alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Sekolah Tanpa Kepala Sekolah?

MANUSIA tanpa kepala, ya ..pasti tidak bernyawa alias sudah meninggal. Bagaimana jika sekolah tanpa kepala (sekolah)? Anda yang sudah sering mendengar dan berhadapan langsung dengan mereka bisa dibayangkan sendiri.

Perumpamaan ini bukan mengada-ada alias hoax, melainkan fakta. Peristiwanya terdapat di Kabupaten Bangli. Di mana disebutkan Kadisdikpora setempat, Nengah Sukarta, menyebut kini terdapat 48 sekolah tak punya kepala sekolah (Kasek) definitif. Yang namanya kata ‘definitif’ pasti megandung unsur kepastian atau sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dari 48 kasek yang dikatakan tidak definitif itu, diinfokan kepada wartawan, 38 kasek SD dan sisanya Kasek SMP. Sekolah yang belum memiliki kasek definitif diisi dengan kasek Plt. atau pelaksana tugas. Mestinya, sipil yang dalam banyak hal menganut sistem fleksibelitas, bisa merancang sejak awal agar jabatan semacam kepala sekolah tidak kosong.

Hal itu bisa dilihat dari pangkat, golongan, ataupun masa kerja guru pada masing-masing sekolah. Misalnya, jika seorang kasek sudah berumur 58 atau 59 tahun (usia 60 tahun sudah pernsiun), mestinya segera disiapkan calon-calon penggantinya. Entah dari kalangan dalam (intern sekolah) maupun dari kalangan eksternal atau diambilkan dari sekolah lain.

Jika kondisinya sudah seperti yang terjadi di Bangli, banyak Kasek yang dijabat Plt, hal itu mengindikasikan atasan mereka kurang cermat dalam menjalankan manajemen pendidikan. Justru yang semacam itu, manajemen lelet, sering mendapat sorotan dari Presiden Jokowi yang memiliki prinsip ‘kerja-kerja-kerja’ jangan lama menunda-nunda waktu.

Mengutip sumber informasi yang layak dipercaya (id.m.wikipedia.org), bahwa seorang kepala sekolah (Kasek) memiliki tugas sebagai pemimpin yang mampu mengatur situasi, mengendalikan kegiatan kelompok organisasi atau lembaga, dan menjadi juru bicara kelompok tersebut. Dalam menjalankan tugas atau fungsinya, terutama untuk memberdayakan masyarakat dan lingkungan sekitar, maka Kasek dituntut untuk berperan ganda, baik sebagai catalyst, solutions givers, process helpers, dan resource linker.

Baca Juga :  Pembelajaran Tatap Mukai mulai Awal April, SE Segera Diterbitkan

Saking banyaknya tugas dan fungsi Kasek, sampai-sampai ada yang menyebut bahwa Kasek itu adalah subjek penentu dan menjadi orang nomor satu di sekolah bersangkutan. Itu pulalah sebabnya Gubernur Bali Wayan Koster ‘berani’ meningkatkan tunjangan Kasek berlipat-lipat dari yang diterima sebelumnya. Seorang Kasek ada yang menerima tunjangan sebesar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.

Fungsi dan peran ganda yang ‘dimainkan’ para kasek yang sejatinya adalah guru mendapat tugas tambahan dari yang semestinya, patut diapresiasi dan diacungi jempol. Apresiasi dan acungan jempol dimaksudkan karena tugas yang diembannya tidak ringan, dan hal itu mampu dikerjakannya dengan baik (pada umumnya).

Kasek sebagai seorang katalisator (catalyst) diharapkan mampu meyakinkan orang lain tentang perlunya perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Kasek agar mampu sebagai orang yang progresif atau menganut filsafat progresevisme. Segala tindak tanduknya senantiasa berorientasi kepada kemajuan atau progres. Tak hanya itu, seorang kasek harus bisa memberikan solusi tatkala dihadapkan pada persoalan yang rumit yang terjadi pada lingkup persekolahan. Tak jarang terjadi antar guru yang berselisih paham yang nyaris adu mulut dan adu urat leher, bahkan adu fisik.

Pada sebuah SMA di Singaraja pernah terjadi kasus saling lapor ke pihak kepolisian antara siswa dengan guru, gara-gara persoalan sepele. Nah, dalam situasi seperti itu seorang Kasek harus mampu memberikan solusi pada kasus lain, agar tidak sampai kasusnya melebar saling lapor ke pihak berwajib. Kepala sekolah juga diharapkan mampu membantu kelancaran proses perubahan, khususnya dalam menyelesaikan masalah dan membina hubungan antara pihak-pihak yang terkait (proces helpers).

