alexametrics
25.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Wajah Baru Perayaan Galungan di Masa Pandemi Covid-19

Hari Suci Galungan dirayakan setiap 210 hari atau enam bulan sekali oleh umat Hindu. Dasar perhitungannya menggunakan pawukon dan jatuh setiap hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan (Budha Kliwon Dungulan). 

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa “Budha Kliwon Dungulan ngaran galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep.” Maksudnya, Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. 

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud Dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud Adharma. Dari lontar Sundarigama inilah didapatkan hakikat Galungan adalah merayakan menangnya Dharma melawan Adharma. 

Goris dalam buku Prasati Bali I menyebutkan, menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi.

Disebutkan “Punang aci galungan ika ngawit, Buta, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya” (Perayaan Hari Suci Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, Dungulan sasih Kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka). 

Banyak nilai spirit penting yang diajarkan dalam perayaan hari suci terbesar bagi umat Hindu ini. Momentum Galungan yang dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma sejatinya ada dalam diri tiap individu,  dimana  umat sedharma dituntut mampu memahami agama secara teori maupun prakteknya.

Pada kalender tahun 2020 ini, umat Hindu merayakan 2 (dua) kali perayaan hari suci Galungan, yaitu jatuh pada Budha Kliwon Dungulan tanggal 19 Februari 2020 dan Budha Kliwon Dungulan, 16 September 2020. Berbeda dengan perayaan Galungan 

19 Februari 2020, ketika dampak pandemi Covid-19 belum begitu terasa, khususnya bagi umat Hindu di Bali. Kali ini perayaan hari suci Galungan yang jatuh, Rabu, 16 September 2020, tentu berpotensi menampilkan ‘wajah baru’ yang berbeda dengan perayaan Galungan sebelumnya, mengingat dunia saat ini sedang dilanda pandemi Covid-19. 

Perayaan Galungan kali ini menjadi ritual penting bagi umat sedharma dalam bernegosiasi dengan alam dan penyucian diri (Bhuwana Alit) maupun alam (Bhuwana Agung), agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan kehidupan umat manusia normal kembali. 

Pandemi Covid-19 awalnya adalah soal virus, soal kesehatan. Namun, tak terbantahkan, implikasinya menyeruak ke seluruh sendi-sendi kehidupan umat, tidak terkecuali umat Hindu. Tidak bisa dipungkiri kondisi pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), yang melanda  semesta  saat  ini,  juga berpengaruh pada pelaksanaan upacara yadnya.

Pelaksanaan yadnya di saat pandemi berlangsung dengan pembatasan waktu dan interaksi masyarakat, namun bukan berarti menurunkan kualitas yadnya itu sendiri. 

Umat Hindu seolah dipaksa mampu memaknai tradisi, agama, dan spiritualitas secara lebih mendalam. Umat Hindu percaya bahwa semua yang ada dalam kehidupan, termasuk manusia dan alam semesta adalah perwujudan dari ┼Ťakti, energi Sang Kesadaran Tertinggi. 

Penting juga untuk diketahui bahwa manusia sebagai umat beragama adalah suatu makhluk ‘Somato-psiko-sosial.’ Dan, karena itu, maka suatu pendekatan terhadap umat manusia harus menyangkut semua unsur somatik, psikologik, dan sosial. 

Otoritas pemerintahan menerbitkan berbagai intruksi, surat edaran, imbauan, hingga pembentukan Satgas (satuan tugas) Gotong Royong Penanganan Covid-19 berbasis Desa Adat. Surat edaran bersama dengan PHDI (Parisada Hindu Dharma), Majelis Desa Adat (MDA), dan Pemerinta Provinsi Bali, tentu akan memberikan dampak pada giat pelaksanaan yadnya umat Hindu di Bali, termasuk pada perayaan hari suci Galungan yang tinggal beberapa hari lagi.

Tidak seperti Galungan sebelumnya, hari suci Galungan kali ini akan ‘dilengkapai’ dengan alat-alat protokol kesehatan, seperti tempat cuci tangan, masker, thermo gun, hand sanitizer, disinfektan, Satgas Covid-19, serta pembatasan ruang sosio religius umat sedharma dalam ber-yadnya. 

Semua alat tersebut seolah ikut menyemarakkan perayaan Galungan yang seakan ‘terdengar’ kontradiktif dengan Galungan yang dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. 

Hari suci Galungan yang umumnya dirayakan dengan sembahyang bersama umat Hindu di masing-masing desa adat secara bersama-sama, tentu perlu dievaluasi ulang untuk meminimalisasi sebaran virus Korona. 

Kehadiran umat sedharama dalam waktu bersamaan, tentu berpeluang memenuhi ruang-ruang sosio religius kawasan suci pura. Pola kebersamaan dalam persembahyangan harus dibatasi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19.

Memperhatikan protokol kesehatan serta batasan jarak fisik dan jarak sosial atau dikenal dengan physical and social distancing, menjadi hal wajib yang secara konsisten harus ditaati umat Hindu secara menyeluruh dalam merayakan hari suci Galungan kali ini. 

Imbauan ini tentu tidaklah sembarangan mengingat  timbulnya  sejumlah  kasus  besar penyebaran virus Korona di Bali beberapa hari terakhir menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan, dimana giat upacara dikatakan menjadi salah satu klaster penyebaran virus Korona. 

Menyikapi wabah ini, umat Hindu dalam menjalankan sraddha dan bhakti kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya dan kepada roh suci leluhur yang ber-stana diberbagai pura yang ada, pada perayaan Galungan ini, harus ditata sedemikian rupa demi ajeg-nya umat Hindu itu sendiri. 

Sejumlah kasus dan modifikasi kegiatan seremonial keagamaan tersebut, menjadi pembelajaran berharga dalam praksis berupacara yang melibatkan banyak massa bagi umat Hindu, khususnya yang ada di Bali. 

Secara sederhana, dalam kitab Waraspatitattwa kita dapat merealisasikan tujuh (7) macam perbuatan yang disebut Dharma dan sekaligus mampu menjadi solusi menekan penyebaran virus Korona pada saat perayaan hari suci Galungan, yaitu: 1) Sila, yakni senantiasa berbuat baik dan benar. Baik dan benar sesuai perintah agama dan negara (Dharma Agama dan Dharma Negara)

Kedua (2) Yadnya, yakni ikhlas berkorban. Yadnya tidaklah hanya terbatas pada pengertian upakara dan upacara saja, melainkan mengembangkan kasih sayang pada sesama umat beragama dan keikhlasan untuk saling menjaga demi kesehatan dan keselamatan bersama.

Ketiga (3) Tapa, pengekangan dan pengendalian diri. Tapa menjadi penting pada perayaan Galungan kali ini, karena dengan pengekangan dan pengendalian diri sesama umat sedharma akan saling melindungi dari serangan pandemi Covid-19.

Selanjutnya yang keempat (4) Dana, memberikan pertolongan atau bantuan kepada yang memerlukan bantuan. Dalam Hindu secara tegas dinyatakan bahwa gotong royong saling menolong merupakan bentuk yadnya dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang disebut dengan nama Daridra Narayana. Selanjutnya yang kelima (5) Prawrijya, yakni mengembara menambah ilmu pengetahuan atau kerohanian (spiritual).

Pada masa pandemi Covid-19, sebaiknya dimaknai sebagai momentum untuk menghargai waktu kebersamaan dalam keluarga. Prawrijya dalam hal ini dapat kita maknai sebagai sebuah upaya sosio religius melalui ilmu pengetahuan untuk membantu sesama umat memerangi pandemi ini.

Kemudian yang keenam (6) Diksa, penyucian diri dan pembersihan diri merupakan hal sangat direkomendasikan dalam situasi sekarang, baik dari sudut pandang agama maupun kesehatan. Dan, yang terakhir (7) Yoga, senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. 

Dengan melaksanakan ketujuh butir-butir perbuatan tersebut, sesungguhnya kita sudah dapat mengamalkan ajaran agama Hindu dan memaknai hari suci Galungan secara lebih mendalam.

Aktualisasi dari ajaran ini dikaitkan dengan masalah-masalah kekinian, misalnya dengan meningkatkan solidaritas sosial (kesetiakawanan sosial), membantu program pemerintah mengendalikan pandemi Covid-19, mengembangkan moralitas dan mentalitas yang baik dan positif, serta senantiasa aktif membangun ketahanan masyarakat umat beragama. 

Pandemi Covid-19 bukan kutukan, bukan pula berkah. Ia seperti angin puting beliung yang datang tiba-tiba. Ia seperti gempa yang meretak di kerak bumi. Semuanya bagian dari ‘keselarasan kosmik’ yang diselaras dengan kekuatan Rta. Rahajeng Nyanggra Hari Suci Galungan.


