Ketika korban lemas, pelaku membawanya ke sebuah hotel. Di situlah korban akhirnya diperkosa sebanyak dua kali dalam keadaan tidak berdaya karena kondisinya lemas.

Seiring berjalannya waktu, proses hukum terhadap pelaku akhirnya berjalan setelah korban melayangkan laporan. Sampai pada akhirnya, vonis pengadilan hanya menjatuhkan hukuman 2 tahun 6 bulan penjara terhadap pelaku.

Mengetahui vonis pengadilan sangat ringan, pihak kampus langsung bereaksi dengan mendatangi Kantor Kejaksaan Tinggi Kalsel dan membawa Tim Advokasi VDP. Kedatangan mereka untuk mempertanyakan kenapa jaksa tidak menuntut hukuman yang berat terhadap terdakwa. Salah satu anggota Tim Advokasi VDPS, Abdul Halim Berkatullah menyesalkan vonis ringan tersebut.

Saat upacara pemecatan itu, juga dihadiri perwakilan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum ULM yang sebelumnya menggelar aksi solidaritas di depan Kejati Kalsel, Kamis (27/1). ant

 


BANJARMASIN, BALI EXPRESS –
Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI I Wayan Sudirta menjamin biaya kuliah mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berinisial VDPS yang jadi korban asusila oknum anggota Polri yang kini telah dipecat dari Polda Kalimantan Selatan.

“Banyak simpati yang diberikan oleh Anggota Komisi III DPR, bahkan Pak I Wayan Sudirta dari Bali menjamin kuliah korban sampai S-3 (doktor) berapa pun biaya yang diperlukan,” ujar Rektor ULM Prof Sutarto Hadi, di Banjarmasin, Kamis (3/2).

Sutarto mengungkapkan, dalam pertemuan di Polda Kalimantan Selatan (Kalsel) itu, I Wayan Sudirta yang merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan menyebut korban adalah pahlawan karena keberaniannya mengungkap kasus ini ke publik.

“Karena kasus yang menimpa korban ini telah membuka kesadaran kita semua. Jangan-jangan ini fenomena gunung es yang tidak diketahui oleh publik, padahal banyak terjadi,” ujarnya.

Namun dengan adanya pengungkapan kasus yang dialami VDP, diharapkan akan timbul kesadaran setiap korban pelecehan atau kekerasan seksual untuk berani mengungkapnya ke publik demi keadilan korban

Atas nama sivitas akademika ULM, Sutarto pun menyampaikan terima kasih dan penghargaan tinggi atas perhatian yang diberikan Komisi III DPR, sehingga memberikan atensi khusus kepada aparat penegak hukum, termasuk memperhatikan masa depan korban. “Komisi III telah memberikan penekanan pentingnya agar persoalan ini tidak terulang lagi di kemudian hari,” ujar Sutarto.

Kemudian terhadap penjelasan Kapolda Kalsel Irjen Pol Rikwanto dan juga pihak kejaksaan dan pengadilan atas kasus yang menimpa korban hingga proses hukumnya selesai dengan pelaku divonis pidana penjara 2 tahun 6 bulan dan pemecatan dari dinas Polri, Sutarto juga mengapresiasi.

“Mahasiswi kami memohon keadilan atas proses persidangan terhadap kasus yang menimpa dirinya. Komisi III berjanji menyampaikan hasil pertemuan hari ini termasuk cerita langsung dari korban kepada Kapolri dan Jaksa Agung,” kata dia, didampingi Dekan Fakultas Hukum ULM Prof Dr Abdul Halim Barkatullah.

Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan resmi memecat oknum polisi pelaku asusila Bripka BT, ditandai dengan pelepasan baju seragam dinas dalam Upacara pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) yang dipimpin Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Sabana A. Martosumito di halaman Mapolresta Banjarmasin, Sabtu (29/1) lalu.

Oknum polisi tersebut melakukan perbuatan asusila terhadap seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Ditegaskan Kombes Pol Sabana A. Martosumito, kewajiban Polri sudah dituntaskan dalam menindak tegas oknum anggotanya yang melakukan pelanggaran berat tersebut.

Sejak peristiwa asusila terjadi, kata dia, pelaku langsung diproses secara internal di Bidang Propam Polda Kalsel hingga menjalani sidang kode etik Polri pada 2 Desember 2021 dengan rekomendasi PTDH.

Setelah itu pelaku mengajukan banding dan hasil sidang banding Kamis (27/1) menolak banding pelaku dan menguatkan putusan PTDH hingga terbit keputusan Kapolda Kalimantan Selatan Nomor : Kep/23/I/2022 tanggal 28 Januari 2022 tentang PTDH dari dinas Polri atas nama Bripka BT.

“Perbuatan pelaku sangat kami kutuk dan tidak bisa ditolerir karena tidak sejalan dengan sosok Polri yang Presisi sebagaimana program Kapolri,” tegas Sabana.

Selain sanksi internal berupa pemecatan, pelaku juga sudah divonis pidana 2 tahun 6 bulan pada 11 Januari 2022 oleh Pengadilan Negeri Banjarmasin. Terdakwa divonis bersalah melakukan tindak pidana asusila seperti yang dimaksud dalam Pasal 286 KUHP tentang persetubuhan dengan perempuan yang bukan istrinya sedang diketahuinya perempuan itu pingsan tidak berdaya.

Korbannya adalah mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berinisia VDP yang saat itu merupakan peserta program magang di Polresta Banjarmasin.

VDP menumpahkan curhatannya di media sosial tentang kasus pemerkosaan yang menimpanya. Curhatan itu kemudian viral dan menjadi perhatian publik Banjarmasin, karena pelakunya adalah oknum anggota polisi yang bertugas di Satuan Reserse Narkoba Polresta Banjarmasin.

VDP kenal dengan pelaku bermula saat dia melaksanakan magang di Satres Narkoba Polresta Banjarmasin pada 4 Juli hingga 14 Agustus 2021. Usai melaksanakan magang, pelaku sering menghubungi korban dan mengajaknya jalan-jalan. Ajakan sering ditolak, namun
korban akhirnya mau diajak jalan oleh pelaku menggunakan mobil.

Pelaku ternyata sudah merencanakan akan memperkosa korban, karena minuman energi yang dibelinya di supermarket telah dicampur dengan obat-obatan.

Korban awalnya sejatinya curiga, tetapi akhirnya terpaksa meminum minuman itu hingga kemudian tak berapa lama korban lemas dan tak berdaya.

Ketika korban lemas, pelaku membawanya ke sebuah hotel. Di situlah korban akhirnya diperkosa sebanyak dua kali dalam keadaan tidak berdaya karena kondisinya lemas.

Seiring berjalannya waktu, proses hukum terhadap pelaku akhirnya berjalan setelah korban melayangkan laporan. Sampai pada akhirnya, vonis pengadilan hanya menjatuhkan hukuman 2 tahun 6 bulan penjara terhadap pelaku.

Mengetahui vonis pengadilan sangat ringan, pihak kampus langsung bereaksi dengan mendatangi Kantor Kejaksaan Tinggi Kalsel dan membawa Tim Advokasi VDP. Kedatangan mereka untuk mempertanyakan kenapa jaksa tidak menuntut hukuman yang berat terhadap terdakwa. Salah satu anggota Tim Advokasi VDPS, Abdul Halim Berkatullah menyesalkan vonis ringan tersebut.

Saat upacara pemecatan itu, juga dihadiri perwakilan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum ULM yang sebelumnya menggelar aksi solidaritas di depan Kejati Kalsel, Kamis (27/1). ant

 


Most Read

Artikel Terbaru

/