alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Pola Asuh Kurang Baik Akibatkan Anak Berlaku & Ambil Keputusan Keliru

DENPASAR, BALI EXPRESS – Seorang wanita yang mengarang cerita bahwa dirinya di culik dan hampir diperkosa dengan tujuan untuk menutupi kesalahannya karena takut dimarahi suaminya, tentu kejadian yang tak biasa.

Dari kacamata psikolog peristiwa semacam itu adalah dampak dari pola asuh tidak baik yang didapatkan oleh si anak selama hidupnya.

Psikolog Remaja di Denpasar, Wangsa Ayu Vidya Loka, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menyebutkan seseorang bisa mengambil keputusan yang salah atau keputusan yang tidak baik, tidak terlepas dari pola asuh yang diterima seseorang. “Jika pola asuh yang diterima tidak baik, maka seseorang bisa berpotensi membuat keputusan yang keliru untuk menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Sama halnya dengan kasus rekayasa yang dilakukan wanita 19 tahun DAT, yang baru baru ini bikin heboh karena ditemukan dengan kaki terikat dan mulut tersumpal di di kawasan beji di Tabanan. Setelah diusut aparat kepolisian ternyata ulah tersebut direkayasa bersama mertuanya lantaran takut dimarahi suaminya lantaran telat pulang.

Menurut Vidya, tindakan yang dilakukan DAT bisa jadi karena DAT ingin melindungi diri dari kemarahan suaminya. Tindakan melindungi diri ini dikatakan Vidya, bersifat spontan, sehingga bisa dilakukan dengan cara apapun.

Upaya melindungi diri ini, diakui Vidya sudah menjadi sifat alamiah manusia dan memang menjadi salah satu upaya manusia dalam bertahan hidup. “Untuk bertahan hidup secara teori manusia memiliki mekanisme pertahan diri. Mekanisme ini akan muncul secara spontan jika seseorang merasa terancam,” terangnya.

Bentuk ancaman yang dimaksud Vidya beragam, dimarahi, dihukum atau diberikan kekerasan fisik bisa menjadi salah satu ancaman yang menakutkan. Karena itulah, seseorang bisa melakukan kebohongan.

Namun demikian, dalam melakukan pertahanan diri ini, lanjutnya, manusia pada dasarnya tidak mengenal mana tindakan baik dan mana tindakan yang buruk. “Yang diketahui oleh manusia adalah bertahan dari ancaman yang diterima. Karena itu, tindakan pertahanan diri yang dilakukan sering kali adalah tindakan yang salah, dan bisa berpotensi menjadi hal negatif yang cenderung merugikan,” paparnya.

Untuk bisa mengetahui yang mana tindakan yang baik dan buruk, lanjut Vidya, tidak terlepas dari peran orang tua dalam mengasuh anak dari kecil hingga dewasa.

Dikatakannya, jika orang tua tidak bisa memberikan pengasuhan yang sesuai dengan norma-norma yang ada, maka seorang anak berpotensi mengalami penyimpangan dalam mempraktekkan normal-norma yang baik.

“Kondisi ini, juga bisa mengarahkan seorang anak menjadi orang yang anti sosial dalam kehidupannya. Sehingga tindakan atau keputusan yang diambil tidak dilakukan berdasarkan norma-norma yang sesuai dan berpotensi memberikan kerugian secara mental bagi si anak,” pungkasnya.

 






Reporter: IGA Kusuma Yoni

DENPASAR, BALI EXPRESS – Seorang wanita yang mengarang cerita bahwa dirinya di culik dan hampir diperkosa dengan tujuan untuk menutupi kesalahannya karena takut dimarahi suaminya, tentu kejadian yang tak biasa.

Dari kacamata psikolog peristiwa semacam itu adalah dampak dari pola asuh tidak baik yang didapatkan oleh si anak selama hidupnya.

Psikolog Remaja di Denpasar, Wangsa Ayu Vidya Loka, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menyebutkan seseorang bisa mengambil keputusan yang salah atau keputusan yang tidak baik, tidak terlepas dari pola asuh yang diterima seseorang. “Jika pola asuh yang diterima tidak baik, maka seseorang bisa berpotensi membuat keputusan yang keliru untuk menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Sama halnya dengan kasus rekayasa yang dilakukan wanita 19 tahun DAT, yang baru baru ini bikin heboh karena ditemukan dengan kaki terikat dan mulut tersumpal di di kawasan beji di Tabanan. Setelah diusut aparat kepolisian ternyata ulah tersebut direkayasa bersama mertuanya lantaran takut dimarahi suaminya lantaran telat pulang.

Menurut Vidya, tindakan yang dilakukan DAT bisa jadi karena DAT ingin melindungi diri dari kemarahan suaminya. Tindakan melindungi diri ini dikatakan Vidya, bersifat spontan, sehingga bisa dilakukan dengan cara apapun.

Upaya melindungi diri ini, diakui Vidya sudah menjadi sifat alamiah manusia dan memang menjadi salah satu upaya manusia dalam bertahan hidup. “Untuk bertahan hidup secara teori manusia memiliki mekanisme pertahan diri. Mekanisme ini akan muncul secara spontan jika seseorang merasa terancam,” terangnya.

Bentuk ancaman yang dimaksud Vidya beragam, dimarahi, dihukum atau diberikan kekerasan fisik bisa menjadi salah satu ancaman yang menakutkan. Karena itulah, seseorang bisa melakukan kebohongan.

Namun demikian, dalam melakukan pertahanan diri ini, lanjutnya, manusia pada dasarnya tidak mengenal mana tindakan baik dan mana tindakan yang buruk. “Yang diketahui oleh manusia adalah bertahan dari ancaman yang diterima. Karena itu, tindakan pertahanan diri yang dilakukan sering kali adalah tindakan yang salah, dan bisa berpotensi menjadi hal negatif yang cenderung merugikan,” paparnya.

Untuk bisa mengetahui yang mana tindakan yang baik dan buruk, lanjut Vidya, tidak terlepas dari peran orang tua dalam mengasuh anak dari kecil hingga dewasa.

Dikatakannya, jika orang tua tidak bisa memberikan pengasuhan yang sesuai dengan norma-norma yang ada, maka seorang anak berpotensi mengalami penyimpangan dalam mempraktekkan normal-norma yang baik.

“Kondisi ini, juga bisa mengarahkan seorang anak menjadi orang yang anti sosial dalam kehidupannya. Sehingga tindakan atau keputusan yang diambil tidak dilakukan berdasarkan norma-norma yang sesuai dan berpotensi memberikan kerugian secara mental bagi si anak,” pungkasnya.

 






Reporter: IGA Kusuma Yoni

Most Read

Artikel Terbaru

/