Hari Suci Galungan dirayakan setiap 210 hari atau enam bulan sekali oleh umat Hindu. Dasar perhitungannya menggunakan pawukon dan jatuh setiap hari Rabu Kliwon Wuku Dungulan (Budha Kliwon Dungulan). 

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa “Budha Kliwon Dungulan ngaran galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep.” Maksudnya, Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. 

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud Dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud Adharma. Dari lontar Sundarigama inilah didapatkan hakikat Galungan adalah merayakan menangnya Dharma melawan Adharma. 

Goris dalam buku Prasati Bali I menyebutkan, menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi.

Disebutkan “Punang aci galungan ika ngawit, Buta, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya” (Perayaan Hari Suci Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, Dungulan sasih Kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka). 

Banyak nilai spirit penting yang diajarkan dalam perayaan hari suci terbesar bagi umat Hindu ini. Momentum Galungan yang dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma sejatinya ada dalam diri tiap individu,  dimana  umat sedharma dituntut mampu memahami agama secara teori maupun prakteknya.

Pada kalender tahun 2020 ini, umat Hindu merayakan 2 (dua) kali perayaan hari suci Galungan, yaitu jatuh pada Budha Kliwon Dungulan tanggal 19 Februari 2020 dan Budha Kliwon Dungulan, 16 September 2020. Berbeda dengan perayaan Galungan 

19 Februari 2020, ketika dampak pandemi Covid-19 belum begitu terasa, khususnya bagi umat Hindu di Bali. Kali ini perayaan hari suci Galungan yang jatuh, Rabu, 16 September 2020, tentu berpotensi menampilkan ‘wajah baru’ yang berbeda dengan perayaan Galungan sebelumnya, mengingat dunia saat ini sedang dilanda pandemi Covid-19. 

Perayaan Galungan kali ini menjadi ritual penting bagi umat sedharma dalam bernegosiasi dengan alam dan penyucian diri (Bhuwana Alit) maupun alam (Bhuwana Agung), agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan kehidupan umat manusia normal kembali. 

Pandemi Covid-19 awalnya adalah soal virus, soal kesehatan. Namun, tak terbantahkan, implikasinya menyeruak ke seluruh sendi-sendi kehidupan umat, tidak terkecuali umat Hindu. Tidak bisa dipungkiri kondisi pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), yang melanda  semesta  saat  ini,  juga berpengaruh pada pelaksanaan upacara yadnya.

Pelaksanaan yadnya di saat pandemi berlangsung dengan pembatasan waktu dan interaksi masyarakat, namun bukan berarti menurunkan kualitas yadnya itu sendiri. 

Umat Hindu seolah dipaksa mampu memaknai tradisi, agama, dan spiritualitas secara lebih mendalam. Umat Hindu percaya bahwa semua yang ada dalam kehidupan, termasuk manusia dan alam semesta adalah perwujudan dari ┼Ťakti, energi Sang Kesadaran Tertinggi. 

Penting juga untuk diketahui bahwa manusia sebagai umat beragama adalah suatu makhluk ‘Somato-psiko-sosial.’ Dan, karena itu, maka suatu pendekatan terhadap umat manusia harus menyangkut semua unsur somatik, psikologik, dan sosial. 

Otoritas pemerintahan menerbitkan berbagai intruksi, surat edaran, imbauan, hingga pembentukan Satgas (satuan tugas) Gotong Royong Penanganan Covid-19 berbasis Desa Adat. Surat edaran bersama dengan PHDI (Parisada Hindu Dharma), Majelis Desa Adat (MDA), dan Pemerinta Provinsi Bali, tentu akan memberikan dampak pada giat pelaksanaan yadnya umat Hindu di Bali, termasuk pada perayaan hari suci Galungan yang tinggal beberapa hari lagi.

Tidak seperti Galungan sebelumnya, hari suci Galungan kali ini akan ‘dilengkapai’ dengan alat-alat protokol kesehatan, seperti tempat cuci tangan, masker, thermo gun, hand sanitizer, disinfektan, Satgas Covid-19, serta pembatasan ruang sosio religius umat sedharma dalam ber-yadnya. 

Semua alat tersebut seolah ikut menyemarakkan perayaan Galungan yang seakan ‘terdengar’ kontradiktif dengan Galungan yang dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. 

Hari suci Galungan yang umumnya dirayakan dengan sembahyang bersama umat Hindu di masing-masing desa adat secara bersama-sama, tentu perlu dievaluasi ulang untuk meminimalisasi sebaran virus Korona. 

