alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Oleh: Cindy Ramadhani*

G20 Bawa Komitmen Energi Hijau

Konferensi Tingkat Tinggi Group of Twenty (KTT G20) membawa komitmen untuk mengganti ke energi hijau alias lebih ramah lingkungan. Ajang G20 juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Indonesia sudah siap untuk mengganti sumber energi ke energi hijau.
Saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT G20 tahun 2022 maka yang dibahas tidak hanya tema besar yakni: recover together, recover stronger’. Akan tetapi juga dibahas topik lain, seperti ekonomi di sherpa meeting, pemberdayaan perempuan melalui forum Woman of Twenty (W20), dan energi hijau di KTT G20 dan The Business 20 (B20). Terutama bahasan tentang energi hijau karena menarik perhatian seluruh peserta forum yang memang ingin tahu lebih lanjut manfaatnya.
Nicke Widyawati, Chair Task Force Energy, Sustainability, and climate menjelaskan pentingnya energi hijau seperti yang sudah disampaikan oleh Presiden Jokowi. Akan ada transisi energi hijau yang nantinya dipaparkan pada pertemuan G20 mendatang. Hal ini sudah disepakati pada pertemuan B20 alias inception meeting business, yang diselenggarakan secara virtual pada akhir januari 2022.
Nicke melanjutkan, transisi energi hijau merupakan tantangan bagi semua, tetapi juga peluang untuk menciptakan masa depan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dalam artian, energi hijau dari Indonesia bisa sangat dijual kepada peserta G20, dan ketika mereka cocok juga akan bisa tersebar lagi ke seluruh dunia. Indonesia akan memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus karena menjual energi hijau ke banyak tempat.
Yang dimaksud energi hijau adalah energi masa kini yang tidak tergantung dari pengolahan fosil, tetapi merupakan energi dari hydro-energi, biodiesel, dll. Hijau bukanlah warnanya melainkan istilah yang digunakan karena memanfaatkan bahan-bahan alam sebagai sumber energi baru. Sehingga kita punya alternatif karena cadangan fosil makin menipis, dan ketika benar-benar habis tidak akan kelimpungan.
Manfaat dari energi hijau adalah selain tidak usah menggunakan fosil sebagai bahan baku, juga lebih ramah lingkungan dan cinta bumi. Penyebabnya karena saat pengolahan dan penggunaan energi ini tidak akan membuat kepulan asap tebal yang hitam, yang bisa menipiskan lapisan ozon. Kita harus menjaga kesehatan bumi sehingga beralih ke energi hijau.
Ada tiga isu prioritas yang menjadi fokus rekomendasi kebijakan transisi energi. Pertama adalah percepatan transisi ke tenaga berkelanjutan dan energi hijau, misalnya biofuel dan hidrogen. Harus ada percepatan agar suhu bumi tidak memanas dan maksimal batasnya adalah naik 1,5 derajat celcius, saat belum 100% berpindah ke energi hijau.
Kedua, memastikan transisi yang adil dan terjangkau. Dalam artian, bahan bakar hijau alias biodiesel dll tak hanya ramah lingkungan tetapi harganya juga tidak terlalu mahal. Penyebabnya karena jika harga terlalu mahal, maka masyarakat tak mau memakainya, karena akan menguras kantor. Jadi pemerintah harus pintar berhitung agar tak rugi sekaligus tak memberatkan masyarakat.
Sedangkan yang ketiga adalah kerja sama global untuk meningkatkan ketahanan energi. Misalnya untuk UMKM dan rumah tangga. Dalam artian, seluruh anggota G20 wajib bekerja sama untuk membentuk dan menyalurkan energi hijau. Sehingga rakyatnya yang diuntungkan karena menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan, dan harganya tak terlalu mahal.
KTT G20 dan B20 membawa komitmen untuk terus mempromosikan energi hijau, karena ia memiliki banyak keunggulan, di antaranya lebih ramah lingkungan dan merupakan sumber yang sustainable. Selain itu sumbernya juga dari alam sehingga tidak merusak laipsan ozon atau memanaskan suhu bumi, sehingga aman bagi semua orang. Anggota G20 juga mendukungnya sehingga kompak dalam menggunakan energi hijau.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini


Konferensi Tingkat Tinggi Group of Twenty (KTT G20) membawa komitmen untuk mengganti ke energi hijau alias lebih ramah lingkungan. Ajang G20 juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Indonesia sudah siap untuk mengganti sumber energi ke energi hijau.
Saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT G20 tahun 2022 maka yang dibahas tidak hanya tema besar yakni: recover together, recover stronger’. Akan tetapi juga dibahas topik lain, seperti ekonomi di sherpa meeting, pemberdayaan perempuan melalui forum Woman of Twenty (W20), dan energi hijau di KTT G20 dan The Business 20 (B20). Terutama bahasan tentang energi hijau karena menarik perhatian seluruh peserta forum yang memang ingin tahu lebih lanjut manfaatnya.
Nicke Widyawati, Chair Task Force Energy, Sustainability, and climate menjelaskan pentingnya energi hijau seperti yang sudah disampaikan oleh Presiden Jokowi. Akan ada transisi energi hijau yang nantinya dipaparkan pada pertemuan G20 mendatang. Hal ini sudah disepakati pada pertemuan B20 alias inception meeting business, yang diselenggarakan secara virtual pada akhir januari 2022.
Nicke melanjutkan, transisi energi hijau merupakan tantangan bagi semua, tetapi juga peluang untuk menciptakan masa depan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dalam artian, energi hijau dari Indonesia bisa sangat dijual kepada peserta G20, dan ketika mereka cocok juga akan bisa tersebar lagi ke seluruh dunia. Indonesia akan memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus karena menjual energi hijau ke banyak tempat.
Yang dimaksud energi hijau adalah energi masa kini yang tidak tergantung dari pengolahan fosil, tetapi merupakan energi dari hydro-energi, biodiesel, dll. Hijau bukanlah warnanya melainkan istilah yang digunakan karena memanfaatkan bahan-bahan alam sebagai sumber energi baru. Sehingga kita punya alternatif karena cadangan fosil makin menipis, dan ketika benar-benar habis tidak akan kelimpungan.
Manfaat dari energi hijau adalah selain tidak usah menggunakan fosil sebagai bahan baku, juga lebih ramah lingkungan dan cinta bumi. Penyebabnya karena saat pengolahan dan penggunaan energi ini tidak akan membuat kepulan asap tebal yang hitam, yang bisa menipiskan lapisan ozon. Kita harus menjaga kesehatan bumi sehingga beralih ke energi hijau.
Ada tiga isu prioritas yang menjadi fokus rekomendasi kebijakan transisi energi. Pertama adalah percepatan transisi ke tenaga berkelanjutan dan energi hijau, misalnya biofuel dan hidrogen. Harus ada percepatan agar suhu bumi tidak memanas dan maksimal batasnya adalah naik 1,5 derajat celcius, saat belum 100% berpindah ke energi hijau.
Kedua, memastikan transisi yang adil dan terjangkau. Dalam artian, bahan bakar hijau alias biodiesel dll tak hanya ramah lingkungan tetapi harganya juga tidak terlalu mahal. Penyebabnya karena jika harga terlalu mahal, maka masyarakat tak mau memakainya, karena akan menguras kantor. Jadi pemerintah harus pintar berhitung agar tak rugi sekaligus tak memberatkan masyarakat.
Sedangkan yang ketiga adalah kerja sama global untuk meningkatkan ketahanan energi. Misalnya untuk UMKM dan rumah tangga. Dalam artian, seluruh anggota G20 wajib bekerja sama untuk membentuk dan menyalurkan energi hijau. Sehingga rakyatnya yang diuntungkan karena menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan, dan harganya tak terlalu mahal.
KTT G20 dan B20 membawa komitmen untuk terus mempromosikan energi hijau, karena ia memiliki banyak keunggulan, di antaranya lebih ramah lingkungan dan merupakan sumber yang sustainable. Selain itu sumbernya juga dari alam sehingga tidak merusak laipsan ozon atau memanaskan suhu bumi, sehingga aman bagi semua orang. Anggota G20 juga mendukungnya sehingga kompak dalam menggunakan energi hijau.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini


Most Read

Artikel Terbaru

/