27.6 C
Denpasar
Thursday, September 29, 2022

Oleh: Sabby Kosay*

Mewaspadai Manuver KST Papua Jelang HUT RI

Masyarakat diminta untuk mewaspadai manuver Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua menjelang peringatan HUT RI ke 77. Tidak menutup kemungkinan, gerombolan tersebut akan melakukan aksi teror guna mengacaukan situasi agar perayaan HUT RI tidak berjalan lancar.

Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 dan dirayakan meriah tiap tahunnya. Sejak awal Agustus, masyarakat sibuk menghias kampung, mempersiapkan upacara, dan lain sebagainya. Termasuk juga di Papua, warganya turut memeriahkan Agustusan dengan mengibarkan bendera merah putih dan menanamkan nasionalisme ke anak-anak.

Namun sayangnya kemeriahan agustusan di Papua terancam oleh serangan KST. Mereka merasa iri lalu mengancam warga di Bumi Cendrawasih, karena mengibarkan bendera merah putih alih-alih bendera bintang kejora (yang jadi bendera lambang kemerdekaan Papua Barat). Masyarakat wajib mewaspadai KST jelang HUT RI karena bukan tidak mungkin mereka melakukan serangan demi serangan yang membahayakan banyak orang.

Polisi terus melakukan pengamanan jelang peringatan HUT RI, di Distrik Tembagapura. Di sana bukan hanya ada tambang tembaga tetapi juga pemukiman warga yang butuh proteksi. Pengamanan dinamakan dengan Patroli Cipta Kondisi, yang dipimpin oleh Kapolsek Tembagapura AKP Ahmad Dahlan, SE. Dalam patroli ini anggotanya selain dari Polsek Tembagapura, juga dari Satgas Damai Cartenz.

Pengamanan dilakukan dengan ketat oleh pasukan Patroli Cipta Kondisi, karena Distrik Tembagapura termasuk rawan dari serangan KST. Patroli dimulai dari jalan pembuangan sampai ke Kampung WaaBanti dan Kimbeli. AKP Ahmad Dahlan, Kapolsek Tembagapura, menyatakan bahwa patroli dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam beraktivitas, apalagi jelang HUT RI. Patroli juga merupakan atensi dari Kepolisian.

Baca Juga :  Pihak KontraS dan Lokataru Tak Hadir, Luhut Tutup Pintu Mediasi 

Masyarakat di Distrik Tembagapura merasa senang karena ada Patroli Cipta Kondisi karena mereka mendapatkan perhatian dari Polsek Tembagapura. Perhatian ini juga membuktikan bahwa polisi adalah sahabat rakyat. Atensi dari Polsek sangat berharga karena di  Distrik Tembagapura rawan serangan dan pernah diduduki oleh KST tahun 2020 lalu.

Dengan pengamanan dari Polsek Tembagapura maka akan melancarkan kegiatan warga di Distrik Tembagapura dan sekitarnya. Mereka bisa mengadakan lomba-lomba tanpa takut akan serangan KST. Juga mengibarkan bendera merah putih dengan bangga lalu memotretnya dan mengunggahnya di media sosial.

Proteksi akan serangan dari KST memang wajib diketatkan karena mereka biasanya mengadakan serangan jelang peringatan HUT RI. Pertama, yang dipermasalahkan tentu pemasangan bendera, karena KST tidak suka bendera Indonesia (merah putih) tetapi meminta warga Papua mengibarkan bendera bintang kejora. Padahal warga paham bahwa bendera bintang kejora adalah lambang pemberontakan.

Masyarakat Papua tentu menolak mengibarkan bendera bintang kejora walau hanya versi kecilnya. Hal ini yang memicu konflik dan membuat anggota KST berang, lalu melakukan penyerangan. Mereka merasa terjajah oleh Indonesia dan mengajak agar OAP juga anti Indonesia, tetapi tidak mendapatkan dukungan.

Konflik lain juga muncul ketika aparat mengetatkan pengamanan di seluruh wilayah Papua. Pengamanan dilakukan untuk memproteksi warga dari serangan KST tetapi mereka malah salah dan mengartikannya sebagai ajakan perang. KST lalu menyerang aparat, baik dengan senjata tajam maupun senjata api.

