alexametrics
27.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Pemda Perlu Bersiaga Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

Pemerintah Daerah perlu bersiaga guna mengantisipasi bencana hidrometeorologi seiring masuknya Indonesia ke musim penghujan. Mitigasi secara dini ini diharapkan dapat meminimalisasi resiko korban jiwa maupun kerugian material.

Kita sudah masuk di bulan november, dan mulai september lalu memasuki musim hujan. Musim ini sepintas telihat indah karena bumi diguyur air yang menyejukkan, dan menyirami pepohonan hingga rindang. Akan tetapi, banyaknya air juga menjadi bumerang, karena tidak maksimal diserap oleh tanah dan akhirnya membuat banjir.

Selain banjir, yang patut diwaspadai adalah angin kencang saat hujan, sehingga menyebabkan pepohonan rubuh. Jika ada 1 saja yang tumbang maka berbahaya karena bisa mengenai kendaraan bermotor yang melintas dan berpotensi menmyebabkan luka-luka hingga korban jiwa. Saat musim hujan, kita memang harus lebih waspada agar selamat, baik ketika di rumah maupun di perjalanan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pemerintah daerah mengidentifikasi pohon-pohon yang terindikasi akan roboh. Jika perlu, pohon itu bisa diermajakan dengan cara dipangkas sebagian. Namun ketika memang terlalu tua maka pohon bisa ditebang saja, karena akarnya juga bisa mengganggu trotoar dan jalan raya.

Pemerintah daerah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup, yang memiliki kewenangan resmi untuk memotong pohon. Pasalnya, kebanyakan pohon yang ditanam di pinggir jalan adalah milik Pemerintah, sehingga hanya dinas tersebut yang berhak meremajakannya. Lagipula Dinas Lingkungan Hidup memiliki gergaji listrik dan peralatan yang lengkap, sehingga proses peremajaan pohon makin cepat.

Masyarakat juga diminta untuk waspada saat berkendara di bawah hujan, apalagi ketika angin kencang. Jangan ngebut dan memaksakan diri untuk melaju, lebih baik berteduh sementara sampai hujannya reda. Penyebabnya karena jika mereka melintas di jalan bisa beresiko tertimpa pohon, yang tumbang akibat angin kencang.

Selain waspada akan rubuhnya pohon, kita juga wajib mengantisipasi bencana banjir. Para pemimpin di pemda berusaha agar daerahnya tidak terkena banjir bandang, sehingga masyarakat akan selamat dari bencana. Penyebabnya karena banjir saat ini bisa saja susah surut dan menyebabkan banyak dampak negatif.

Beberapa dampak negatif dari banjir adalah gatal-gatal di kulit, karena penduduk menyentuh air banjir yang kotor, karena rata-rata dari luapan air sungai yang berwarna kecokelatan. Selain itu, masyarakat juga bisa kena diare karena kedinginan saat bajir dan terpaksa mengkonsumsi air kotor.

Resiko terbesar adalah korban jiwa, ketika ada yang hanyut karena banjir yang deras, atau kesetrum karena lupa tidak mematikan peralatan elektronik yang kebanjiran. Jika ada peristiwa seperti ini tentu mengenaskan karena saat bajir semua sibuk menyelamatkan diri ke lantai 2, sampai lupa mencabut kabel kulkas dan alat elektronik lain. Jika terjadi konsleting maka akan mengancam nyawa.

Oleh karena itu para bupati, walikota, dan gubernur diharap untuk mengantisipasi agar meminimalisir dampak bencana banjir. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Seharusnya sebelum masuk musim hija, got-got dibersihkan dan drainase kota diperbaiki. Sungai juga dijaga agar tidak kotor, dan masyarakat tidak boleh membuang sampah ke sungai seenaknya sendiri.

Taman kota juga dipercantik agar menjadi paru-paru kota, sekaligus menjadi ‘penyerap’ ketika hujan. Saat banyak pohon di suatu daerah maka tidak akan terjadi bencana banjir, karena air hujan terserap oleh akar pohon.

Antisipasi bencana di musim hujan wajib dilakukan oleh para kepala daerah. Pasalnya, ada potensi bencana, mulai dari pepohonan yang tumbang akibat angin kencang, hingga kebanjiran. Masyarakat juga diimbau untuk taat peraturan dan tidak buang sampah sembarangan, sehingga drainase lancar.

