Selasa, 26 Oct 2021
Bali Express
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Corona Merajalela, Tradisi di Bali Meredup

Oleh: Ni Made Eri Mulyaningsih*

08 Juni 2020, 10: 41: 24 WIB | editor : I Putu Suyatra

Corona Merajalela, Tradisi di Bali Meredup

Ni Made Eri Mulyaningsih (ISTIMEWA)

Share this      

DIKETAHUI bahwa tradisi merupakan sesuatu yang sakral jika dilaksanakan, baik itu di desa maupun di perkotaan. Tradisi sudah menjadi ciri khas tersendiri bagi masing-masing daerah. Maraknya tradisi ini dapat memicu keberagaman budaya yang kental akan fenomena yang jarang terjadi, sebagai contoh ialah Bali. Tradisi di Bali tidak semata-mata hanya sebuah acara ataupun upacara adat biasa, akan tetapi keyakinan orang Bali terhadap tradisi sangatlah serius, unik dan beragam. Masyarakat, khususnya Bali memiliki keyakinan, ketika tradisi tersebut dilaksanakan akan mendatangkan sesuatu yang baik pada kehidupan ke depan atau yang akan datang, dan akan terjadi musibah jika tradisi tersebut tidak dijalankan. Maka dari itu, tidak jarang banyak yang heran terhadap pelaksanaan tradisi di Bali yang notabene bawaannya selalu melibatkan makhluk sakral (dunia lain).

Sampai saat ini, tradisi tetaplah tradisi, tidak ada yang mampu untuk merubah setiap tradisi di masing-masing daerah, kecuali Covid-19. Setiap tradisi memiliki aturan yang sudah dibuat dan disepakati bersama. Jika dilihat dari sudut pandang keagamaan, Bali sangat kuat dan kokoh dalam melaksanakan tradisinya. Namun dari sisi masyarakat luar, kemungkinan banyak pertimbangan atau istilah orang Bali “maboye” dengan apa yang dilakukan oleh orang Bali. Ketidakpercayaan akan sesuatu hal yang tidak mungkin, terkadang membahayakan diri sendiri. Karena kenapa? ya karena kurangnya rasa toleransi antar sesama, sudah diingatkan bahwa setiap tradisi mempunyai caranya tersendiri, akan tetapi masih banyak orang yang menghiraukan bahkan menyelepekannya. Lalu, yang disalahkan siapa? yang pastinya bukan manusianya, melainkan cara berpikirnya kemungkinan masih sempit tentang tradisi, budaya dan adat istiadatnya sendiri. Karena dia tidak bisa mentoleransi tradisinya, maka timbul pula rasa acuh terhadap tradisi orang lain. Untuk mencegah minimnya orang yang seperti itu, maka perlu diadakan sosialisasi atau pemberitahuan dengan melakukan pendekatan terhadap orang tersebut.

Hubungannya dengan serangan Covid-19, ya seperti yang kita lalui saat ini, banyak tradisi yang seharusnya masyarakat, khususnya Bali laksanakan. Namun karena adanya virus ini, segala perencanaan pelaksanaan tradisi ditunda, bahkan ada yang tidak dilaksanakan sama sekali, contohnya melasti. Melasti di Bali terkenal akan suasana yang menegangkan dan unik, karena pelaksanaannya bisa dikatakan heboh. Yang menjadi sumber keunikannya, yaitu sarad dalam istilah Bali. Orang yang memiliki sifat mudah terpengaruh, akan mengikuti apa yang ia lihat ketika ia bertugas atau dalam istilah Balinya “ngayah negen”. Bisa dikatakan orang tersebut tidak sadarkan diri, yang bikin menegangkan ialah saat orang yang “ngayah negen” itu mengikuti apa yang dirasakan lalu berjalan ataupun berlarian agak cepat tandanya ada sesuatu yang ingin ditemui. Maksudnya ialah, ada aturan dalam melasti khususnya di salah satu desa yang berlokasi di Desa Kubutambahan. Dimana acara melastinya memiliki aturan tidak boleh ada suara motor, lampu motor nyala, dan biasanya para pengemudi disuruh untuk turun dari kendaraannya. Ketika ada yang melanggar, disanalah tepat ketegangan terjadi yang dapat merugikan pengemudi tersebut, bahkan orang yang sedang “ngayah negen” itu mengalami luka parah. Selain itu juga, kendaraan yang digunakan akan dirusak sampai pengemudi itu mengikuti aturan yang berlaku. Akan tetapi biasanya, orang yang bertugas sebagai pecalang, dari kejauhan sudah mulai memberikan aba-aba untuk turun dari kendaraan, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun karena ada beberapa yang tidak percaya akan adanya tradisi seperti itu, dia malah mengabaikannya, alhasil dia mendapatkan apa yang sebenarnya tidak dia inginkan terjadi.

Baca juga: Mendukung Kebijakan Pemerintah di Bidang Properti

Namun karena Covid-19 ini muncul, semua tradisi di berbagai daerah di minimalisir pelaksanaannya, segalanya redup. Hanya segelintir orang saja yang masih boleh mengadakan upacara tradisinya masing-masing.

Berharap semuanya akan baik-baik saja, sehingga tradisi kembali bisa dilaksanakan. Semuanya bisa melakukan segala aktivitasnya masing-masing. Namun tidak bisa kita pungkiri, semuanya sudah diatur oleh-Nya. Kita sebagai manusia ciptaan-Nya hanya mampu bersyukur dan menjalaninya dengan sewajarnya. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan jalani segalanya dengan penuh keikhlasan, astungkara Hyang Widhi selalu bersama kita semua! (*)

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja, Bali

(bx/wid/yes/JPR)

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia