alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Oleh: Rivaldi Andrian*

Bersinergi Mencegah Potensi Gelombang Omicron

Masyarakat dan Pemerintah perlu meningkatkan sinergitas untuk mencegah potensi gelombang Omicron. Meskipun beberapa kasus hanya menyebabkan gejala ringan, Omicron tetap patut diwaspadai seiring tingginya penyebaran varian tersebut.
Kabar kurang mengenakkan terkait Covid-19 varian Omicron kembali beredar, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengalami gelombang baru penularan Covid-19 akibat varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan tersebut. Meski demikian, dirinya mengatakan agar masyarakat tidak panik namun tetap waspada.
Kini varian Omicron telah teridentifikasi di 150 negara dan menimbulkan gelombang baru dengan puncak yang lebih tinggi di berbagai negara. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus Covid-19 per 11 Januari 2022 telah mencapai 802 kasus, yang mayoritasnya disumbangkan pada pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).
Adapun dari 537 kasus yang terpusat di Jakarta, 435 kasus berasal dari PPLN. Pemerintah pun memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak bepergian ke luar negari dalam 2-3 minggu ke depan. Pihaknya juga akan terus memonitor secara ketat perkembangan kasus dan akan mengambil langkah antisipasi yang diperlukan.
Selain kasus konfirmasi, angka probable Omicron juga terus mengalami peningkatan. Hingga 10 Januari 2022 lalu telah terdeteksi sebanyak 1.384 probable Omicron yang didapatkan dari SGTF.
Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kalau kita perhatikan, terlihat juga peningkatan yang signifikan dari angka kasus harian di mana dari sejumlah 454 menjadi 802, naik hampir dua kali lipat. Nadia mengungkapkan, masyarakat harus bersiap menghadapi gelombang Omicron, mengingat karakteristik Omicron yang memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat.
Namun, dilihat dari tingkat keparahan, mayoritas kasus omicron tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan. Sehingga tidak membutuhkan perawatan yang serius di rumah sakit. Untuk itu pihaknya akan menggencarkan telemedicine yang didedikasikan bagi pasien yang melakukan isolasi di rumah. Selain itu dari sisi terapeutik, Kemenkes juga akan menyertakan penggunaan obat Monulpiravir dan Plaxlovid untuk terapi pasien Covid-19 dengan gejala ringan.
Dari sisi Tracing, Pemerintah akan meningkatkan penemuan kasus aktif dengan mengoptimalkan tracing menjadi lebih dari 30 per kasus positif. Selain itu juga akan dilakukan pemeriksaan WGS pada level komunitas dengan target 1.700 sampai 2.000 WGS setiap bulannya.
Dirinya juga menambahkan, pemerintah juga memulai vaksinasi booster Covid-19 bagi kelompok usia 18 tahun ke atas, untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan dari Covid-19 termasuk Omicron.
Pasien covid-19 varian Omicron rupanya tidak menunjukkan gejala yang tidak biasa dan berbeda dari yang diperlihatkan penderita Covid sebelumnya. Batuk atau kehilangan indera perasa dan penciuman (anosmia) ternyata tidak ditemukan para penderita Omicron.
Dokter di Afrika Selatan yang melihat virus pertama kali menyatakan bahwa varian Omicron memiliki gejala sangat ringan. Beberapa diantaa gejalanya adalah kelelahan dan juga tenggorokan yang gatal. Hal yang sama juga dikatakan oleh Albert Bourla, CEO Pfizer, Penderita varian Omicron memiliki gejala ringan, sayangnya varian ini bisa menyebarkan virus dengan lebih cepat dan juga banyak mutasi ke depannya.
Secara umum, varian Omicron memang memiliki gejala yang berbeda dengan varian Delta. Saat itu lebih banyak pasien dengan gejala lebih berat. Kebutuhan akan oksigen dan perawatan di rumah sakit juga melonjak tajam saat varian Delta pertama kali menyerang pertengahan tahun lalu.
Hal berbeda terlihat saat varian Omicron mulai menyebar. Laporan dari penelitian medis Afrika Selatan dari sejumlah rumah sakit di provinsi Gauteng, terlihat varian Omicron menyebabkan gejala lebih ringan. Tidak ada peningkatan kebutuhan oksigen dan perawatan intensif pada pasien Omicron. Sebagai informasi Gauteng adalah wilayah yang pertama kali Omicron terdeteksi.
Laporan yang sama juga menyatakan bahwa sebagian besar pasien adalah penerimaan Covid-19 insidental, yaitu telah berada di rumah sakit untuk alasan medis lain atau bedah. Selain itu, vaksinasi juga menjadi faktor penentu pada penularan Omicron. Dilaporkan pasien yang dirawat adalah mereka yang tidak mendapatkan vaksinasi.
Perlu kita ketahui bahwa varian Omicron telah tiba di Indonesia, tentu saja sikap waspada serta kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan vaksinasi menjadi langkah yang bisa ditempuh untuk meredam kemungkinan gelombang omicron di Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute


