alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Oleh: Aulia Hawa*

Investasi di Indonesia Memiliki Prospek Cerah

Indonesia diyakini memiliki prospek investasi yang cerah. Keunggulan tersebut tercermin dari kepastian hukum melalui Undang-Undang Cipta Kerja, adanya insentif bagi pelaku usaha, hingga jaminan pemerintah kepada investor. Bahkan, sejumlah kalangan meyakini Indonesia akan kuat dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi yang saat ini mulai melanda.

Kondisi perekonomian Indonesia memang agak tergoncang karena efek pandemi, dan krisis terjadi secara global. Namun pemerintah tidak tinggal diam atau menyerah dengan cara menambah hutang ke IMF (International Monetary Fund). Investasi menjadi jurus andalan untuk menyelamatkan negeri ini, dan pemerintah berusaha keras agar para penanam modal asing percaya dan mau berbisnis di Indonesia.

Untuk meyakinkan para penanam modal asing maka dilakukan berbagai pendekatan. Salah satunya adalah dengan memaparkan bahwa investasi di Indonesia memiliki prospek yang sangat bagus. Yuliot Tanjung, Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) menyatakan bahwa pemerintah berupaya meningkatkan investasi di Indonesia.

Yuliot melanjutkan, strategi pertama untuk menaikkan investasi di Indonesia adalah dengan kebijakan pengembangan investasi hijau. Kedua dengan transformasi ekonomi dan industri hilirisasi sumber daya alam (SDA). Sedangkan yang terakhir adalah dengan kolaborasi pengusaha usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) dengan penanam modal asing dan lokal.

Baca Juga :  Tren Seserahan Saham, Ini Kata Kepala BEI Bali

Dalam artian, ketiga strategi ini amat mumpuni untuk menaikkan tingkat investasi di Indonesia. Dengan investasi hijau maka akan banyak pengusaha asing yang tertarik, karena tren bisnis saat ini bukan industri besar, tetapi investasi hijau alias yang selaras dengan alam. Makin banyak masyarakat internasional yang sadar akan pemanasan global dan beralih ke industri hijau.

Investasi hijau adalah bisnis kerja sama yang ramah bumi dan tidak menambah emisi udara maupun membolongi ozon. Salah satu contohnya adalah industri mobil listrik. Di Indonesia fokusnya bukan ke pabrik mobil listrik, tetapi pada baterainya, karena bisa menyuplai ke berbagai produsen kendaraan listrik di dunia. Sudah dibangun pabrik baterai mobil listrik di Batang, Jawa Tengah dan makin berkembang berkat investasi.

Hilirisasi sumber daya alam adalah peningkatan nilai tambah SDA, dan harganya bisa naik drastis jika diolah kembali. Contoh dari potensi investasi di bidang ini adalah industri pengolahan rumput laut. Rumput laut diolah menjadi nori (lembaran rumput laut) dan diekspor ke Jepang dan negara Asia Timur lainnya.

Para investor juga tertarik karena sumber daya alam di Indonesia melimpah, tak hanya yang ada di daratan tetapi juga di lautan. Masih banyak SDA lain seperti kopi, kelapa, yang bisa diolah dan diekspor. Hasil kerja sama penanaman modal ini akan saling menguntungkan dan mendatangkan keuntungan, termasuk bagi masyarakat.

Baca Juga :  Publik Mendukung UU Ciptaker Meningkatkan Investasi

Dengan contoh-contoh dari industri di atas maka sudah jelas investasi di Indonesia menguntungkan. Selain itu, hasil produksinya tak hanya diekspor, tetapi juga dipasarkan di dalam negeri. Para investor juga yakini karena Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan.

Ketika pemerintah menggencarkan investasi maka akan optimis meraih target realisasi investasi tahun 2022 yang sebesar 1.250 Triliun rupiah. Target ini memang besar, tetapi BKPM optimis akan mencapainya. Berkaca dari target realisasi investasi tahun 2021 yang awalnya dipatok 900 Triliun rupiah dan nominal yang dicapai adalah  901 triliun rupiah.