Baca Juga :  Indonesia Bukan hanya Milik Satu Golongan

Begitu pula, ia harus piawai menjalin hubungan dengan sumber-sumber potensial terutama yang menyangkut sumberdaya manusia, sumber dana, dan sumber-sumber yang lain (resource linkers). Menyangkut soal fungsi Kasek, satu di antaranya harus dapat memperlakukan sama terhadap orang-orang yang menjadi bawahannya, sehingga tidak terjadi diskriminasi. Sebaliknya pada kondisi seperti itu, dapat diciptakan semangat kebersamaan di antara mereka; guru, siswa, dan staf, termasuk juga pihak lain seperti pegawai administrasi, tukang kebun, dan para petugas kantin sekolah. 

Melihat kalimat pendek ‘memperlakuan sama’ terhadap bawahan, penulis menjadi teringat dengan kearifan lokal yang dinamakan Catur Pariksa. Sebut saja empat tuntunan bagi seorang pemimpin (termasuk kepala sekolah) dalam memperlakukan anak-buah.

Keempat tuntunan itu adalah Sama, Beda , Dana, Danda. Istilah Sama (baca same) perlakuan sama seorang pemimpin terhadap bawahan dalam arti tidak boleh pilih kasih. Kemudian Beda (baca, bede) maksudnya memberikan perlakuan berbeda terhadap bawahan dalam hal prestasi yang ditunjukkan berbeda pula oleh bawahan tersebut. Dana (baca, dane), seorang Kasek diupayakan mampu menggalang dan menghimpun dana sebanyak mungkin melalui orang tua siswa dan pihak-pihak lain yang tidak mengikat.

Terakhir Dande, ini semacam hukuman (puhnishment) yang diberikan seorang Kasek bagi bawahan yang melanggar dan melabrak aturan sekolah maupun aturan lain. Dengan mengingat tugas dan fungsi Kasek yang demikian berat (di Bali diistilahkan negen memeri) sangat elok kiranya jika sejak dini perlu disiapkan siapa-siapa yang bakal menyandang predikat kepala sekolah tersebut, dan jangan sampai ada istilah Pe-el-te (pelaksana tugas). (*) 

*) Penulis adalah Dosen Undiksha tahun 1976-2016

 

 


MANUSIA tanpa kepala, ya ..pasti tidak bernyawa alias sudah meninggal. Bagaimana jika sekolah tanpa kepala (sekolah)? Anda yang sudah sering mendengar dan berhadapan langsung dengan mereka bisa dibayangkan sendiri.

Perumpamaan ini bukan mengada-ada alias hoax, melainkan fakta. Peristiwanya terdapat di Kabupaten Bangli. Di mana disebutkan Kadisdikpora setempat, Nengah Sukarta, menyebut kini terdapat 48 sekolah tak punya kepala sekolah (Kasek) definitif. Yang namanya kata ‘definitif’ pasti megandung unsur kepastian atau sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dari 48 kasek yang dikatakan tidak definitif itu, diinfokan kepada wartawan, 38 kasek SD dan sisanya Kasek SMP. Sekolah yang belum memiliki kasek definitif diisi dengan kasek Plt. atau pelaksana tugas. Mestinya, sipil yang dalam banyak hal menganut sistem fleksibelitas, bisa merancang sejak awal agar jabatan semacam kepala sekolah tidak kosong.

Hal itu bisa dilihat dari pangkat, golongan, ataupun masa kerja guru pada masing-masing sekolah. Misalnya, jika seorang kasek sudah berumur 58 atau 59 tahun (usia 60 tahun sudah pernsiun), mestinya segera disiapkan calon-calon penggantinya. Entah dari kalangan dalam (intern sekolah) maupun dari kalangan eksternal atau diambilkan dari sekolah lain.

Jika kondisinya sudah seperti yang terjadi di Bangli, banyak Kasek yang dijabat Plt, hal itu mengindikasikan atasan mereka kurang cermat dalam menjalankan manajemen pendidikan. Justru yang semacam itu, manajemen lelet, sering mendapat sorotan dari Presiden Jokowi yang memiliki prinsip ‘kerja-kerja-kerja’ jangan lama menunda-nunda waktu.

Mengutip sumber informasi yang layak dipercaya (id.m.wikipedia.org), bahwa seorang kepala sekolah (Kasek) memiliki tugas sebagai pemimpin yang mampu mengatur situasi, mengendalikan kegiatan kelompok organisasi atau lembaga, dan menjadi juru bicara kelompok tersebut. Dalam menjalankan tugas atau fungsinya, terutama untuk memberdayakan masyarakat dan lingkungan sekitar, maka Kasek dituntut untuk berperan ganda, baik sebagai catalyst, solutions givers, process helpers, dan resource linker.

