alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 11, 2022

Pariwisata bagi Orang yang Tak Paham Pariwisata

Setelah ‘pingsan’ diterjang wabah, pariwisata mulai diperciki air kehidupan oleh orang-orang ‘sakti’ di lembaga pemerintahan maupun di lembaga-lembaga penting bidang pariwisata. Doa-doa dan harapan dipanjatkan: tentu agar pariwsata hidup kembali. Jika tak bisa hidup dengan denyut jantung seperti sediakala, setidaknya pariwisata tampak masih punya jantung, meski denyutnya belum terasa di dada, melainkan masih berdentam di kepala. Pengeng.

Saya percaya sebagaimana dikatakan orang-orang sakti dalam ilmu pariwisata, bahwa wajah pariwisata pascawabah akan sangat berbeda dengan wajah pariwisata sebelum wabah. Apakah berubah lebih baik atau lebih buruk, tak banyak yang tahu. Harapannya, ya, jadi lebih baik. Tapi, ada pertanyaan susulan; jadi lebih baik yang seperti apa? Apakah lebih baik itu artinya pariwisata  lebih ramai, lebih megah, lebih mahal?

Bagi saya yang kolot soal pariwisata ini, yang dianggap pariwisata lebih baik pada tatanan era baru di tengah pandemi ini, adalah pariwisata yang dimulai lagi dengan hal-hal sederhana. Saya ingat betul pada pertengahan tahun 1980-an, saat baru tamat SMA, hampir semua teman sekelas saya di desa berbondong ke Kuta dan Sanur. Tanpa tahu ilmu pariwisata, bahkan Bahasa Inggris pun hanya yes dan no, mereka diterima kerja di hotel, restoran, money changer, perusahaan travel, atau kerja mandiri di jalanan. Lima tahun kerja, hampir semua sukses, setidaknya mereka bisa memperbaiki dapur sebelum nikah atau membeli sepeda motor tanpa menggaruk kantong meme-bapa. 

Satu orang teman sukses menjadi tukang jarit jaket kulit. Ia menyewa sepetak tanah, dibanguni rompyok kecil dengan tiang kayu dan sekat triplek. Ruangan itu kecil-mungil, hanya cukup untuk satu mesin jahit dan satu kursi untuk kerja. Di ruangan itulah ia suntuk menjahit. Ia punya banyak langganan turis, meski Bahasa Inggris-nya hanya yes dan no.

Satu teman lagi sukses menyewakan sepeda. Dengan sedikit akal dan sedikit modal, ia meminjam sepeda saudara-saudaranya di kampung. Setidaknya, sambil nongkrong, ia memarkir tiga sepeda di tepi pantai. Ada sejumlah teman lain juga memarkir sepeda, berjajar-jajar. Ia mendekati sejumlah turis sembari bicara tentang betapa asyiknya bersepeda di tepi pantai, atau bersepeda menyusuri lorong-lorong Seminyak, Kuta, hingga Kerobokan yang saat itu lalu-lintasnya memang masih longgar dan damai. Kiri-kanan lorong masih banyak semaknya. Sawah masih asri dan asli. Jika sang turis tergoda, maka sepeda pun sukses disewa.

Baca Juga :  Pelaku Pariwisata Siap Sambut Penerbangan Singapore Airlines

Dua teman saya dari desa itu adalah potret pengusaha pariwisata mandiri yang sukses di masa lalu, pada saat pariwisata dipahami sebagai kegiatan sederhana, yakni satu rangkaian kegiatan berlibur, di mana warga setempat mengerahkan upaya untuk membantu agar orang-orang yang berlibur bisa senang dan nyaman. Upaya-upaya sederhana itu tentu dapat imbalan uang yang sepadan. Lama-lama, imbalan berubah menjadi keuntungan. Upaya sederhana  berubah konsep jadi usaha kecil. Atau, dalam bahasa pemerintah, disebut usaha mikro.

Naik-naik ke tahun 1990-an, pariwisata tak lagi dipahami sebagai sebuah kegiatan sederhana. Usaha-usaha besar harus dibangun, sehingga modal dari luar pun mulai mengalir untuk membesarkan dunia pariwisata. Apa yang terjadi kemudian? Usaha-usaha kecil mati.  Warga lokal yang dahulunya jadi pengusaha kecil, mandiri dan senang-senang, berubah menjadi karyawan di perusahaan besar. Karena jadi karyawan, ia harus memenuhi standar pariwisata. Yang tak memenuhi standar dianggap liar. Mereka di-testing. Banyak yang lulus, lalu berkarier jadi karyawan hotel hingga beberapa bisa jadi manajer di bidang tertentu, banyak juga yang pulang kampung karena berada di luar standar.

Teman saya yang tukang jarit jaket kulit sudah lama pulang kampung. Tentu karena tak banyak yang memesan jaket kulit setelah mall dan distro menjamur. Rompyok tempatnya menjarit pun sudah menjadi tempat mewah dengan nilai kontrak yang amat mahal. Mau pilih jadi  karwayan di mall, ia kalah saing dengan pelamar lulusan sekolah-sekolah pariwisata. Kini di kampung ia jadi petani, menanam sayur, dan hidup biasa-biasa saja.