Masyarakat dan Pemerintah perlu meningkatkan sinergitas untuk mencegah potensi gelombang Omicron. Meskipun beberapa kasus hanya menyebabkan gejala ringan, Omicron tetap patut diwaspadai seiring tingginya penyebaran varian tersebut.
Kabar kurang mengenakkan terkait Covid-19 varian Omicron kembali beredar, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengalami gelombang baru penularan Covid-19 akibat varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan tersebut. Meski demikian, dirinya mengatakan agar masyarakat tidak panik namun tetap waspada.
Kini varian Omicron telah teridentifikasi di 150 negara dan menimbulkan gelombang baru dengan puncak yang lebih tinggi di berbagai negara. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus Covid-19 per 11 Januari 2022 telah mencapai 802 kasus, yang mayoritasnya disumbangkan pada pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).
Adapun dari 537 kasus yang terpusat di Jakarta, 435 kasus berasal dari PPLN. Pemerintah pun memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak bepergian ke luar negari dalam 2-3 minggu ke depan. Pihaknya juga akan terus memonitor secara ketat perkembangan kasus dan akan mengambil langkah antisipasi yang diperlukan.
Selain kasus konfirmasi, angka probable Omicron juga terus mengalami peningkatan. Hingga 10 Januari 2022 lalu telah terdeteksi sebanyak 1.384 probable Omicron yang didapatkan dari SGTF.
Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kalau kita perhatikan, terlihat juga peningkatan yang signifikan dari angka kasus harian di mana dari sejumlah 454 menjadi 802, naik hampir dua kali lipat. Nadia mengungkapkan, masyarakat harus bersiap menghadapi gelombang Omicron, mengingat karakteristik Omicron yang memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat.
Namun, dilihat dari tingkat keparahan, mayoritas kasus omicron tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan. Sehingga tidak membutuhkan perawatan yang serius di rumah sakit. Untuk itu pihaknya akan menggencarkan telemedicine yang didedikasikan bagi pasien yang melakukan isolasi di rumah. Selain itu dari sisi terapeutik, Kemenkes juga akan menyertakan penggunaan obat Monulpiravir dan Plaxlovid untuk terapi pasien Covid-19 dengan gejala ringan.
Dari sisi Tracing, Pemerintah akan meningkatkan penemuan kasus aktif dengan mengoptimalkan tracing menjadi lebih dari 30 per kasus positif. Selain itu juga akan dilakukan pemeriksaan WGS pada level komunitas dengan target 1.700 sampai 2.000 WGS setiap bulannya.
Dirinya juga menambahkan, pemerintah juga memulai vaksinasi booster Covid-19 bagi kelompok usia 18 tahun ke atas, untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan dari Covid-19 termasuk Omicron.
Pasien covid-19 varian Omicron rupanya tidak menunjukkan gejala yang tidak biasa dan berbeda dari yang diperlihatkan penderita Covid sebelumnya. Batuk atau kehilangan indera perasa dan penciuman (anosmia) ternyata tidak ditemukan para penderita Omicron.
Dokter di Afrika Selatan yang melihat virus pertama kali menyatakan bahwa varian Omicron memiliki gejala sangat ringan. Beberapa diantaa gejalanya adalah kelelahan dan juga tenggorokan yang gatal. Hal yang sama juga dikatakan oleh Albert Bourla, CEO Pfizer, Penderita varian Omicron memiliki gejala ringan, sayangnya varian ini bisa menyebarkan virus dengan lebih cepat dan juga banyak mutasi ke depannya.
Secara umum, varian Omicron memang memiliki gejala yang berbeda dengan varian Delta. Saat itu lebih banyak pasien dengan gejala lebih berat. Kebutuhan akan oksigen dan perawatan di rumah sakit juga melonjak tajam saat varian Delta pertama kali menyerang pertengahan tahun lalu.
Hal berbeda terlihat saat varian Omicron mulai menyebar. Laporan dari penelitian medis Afrika Selatan dari sejumlah rumah sakit di provinsi Gauteng, terlihat varian Omicron menyebabkan gejala lebih ringan. Tidak ada peningkatan kebutuhan oksigen dan perawatan intensif pada pasien Omicron. Sebagai informasi Gauteng adalah wilayah yang pertama kali Omicron terdeteksi.
Laporan yang sama juga menyatakan bahwa sebagian besar pasien adalah penerimaan Covid-19 insidental, yaitu telah berada di rumah sakit untuk alasan medis lain atau bedah. Selain itu, vaksinasi juga menjadi faktor penentu pada penularan Omicron. Dilaporkan pasien yang dirawat adalah mereka yang tidak mendapatkan vaksinasi.
Perlu kita ketahui bahwa varian Omicron telah tiba di Indonesia, tentu saja sikap waspada serta kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan vaksinasi menjadi langkah yang bisa ditempuh untuk meredam kemungkinan gelombang omicron di Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute


Most Read

Artikel Terbaru

/