Kehadiran umat sedharama dalam waktu bersamaan, tentu berpeluang memenuhi ruang-ruang sosio religius kawasan suci pura. Pola kebersamaan dalam persembahyangan harus dibatasi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19.

Memperhatikan protokol kesehatan serta batasan jarak fisik dan jarak sosial atau dikenal dengan physical and social distancing, menjadi hal wajib yang secara konsisten harus ditaati umat Hindu secara menyeluruh dalam merayakan hari suci Galungan kali ini. 

Imbauan ini tentu tidaklah sembarangan mengingat  timbulnya  sejumlah  kasus  besar penyebaran virus Korona di Bali beberapa hari terakhir menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan, dimana giat upacara dikatakan menjadi salah satu klaster penyebaran virus Korona. 

Menyikapi wabah ini, umat Hindu dalam menjalankan sraddha dan bhakti kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya dan kepada roh suci leluhur yang ber-stana diberbagai pura yang ada, pada perayaan Galungan ini, harus ditata sedemikian rupa demi ajeg-nya umat Hindu itu sendiri. 

Sejumlah kasus dan modifikasi kegiatan seremonial keagamaan tersebut, menjadi pembelajaran berharga dalam praksis berupacara yang melibatkan banyak massa bagi umat Hindu, khususnya yang ada di Bali. 

Secara sederhana, dalam kitab Waraspatitattwa kita dapat merealisasikan tujuh (7) macam perbuatan yang disebut Dharma dan sekaligus mampu menjadi solusi menekan penyebaran virus Korona pada saat perayaan hari suci Galungan, yaitu: 1) Sila, yakni senantiasa berbuat baik dan benar. Baik dan benar sesuai perintah agama dan negara (Dharma Agama dan Dharma Negara)

Kedua (2) Yadnya, yakni ikhlas berkorban. Yadnya tidaklah hanya terbatas pada pengertian upakara dan upacara saja, melainkan mengembangkan kasih sayang pada sesama umat beragama dan keikhlasan untuk saling menjaga demi kesehatan dan keselamatan bersama.

Ketiga (3) Tapa, pengekangan dan pengendalian diri. Tapa menjadi penting pada perayaan Galungan kali ini, karena dengan pengekangan dan pengendalian diri sesama umat sedharma akan saling melindungi dari serangan pandemi Covid-19.

Selanjutnya yang keempat (4) Dana, memberikan pertolongan atau bantuan kepada yang memerlukan bantuan. Dalam Hindu secara tegas dinyatakan bahwa gotong royong saling menolong merupakan bentuk yadnya dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang disebut dengan nama Daridra Narayana. Selanjutnya yang kelima (5) Prawrijya, yakni mengembara menambah ilmu pengetahuan atau kerohanian (spiritual).

Pada masa pandemi Covid-19, sebaiknya dimaknai sebagai momentum untuk menghargai waktu kebersamaan dalam keluarga. Prawrijya dalam hal ini dapat kita maknai sebagai sebuah upaya sosio religius melalui ilmu pengetahuan untuk membantu sesama umat memerangi pandemi ini.

Kemudian yang keenam (6) Diksa, penyucian diri dan pembersihan diri merupakan hal sangat direkomendasikan dalam situasi sekarang, baik dari sudut pandang agama maupun kesehatan. Dan, yang terakhir (7) Yoga, senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. 

Dengan melaksanakan ketujuh butir-butir perbuatan tersebut, sesungguhnya kita sudah dapat mengamalkan ajaran agama Hindu dan memaknai hari suci Galungan secara lebih mendalam.

Aktualisasi dari ajaran ini dikaitkan dengan masalah-masalah kekinian, misalnya dengan meningkatkan solidaritas sosial (kesetiakawanan sosial), membantu program pemerintah mengendalikan pandemi Covid-19, mengembangkan moralitas dan mentalitas yang baik dan positif, serta senantiasa aktif membangun ketahanan masyarakat umat beragama. 

Pandemi Covid-19 bukan kutukan, bukan pula berkah. Ia seperti angin puting beliung yang datang tiba-tiba. Ia seperti gempa yang meretak di kerak bumi. Semuanya bagian dari ‘keselarasan kosmik’ yang diselaras dengan kekuatan Rta. Rahajeng Nyanggra Hari Suci Galungan.


Most Read

Artikel Terbaru

/