Baca Juga :  Tiap Kamis, Siswa PAUD Kartini Maplalianan

Saking banyaknya tugas dan fungsi Kasek, sampai-sampai ada yang menyebut bahwa Kasek itu adalah subjek penentu dan menjadi orang nomor satu di sekolah bersangkutan. Itu pulalah sebabnya Gubernur Bali Wayan Koster ‘berani’ meningkatkan tunjangan Kasek berlipat-lipat dari yang diterima sebelumnya. Seorang Kasek ada yang menerima tunjangan sebesar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.

Fungsi dan peran ganda yang ‘dimainkan’ para kasek yang sejatinya adalah guru mendapat tugas tambahan dari yang semestinya, patut diapresiasi dan diacungi jempol. Apresiasi dan acungan jempol dimaksudkan karena tugas yang diembannya tidak ringan, dan hal itu mampu dikerjakannya dengan baik (pada umumnya).

Kasek sebagai seorang katalisator (catalyst) diharapkan mampu meyakinkan orang lain tentang perlunya perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Kasek agar mampu sebagai orang yang progresif atau menganut filsafat progresevisme. Segala tindak tanduknya senantiasa berorientasi kepada kemajuan atau progres. Tak hanya itu, seorang kasek harus bisa memberikan solusi tatkala dihadapkan pada persoalan yang rumit yang terjadi pada lingkup persekolahan. Tak jarang terjadi antar guru yang berselisih paham yang nyaris adu mulut dan adu urat leher, bahkan adu fisik.

Pada sebuah SMA di Singaraja pernah terjadi kasus saling lapor ke pihak kepolisian antara siswa dengan guru, gara-gara persoalan sepele. Nah, dalam situasi seperti itu seorang Kasek harus mampu memberikan solusi pada kasus lain, agar tidak sampai kasusnya melebar saling lapor ke pihak berwajib. Kepala sekolah juga diharapkan mampu membantu kelancaran proses perubahan, khususnya dalam menyelesaikan masalah dan membina hubungan antara pihak-pihak yang terkait (proces helpers).

Baca Juga :  Putra Muntigunung Raih Tiga Prestasi Saat Wisuda Doktor di UNY

Begitu pula, ia harus piawai menjalin hubungan dengan sumber-sumber potensial terutama yang menyangkut sumberdaya manusia, sumber dana, dan sumber-sumber yang lain (resource linkers). Menyangkut soal fungsi Kasek, satu di antaranya harus dapat memperlakukan sama terhadap orang-orang yang menjadi bawahannya, sehingga tidak terjadi diskriminasi. Sebaliknya pada kondisi seperti itu, dapat diciptakan semangat kebersamaan di antara mereka; guru, siswa, dan staf, termasuk juga pihak lain seperti pegawai administrasi, tukang kebun, dan para petugas kantin sekolah. 

Melihat kalimat pendek ‘memperlakuan sama’ terhadap bawahan, penulis menjadi teringat dengan kearifan lokal yang dinamakan Catur Pariksa. Sebut saja empat tuntunan bagi seorang pemimpin (termasuk kepala sekolah) dalam memperlakukan anak-buah.

Keempat tuntunan itu adalah Sama, Beda , Dana, Danda. Istilah Sama (baca same) perlakuan sama seorang pemimpin terhadap bawahan dalam arti tidak boleh pilih kasih. Kemudian Beda (baca, bede) maksudnya memberikan perlakuan berbeda terhadap bawahan dalam hal prestasi yang ditunjukkan berbeda pula oleh bawahan tersebut. Dana (baca, dane), seorang Kasek diupayakan mampu menggalang dan menghimpun dana sebanyak mungkin melalui orang tua siswa dan pihak-pihak lain yang tidak mengikat.

Terakhir Dande, ini semacam hukuman (puhnishment) yang diberikan seorang Kasek bagi bawahan yang melanggar dan melabrak aturan sekolah maupun aturan lain. Dengan mengingat tugas dan fungsi Kasek yang demikian berat (di Bali diistilahkan negen memeri) sangat elok kiranya jika sejak dini perlu disiapkan siapa-siapa yang bakal menyandang predikat kepala sekolah tersebut, dan jangan sampai ada istilah Pe-el-te (pelaksana tugas). (*) 

*) Penulis adalah Dosen Undiksha tahun 1976-2016

 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/