Baca Juga :  Ekonomi Indonesia Masih Stabil Meski Rupiah Melemah

Jadi, ada semacam kavling istimewa bahwa pariwisata kemudian hanya dinikmati oleh orang-orang yang katam soal pariwisata. Orang-orang biasa, kalau pun dapat imbas, itu hanya remah-remah. Jika jual laklak untuk pariwisata, misalnya, pedagang laklak harus memenuhi standar-standar pariwisata, termasuk syarat-syarat administrasi untuk membangun sebuah usaha. Tak ada lagi pemandangan kuno, turis jalan-jalan ke desa, lalu duduk di bawah pohon memegang tekor menyantap laklak.

Saya punya tetangga memaksa kerja di restoran di Kuta, padahal tak bisa Bahasa Inggris. Seminggu kerja ia dipecat. Ceritanya begini: Di restoran itu ia ditugaskan menjadi petugas jaga malam. Selain jaga malam, ia dapat tugas tambahan, yakni membalikkan papan nama di pintu restoran. Papan itu berisi tulisan ‘OPEN’ dan ‘CLOSE’. Pada malam saat karyawan pada pulang, ia bertugas menutup restoran sekaligus membalikkan papan nama agar tulisan ‘CLOSE’ menghadap ke jalan. Besoknya, pagi-pagi, sebelum karyawan datang, ia bertugas membuka restoran sekaligus membalikkan papan nama di pintu agar tulisan ‘OPEN’ menghadap ke jalan.

Suatu pagi ia telat bangun karena semalam begadang nonton sepakbola di TV. Karyawan yang terlebih dulu masuk restoran berinisiatif sendiri membalikkan papan nama agar tulisan ‘OPEN’  menghadap ke jalan. Nah, tetangga saya ini gelagapan bangun ketika karyawan restoran sudah pada bekerja. Ia bergegas menuju papan nama dan membalikkannya. Tentu saja, tulisan ‘OPEN’ yang sebelumnya sudah menghadap ke jalan, lantas berbalik. Tulisan ‘CLOSE’ yang menghadap ke jalan. Karena ulahnya itu, tak ada turis masuk restoran hingga kekeliruan itu disadari oleh si bos restoran. Tetangga saya itu pun dipecat tanpa ampun. (*)


Setelah ‘pingsan’ diterjang wabah, pariwisata mulai diperciki air kehidupan oleh orang-orang ‘sakti’ di lembaga pemerintahan maupun di lembaga-lembaga penting bidang pariwisata. Doa-doa dan harapan dipanjatkan: tentu agar pariwsata hidup kembali. Jika tak bisa hidup dengan denyut jantung seperti sediakala, setidaknya pariwisata tampak masih punya jantung, meski denyutnya belum terasa di dada, melainkan masih berdentam di kepala. Pengeng.

Saya percaya sebagaimana dikatakan orang-orang sakti dalam ilmu pariwisata, bahwa wajah pariwisata pascawabah akan sangat berbeda dengan wajah pariwisata sebelum wabah. Apakah berubah lebih baik atau lebih buruk, tak banyak yang tahu. Harapannya, ya, jadi lebih baik. Tapi, ada pertanyaan susulan; jadi lebih baik yang seperti apa? Apakah lebih baik itu artinya pariwisata  lebih ramai, lebih megah, lebih mahal?

Bagi saya yang kolot soal pariwisata ini, yang dianggap pariwisata lebih baik pada tatanan era baru di tengah pandemi ini, adalah pariwisata yang dimulai lagi dengan hal-hal sederhana. Saya ingat betul pada pertengahan tahun 1980-an, saat baru tamat SMA, hampir semua teman sekelas saya di desa berbondong ke Kuta dan Sanur. Tanpa tahu ilmu pariwisata, bahkan Bahasa Inggris pun hanya yes dan no, mereka diterima kerja di hotel, restoran, money changer, perusahaan travel, atau kerja mandiri di jalanan. Lima tahun kerja, hampir semua sukses, setidaknya mereka bisa memperbaiki dapur sebelum nikah atau membeli sepeda motor tanpa menggaruk kantong meme-bapa. 

Satu orang teman sukses menjadi tukang jarit jaket kulit. Ia menyewa sepetak tanah, dibanguni rompyok kecil dengan tiang kayu dan sekat triplek. Ruangan itu kecil-mungil, hanya cukup untuk satu mesin jahit dan satu kursi untuk kerja. Di ruangan itulah ia suntuk menjahit. Ia punya banyak langganan turis, meski Bahasa Inggris-nya hanya yes dan no.