Serangan KST patut diwaspadai karena tahun 2019 lalu, mereka melakukannya di Jalan Trans Wamena-Habema dan menyebabkan 2 prajurit TNI terluka. Jangan sampai serangan terjadi lagi dan menyebabkan korban luka bahkan korban jiwa. Oleh karena itu wajar jika pengamanan diperketat jelang HUT RI.

Baca Juga :  UU Cipta Kerja Cegah Praktik Pungutan Liar

Manuver KST tidak hanya di tengah masyarakat tetapi juga di dunia maya. Masyarakat Papua patut mewaspadai karena mulai tersebar hoaks yang dibuat oleh KKB. Mereka sengaja membuat akun sosial media lalu melemparkan isu tentang pemberantasan Ras Melanesia yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Lantas mengajak warga untuk ikut memberontak dan bersikap anti pemerintah.

Padahal tidak ada pemberantasan ras seperti itu karena melanggar hukum di Indonesia. Hoaks seperti itu hanyalah karangan KST agar mendapat simpati dari warga. Masyarakat Papua diharap teliti dan tidak terpantik emosinya, dan tetap merayakan agustusan dengan gembira.

Warga Papua wajib mewaspadai manuver KST di sosial media dan tidak turut menyebarkannya. Ingatlah bahwa KST adalah kelompok pemberontak dan mereka selalu mencari cara agar banyak pendukungnya. Mereka juga ingin saat bulan Agustus warga jangan sampai ikut merayakan HUT RI.

Masyarakat jangan terpicu oleh hoaks KST dan tetap memperingati agustusan dengan gembira. Sebagai warga negara yang baik tentu akan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Juga mengibarkan bendera merah putih dengan bangga dan menolak keberadaan bendera bintang kejora.

Masyarakat di Bumi Cendrawasih wajib mewaspadai manuver yang dilakukan oleh KST karena mereka biasanya melakukan penyerangan jelang HUT RI. Pengamanan di Papua juga diperketat agar mencegah serangan KST. Masyarakat bisa merayakan agustusan dengan aman tanpa takut akan KST.

 

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

 


Masyarakat diminta untuk mewaspadai manuver Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua menjelang peringatan HUT RI ke 77. Tidak menutup kemungkinan, gerombolan tersebut akan melakukan aksi teror guna mengacaukan situasi agar perayaan HUT RI tidak berjalan lancar.

Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 dan dirayakan meriah tiap tahunnya. Sejak awal Agustus, masyarakat sibuk menghias kampung, mempersiapkan upacara, dan lain sebagainya. Termasuk juga di Papua, warganya turut memeriahkan Agustusan dengan mengibarkan bendera merah putih dan menanamkan nasionalisme ke anak-anak.

Namun sayangnya kemeriahan agustusan di Papua terancam oleh serangan KST. Mereka merasa iri lalu mengancam warga di Bumi Cendrawasih, karena mengibarkan bendera merah putih alih-alih bendera bintang kejora (yang jadi bendera lambang kemerdekaan Papua Barat). Masyarakat wajib mewaspadai KST jelang HUT RI karena bukan tidak mungkin mereka melakukan serangan demi serangan yang membahayakan banyak orang.

Polisi terus melakukan pengamanan jelang peringatan HUT RI, di Distrik Tembagapura. Di sana bukan hanya ada tambang tembaga tetapi juga pemukiman warga yang butuh proteksi. Pengamanan dinamakan dengan Patroli Cipta Kondisi, yang dipimpin oleh Kapolsek Tembagapura AKP Ahmad Dahlan, SE. Dalam patroli ini anggotanya selain dari Polsek Tembagapura, juga dari Satgas Damai Cartenz.

Pengamanan dilakukan dengan ketat oleh pasukan Patroli Cipta Kondisi, karena Distrik Tembagapura termasuk rawan dari serangan KST. Patroli dimulai dari jalan pembuangan sampai ke Kampung WaaBanti dan Kimbeli. AKP Ahmad Dahlan, Kapolsek Tembagapura, menyatakan bahwa patroli dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dalam beraktivitas, apalagi jelang HUT RI. Patroli juga merupakan atensi dari Kepolisian.