Pemerintah terus berupa maksimal untuk meningkatkan realisasi investasi sesuai target, baik dari segi promosi promosi, regulasi, dan pemanfaatan sumber daya alam. Berbagai fasilitas ini merupakan keunggulan yang mungkin tidak ada apabila dibandingkan dengan negara lain, sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

 

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute


Indonesia diyakini memiliki prospek investasi yang cerah. Keunggulan tersebut tercermin dari kepastian hukum melalui Undang-Undang Cipta Kerja, adanya insentif bagi pelaku usaha, hingga jaminan pemerintah kepada investor. Bahkan, sejumlah kalangan meyakini Indonesia akan kuat dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi yang saat ini mulai melanda.

Kondisi perekonomian Indonesia memang agak tergoncang karena efek pandemi, dan krisis terjadi secara global. Namun pemerintah tidak tinggal diam atau menyerah dengan cara menambah hutang ke IMF (International Monetary Fund). Investasi menjadi jurus andalan untuk menyelamatkan negeri ini, dan pemerintah berusaha keras agar para penanam modal asing percaya dan mau berbisnis di Indonesia.

Untuk meyakinkan para penanam modal asing maka dilakukan berbagai pendekatan. Salah satunya adalah dengan memaparkan bahwa investasi di Indonesia memiliki prospek yang sangat bagus. Yuliot Tanjung, Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) menyatakan bahwa pemerintah berupaya meningkatkan investasi di Indonesia.

Yuliot melanjutkan, strategi pertama untuk menaikkan investasi di Indonesia adalah dengan kebijakan pengembangan investasi hijau. Kedua dengan transformasi ekonomi dan industri hilirisasi sumber daya alam (SDA). Sedangkan yang terakhir adalah dengan kolaborasi pengusaha usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) dengan penanam modal asing dan lokal.

Baca Juga :  Pembangunan Infrastruktur Mendongkrak Perekonomian Rakyat Papua

Dalam artian, ketiga strategi ini amat mumpuni untuk menaikkan tingkat investasi di Indonesia. Dengan investasi hijau maka akan banyak pengusaha asing yang tertarik, karena tren bisnis saat ini bukan industri besar, tetapi investasi hijau alias yang selaras dengan alam. Makin banyak masyarakat internasional yang sadar akan pemanasan global dan beralih ke industri hijau.

Investasi hijau adalah bisnis kerja sama yang ramah bumi dan tidak menambah emisi udara maupun membolongi ozon. Salah satu contohnya adalah industri mobil listrik. Di Indonesia fokusnya bukan ke pabrik mobil listrik, tetapi pada baterainya, karena bisa menyuplai ke berbagai produsen kendaraan listrik di dunia. Sudah dibangun pabrik baterai mobil listrik di Batang, Jawa Tengah dan makin berkembang berkat investasi.

Hilirisasi sumber daya alam adalah peningkatan nilai tambah SDA, dan harganya bisa naik drastis jika diolah kembali. Contoh dari potensi investasi di bidang ini adalah industri pengolahan rumput laut. Rumput laut diolah menjadi nori (lembaran rumput laut) dan diekspor ke Jepang dan negara Asia Timur lainnya.

Para investor juga tertarik karena sumber daya alam di Indonesia melimpah, tak hanya yang ada di daratan tetapi juga di lautan. Masih banyak SDA lain seperti kopi, kelapa, yang bisa diolah dan diekspor. Hasil kerja sama penanaman modal ini akan saling menguntungkan dan mendatangkan keuntungan, termasuk bagi masyarakat.

Baca Juga :  Mengapresiasi Perluasan Investasi Asing di Indonesia

Dengan contoh-contoh dari industri di atas maka sudah jelas investasi di Indonesia menguntungkan. Selain itu, hasil produksinya tak hanya diekspor, tetapi juga dipasarkan di dalam negeri. Para investor juga yakini karena Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan.

Ketika pemerintah menggencarkan investasi maka akan optimis meraih target realisasi investasi tahun 2022 yang sebesar 1.250 Triliun rupiah. Target ini memang besar, tetapi BKPM optimis akan mencapainya. Berkaca dari target realisasi investasi tahun 2021 yang awalnya dipatok 900 Triliun rupiah dan nominal yang dicapai adalah  901 triliun rupiah.

Pemerintah terus berupa maksimal untuk meningkatkan realisasi investasi sesuai target, baik dari segi promosi promosi, regulasi, dan pemanfaatan sumber daya alam. Berbagai fasilitas ini merupakan keunggulan yang mungkin tidak ada apabila dibandingkan dengan negara lain, sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

 

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute


Most Read

Artikel Terbaru

/