Satu teman lagi sukses menyewakan sepeda. Dengan sedikit akal dan sedikit modal, ia meminjam sepeda saudara-saudaranya di kampung. Setidaknya, sambil nongkrong, ia memarkir tiga sepeda di tepi pantai. Ada sejumlah teman lain juga memarkir sepeda, berjajar-jajar. Ia mendekati sejumlah turis sembari bicara tentang betapa asyiknya bersepeda di tepi pantai, atau bersepeda menyusuri lorong-lorong Seminyak, Kuta, hingga Kerobokan yang saat itu lalu-lintasnya memang masih longgar dan damai. Kiri-kanan lorong masih banyak semaknya. Sawah masih asri dan asli. Jika sang turis tergoda, maka sepeda pun sukses disewa.

Baca Juga :  ANEH! Tanda Tangan Ketua BTB Berbeda di Kesepakatan Rahasia

Dua teman saya dari desa itu adalah potret pengusaha pariwisata mandiri yang sukses di masa lalu, pada saat pariwisata dipahami sebagai kegiatan sederhana, yakni satu rangkaian kegiatan berlibur, di mana warga setempat mengerahkan upaya untuk membantu agar orang-orang yang berlibur bisa senang dan nyaman. Upaya-upaya sederhana itu tentu dapat imbalan uang yang sepadan. Lama-lama, imbalan berubah menjadi keuntungan. Upaya sederhana  berubah konsep jadi usaha kecil. Atau, dalam bahasa pemerintah, disebut usaha mikro.

Naik-naik ke tahun 1990-an, pariwisata tak lagi dipahami sebagai sebuah kegiatan sederhana. Usaha-usaha besar harus dibangun, sehingga modal dari luar pun mulai mengalir untuk membesarkan dunia pariwisata. Apa yang terjadi kemudian? Usaha-usaha kecil mati.  Warga lokal yang dahulunya jadi pengusaha kecil, mandiri dan senang-senang, berubah menjadi karyawan di perusahaan besar. Karena jadi karyawan, ia harus memenuhi standar pariwisata. Yang tak memenuhi standar dianggap liar. Mereka di-testing. Banyak yang lulus, lalu berkarier jadi karyawan hotel hingga beberapa bisa jadi manajer di bidang tertentu, banyak juga yang pulang kampung karena berada di luar standar.

Teman saya yang tukang jarit jaket kulit sudah lama pulang kampung. Tentu karena tak banyak yang memesan jaket kulit setelah mall dan distro menjamur. Rompyok tempatnya menjarit pun sudah menjadi tempat mewah dengan nilai kontrak yang amat mahal. Mau pilih jadi  karwayan di mall, ia kalah saing dengan pelamar lulusan sekolah-sekolah pariwisata. Kini di kampung ia jadi petani, menanam sayur, dan hidup biasa-biasa saja.

Baca Juga :  Hunian Hotel Disebut Penuh, PHRI Gianyar Ngaku Tidak Tahu

Jadi, ada semacam kavling istimewa bahwa pariwisata kemudian hanya dinikmati oleh orang-orang yang katam soal pariwisata. Orang-orang biasa, kalau pun dapat imbas, itu hanya remah-remah. Jika jual laklak untuk pariwisata, misalnya, pedagang laklak harus memenuhi standar-standar pariwisata, termasuk syarat-syarat administrasi untuk membangun sebuah usaha. Tak ada lagi pemandangan kuno, turis jalan-jalan ke desa, lalu duduk di bawah pohon memegang tekor menyantap laklak.

Saya punya tetangga memaksa kerja di restoran di Kuta, padahal tak bisa Bahasa Inggris. Seminggu kerja ia dipecat. Ceritanya begini: Di restoran itu ia ditugaskan menjadi petugas jaga malam. Selain jaga malam, ia dapat tugas tambahan, yakni membalikkan papan nama di pintu restoran. Papan itu berisi tulisan ‘OPEN’ dan ‘CLOSE’. Pada malam saat karyawan pada pulang, ia bertugas menutup restoran sekaligus membalikkan papan nama agar tulisan ‘CLOSE’ menghadap ke jalan. Besoknya, pagi-pagi, sebelum karyawan datang, ia bertugas membuka restoran sekaligus membalikkan papan nama di pintu agar tulisan ‘OPEN’ menghadap ke jalan.

Suatu pagi ia telat bangun karena semalam begadang nonton sepakbola di TV. Karyawan yang terlebih dulu masuk restoran berinisiatif sendiri membalikkan papan nama agar tulisan ‘OPEN’  menghadap ke jalan. Nah, tetangga saya ini gelagapan bangun ketika karyawan restoran sudah pada bekerja. Ia bergegas menuju papan nama dan membalikkannya. Tentu saja, tulisan ‘OPEN’ yang sebelumnya sudah menghadap ke jalan, lantas berbalik. Tulisan ‘CLOSE’ yang menghadap ke jalan. Karena ulahnya itu, tak ada turis masuk restoran hingga kekeliruan itu disadari oleh si bos restoran. Tetangga saya itu pun dipecat tanpa ampun. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/