Baca Juga :  Jadilah Saksi untuk Keberlanjutan Kepemimpinan Nasional

Masyarakat di Distrik Tembagapura merasa senang karena ada Patroli Cipta Kondisi karena mereka mendapatkan perhatian dari Polsek Tembagapura. Perhatian ini juga membuktikan bahwa polisi adalah sahabat rakyat. Atensi dari Polsek sangat berharga karena di  Distrik Tembagapura rawan serangan dan pernah diduduki oleh KST tahun 2020 lalu.

Dengan pengamanan dari Polsek Tembagapura maka akan melancarkan kegiatan warga di Distrik Tembagapura dan sekitarnya. Mereka bisa mengadakan lomba-lomba tanpa takut akan serangan KST. Juga mengibarkan bendera merah putih dengan bangga lalu memotretnya dan mengunggahnya di media sosial.

Proteksi akan serangan dari KST memang wajib diketatkan karena mereka biasanya mengadakan serangan jelang peringatan HUT RI. Pertama, yang dipermasalahkan tentu pemasangan bendera, karena KST tidak suka bendera Indonesia (merah putih) tetapi meminta warga Papua mengibarkan bendera bintang kejora. Padahal warga paham bahwa bendera bintang kejora adalah lambang pemberontakan.

Masyarakat Papua tentu menolak mengibarkan bendera bintang kejora walau hanya versi kecilnya. Hal ini yang memicu konflik dan membuat anggota KST berang, lalu melakukan penyerangan. Mereka merasa terjajah oleh Indonesia dan mengajak agar OAP juga anti Indonesia, tetapi tidak mendapatkan dukungan.

Konflik lain juga muncul ketika aparat mengetatkan pengamanan di seluruh wilayah Papua. Pengamanan dilakukan untuk memproteksi warga dari serangan KST tetapi mereka malah salah dan mengartikannya sebagai ajakan perang. KST lalu menyerang aparat, baik dengan senjata tajam maupun senjata api.

Serangan KST patut diwaspadai karena tahun 2019 lalu, mereka melakukannya di Jalan Trans Wamena-Habema dan menyebabkan 2 prajurit TNI terluka. Jangan sampai serangan terjadi lagi dan menyebabkan korban luka bahkan korban jiwa. Oleh karena itu wajar jika pengamanan diperketat jelang HUT RI.

Baca Juga :  Mewaspadai Manuver KKSB Papua Jelang HUT 1 Desember

Manuver KST tidak hanya di tengah masyarakat tetapi juga di dunia maya. Masyarakat Papua patut mewaspadai karena mulai tersebar hoaks yang dibuat oleh KKB. Mereka sengaja membuat akun sosial media lalu melemparkan isu tentang pemberantasan Ras Melanesia yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Lantas mengajak warga untuk ikut memberontak dan bersikap anti pemerintah.

Padahal tidak ada pemberantasan ras seperti itu karena melanggar hukum di Indonesia. Hoaks seperti itu hanyalah karangan KST agar mendapat simpati dari warga. Masyarakat Papua diharap teliti dan tidak terpantik emosinya, dan tetap merayakan agustusan dengan gembira.

Warga Papua wajib mewaspadai manuver KST di sosial media dan tidak turut menyebarkannya. Ingatlah bahwa KST adalah kelompok pemberontak dan mereka selalu mencari cara agar banyak pendukungnya. Mereka juga ingin saat bulan Agustus warga jangan sampai ikut merayakan HUT RI.

Masyarakat jangan terpicu oleh hoaks KST dan tetap memperingati agustusan dengan gembira. Sebagai warga negara yang baik tentu akan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Juga mengibarkan bendera merah putih dengan bangga dan menolak keberadaan bendera bintang kejora.

Masyarakat di Bumi Cendrawasih wajib mewaspadai manuver yang dilakukan oleh KST karena mereka biasanya melakukan penyerangan jelang HUT RI. Pengamanan di Papua juga diperketat agar mencegah serangan KST. Masyarakat bisa merayakan agustusan dengan aman tanpa takut akan KST.

 

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

 


Most Read

Artikel Terbaru

/