 

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

 


Pemerintah Daerah perlu bersiaga guna mengantisipasi bencana hidrometeorologi seiring masuknya Indonesia ke musim penghujan. Mitigasi secara dini ini diharapkan dapat meminimalisasi resiko korban jiwa maupun kerugian material.

Kita sudah masuk di bulan november, dan mulai september lalu memasuki musim hujan. Musim ini sepintas telihat indah karena bumi diguyur air yang menyejukkan, dan menyirami pepohonan hingga rindang. Akan tetapi, banyaknya air juga menjadi bumerang, karena tidak maksimal diserap oleh tanah dan akhirnya membuat banjir.

Selain banjir, yang patut diwaspadai adalah angin kencang saat hujan, sehingga menyebabkan pepohonan rubuh. Jika ada 1 saja yang tumbang maka berbahaya karena bisa mengenai kendaraan bermotor yang melintas dan berpotensi menmyebabkan luka-luka hingga korban jiwa. Saat musim hujan, kita memang harus lebih waspada agar selamat, baik ketika di rumah maupun di perjalanan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pemerintah daerah mengidentifikasi pohon-pohon yang terindikasi akan roboh. Jika perlu, pohon itu bisa diermajakan dengan cara dipangkas sebagian. Namun ketika memang terlalu tua maka pohon bisa ditebang saja, karena akarnya juga bisa mengganggu trotoar dan jalan raya.

Pemerintah daerah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup, yang memiliki kewenangan resmi untuk memotong pohon. Pasalnya, kebanyakan pohon yang ditanam di pinggir jalan adalah milik Pemerintah, sehingga hanya dinas tersebut yang berhak meremajakannya. Lagipula Dinas Lingkungan Hidup memiliki gergaji listrik dan peralatan yang lengkap, sehingga proses peremajaan pohon makin cepat.

Masyarakat juga diminta untuk waspada saat berkendara di bawah hujan, apalagi ketika angin kencang. Jangan ngebut dan memaksakan diri untuk melaju, lebih baik berteduh sementara sampai hujannya reda. Penyebabnya karena jika mereka melintas di jalan bisa beresiko tertimpa pohon, yang tumbang akibat angin kencang.

Selain waspada akan rubuhnya pohon, kita juga wajib mengantisipasi bencana banjir. Para pemimpin di pemda berusaha agar daerahnya tidak terkena banjir bandang, sehingga masyarakat akan selamat dari bencana. Penyebabnya karena banjir saat ini bisa saja susah surut dan menyebabkan banyak dampak negatif.

Beberapa dampak negatif dari banjir adalah gatal-gatal di kulit, karena penduduk menyentuh air banjir yang kotor, karena rata-rata dari luapan air sungai yang berwarna kecokelatan. Selain itu, masyarakat juga bisa kena diare karena kedinginan saat bajir dan terpaksa mengkonsumsi air kotor.

Resiko terbesar adalah korban jiwa, ketika ada yang hanyut karena banjir yang deras, atau kesetrum karena lupa tidak mematikan peralatan elektronik yang kebanjiran. Jika ada peristiwa seperti ini tentu mengenaskan karena saat bajir semua sibuk menyelamatkan diri ke lantai 2, sampai lupa mencabut kabel kulkas dan alat elektronik lain. Jika terjadi konsleting maka akan mengancam nyawa.

Oleh karena itu para bupati, walikota, dan gubernur diharap untuk mengantisipasi agar meminimalisir dampak bencana banjir. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Seharusnya sebelum masuk musim hija, got-got dibersihkan dan drainase kota diperbaiki. Sungai juga dijaga agar tidak kotor, dan masyarakat tidak boleh membuang sampah ke sungai seenaknya sendiri.

Taman kota juga dipercantik agar menjadi paru-paru kota, sekaligus menjadi ‘penyerap’ ketika hujan. Saat banyak pohon di suatu daerah maka tidak akan terjadi bencana banjir, karena air hujan terserap oleh akar pohon.

Antisipasi bencana di musim hujan wajib dilakukan oleh para kepala daerah. Pasalnya, ada potensi bencana, mulai dari pepohonan yang tumbang akibat angin kencang, hingga kebanjiran. Masyarakat juga diimbau untuk taat peraturan dan tidak buang sampah sembarangan, sehingga drainase lancar.

 

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

 


Most Read

Artikel Terbaru

/