alexametrics
25.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Pilih Mana, Desa Adat Besar atau Kecil?

LEBIH senang mana, menjadi krama di desa adat besar dengan wilayah luas dan jumlah krama yang melimpah ruah, atau jadi krama di desa adat kecil? Jika pertanyaan itu ditujukan kepada seorang remaja putra-putri yang sedang modis-modisnya, atau kepada bapak penghobi udeng antik dan ibu muda pengkoleksi kebaya baru, jawabannya mungkin bisa ditebak; “Pilih jadi krama di desa adat besar!” Alasannya? Jika ke Pura Tri Kahyangan, kita tak rugi tampil dengan fashion mutakhir seperti dalam lomba-lomba di Pesta Kesenian Bali.

Apa hubungannya desa adat besar, odalan di Pura, dengan fashion? Begini. Saat digelar odalan di Pura Desa, Puseh atau Dalem, atau Pura milik desa adat yang lain, krama di “desa adat besar” mungkin akan lebih bergairah untuk tampil lebih modis, bergaya, cantik, dan ganteng. Misalnya para remaja putri atau ibu-ibu bisa memilih kebaya modifikasi paling menarik sehingga bisa tampil cantik dan seksi, dan remaja putra serta bapak-bapak bisa mengenakan saput dan udeng terbaik, misalnya udeng paling eksentrik atau saput paling megah bak dikenakan raja-raja dalam pementasan drama gong.

Lho, lho, belum paham juga? Begini. “Desa adat besar”, berdasar perhitungan matematika, adalah desa adat yang di dalamnya terdiri dari banyak desa dinas atau kelurahan, dan tentu juga terdiri dari lebih banyak lagi banjar dinas. Satu desa adat bisa terdiri dari 15 desa dinas dan kelurahan. Luas wilayahnya bisa berhektar-hektar. Dan penduduknya tentu juga melimpah-ruah, bisa mencapai puluhan ribu jiwa.

Nah, jika kemudian digelar odalan di Pura Tri Kahyangan, krama yang pedek-tangkil tentu jumlahnya juga melimpah-ruah dan suasana jadi amatlah ramai plus meriah, mungkin tingkat kemeriahannya mirip-mirip dengan pujawali di Pura Sad Kahyangan atau Pura Kahyangan Jagat. Krama pun banyak yang tak saling mengenal karena berasal dari desa-desa dan banjar yang berbeda-beda.  Nah, nah, pada saat itulah naluri fashion jadi menemukan panggungnya. Jika tak sengaja berniat pamer, setidaknya krama adat punya rasa malu jika tak mengenakan pakaian sembahyang yang lebih baik dari biasanya, yang lebih istimewa dari umumnya, atau yang lebih fashionable dari pakaian adat sehari-hari.

Sedangkan di “desa adat kecil” biasanya kita  bertemu orang yang itu-itu saja, yakni orang yang sama yang kita temukan saat panen di sawah, saat ngopi di warung, atau saat upacara pernikahan di rumah tetangga. Jika saat odalan di Pura Tri Kahyangan pun kita menemukan orang-orang yang itu-itu juga, mungkin naluri untuk tampil secara fashionable menjadi tak menemukan gairahnya. Jadi, terdapat satu alasan yang tak begitu penting namun cukup masuk logika, bahwa memang lebih enak menjadi krama di desa adat yang besar.

Waduh, maaf-maaf. Tulisan ini cukup ngelantur bicara desa adat yang dimulai dengan persoalan fashion dan penampilan fisik. Padahal, sesungguhnya tulisan ini ingin bicara soal lain, bahwa secara logika dan hitung-hitungan satatistik dan matematika sederhana, memang ditemukan satu soal yang unik jika bicara soal desa adat.  Desa adat kecil di banyak daerah di Bali hanya mencakup satu desa dinas, bahkan banyak yang hanya mencakup satu banjar dinas. Sehingga jumlah kramanya pun bisa sama dengan jumlah penduduk banjar dinas, mungkin sekitaran 300 KK. Artinya, yang menjadi soal unik adalah; di satu daerah bisa terdapat desa adat gemuk yang di dalamnya terdapat lebih dari 10 desa dinas,  sebaliknya di daerah yang berbeda terdapat desa dinas yang di dalamnya bisa saja berisi lebih dari 10 desa adat kecil. Syarat terbentuknya desa adat bukanlah statistik semacam itu, namun lebih pada urusan lain, semisal kelengkapan tempat ibadah dan kuburan.

Di tengah keunikan semacam itu, maka gerak spiritual, sosial dan ekonomi di dalam desa adat juga menjadi unik. Fashion, kemeriahan, keramaian, penampilan fisik, dan hal-hal sejenisnya, mungkin termasuk alasan yang remeh-temeh untuk menyebutkan keunikan semacam itu. Juga alasan sosial yang remeh temeh untuk menyebut betapa asyiknya jika berada dalam guyuban desa adat yang gemuk dan besar, dengan jumlah krama yang melimpah, meski  tak saling mengenal secara fisik namun tetap saling asah-asih-asuh dalam satu kelompok, secara sekala maupun niskala.

Mari saya sampaikan alasan lain yang cukup penting dan serius. Seorang teman bercerita soal ayah-ayahan desa adat, tentang tugas, kewajiban, dan haknya sebagai krama desa adat. Teman ini adalah krama dari desa adat besar, sebuah desa adat yang di dalamnya terdapat lebih dari 10  desa dinas/kelurahan.  Di setiap desa dinas terbentuk satu banjar adat sehingga setidaknya desa adat itu memiliki 10 banjar adat dan 10 kelian banjar adat. 

Menurut sang teman, haknya sebagai krama jauh lebih besar dibanding tugas dan kewajiban selaku krama. Kalau odalan, kata dia, keluarganya tinggal melenggang sembahyang ke Pura. Tugas sebagai kesinoman, panitia upacara dan lain-lain, sudah diselesaikan krama yang lain, mungkin krama yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia sendiri bukan berarti tak mendapat tugas sebagai kesinoman atau pantia odalan, namun jadwal untuk jadi panitia, ia bisa lupa-lupa ingat, saking lamanya baru mendapat giliran dan jadwal jadi kesinoman. “Bisa lebih dari 10 tahun baru mendapat giliran jadi kesinoman atau pantia odalan,” kata dia.

Ah, masa sih? Hitungannya begini. Pada setiap odalan, yang menjadi panitia adalah satu banjar adat. Desa adat itu terdiri dari 10 banjar adat, artinya, masing-masing banjar adat mendapat giliran dalam hitungan 10 kali rentetan odalan di Pura Tri Kahyangan. Rentang waktunya bisa lima tahun sekali. Nah, pada saat mendapat giliran, banjar adat pun membuat jadwal giliran untuk kelompok tempekan, dan kelompok tempekan pun membuat kelompok kecil lagi. Artinya, bisa dibayangkan,  kelompok kecil di satu tempek bisa menunggu sampai bertahun-tahun untuk mendapat giliran menjadi kesinoman.

Seorang teman lain punya alasan lain kenapa ia lebih suka menjadi krama di desa adat yang besar. Alasannya sangat ekonomis. Jika harus urunan, misalnya untuk memperbaiki Pura atau untuk menggelar upacara besar, jumlah urunannya tentu jadi kecil. Alasan ini bisa dipahami dengan mudah. Jika desa adat memiliki 20 ribu krama, dan membutuhkan dana 200 juta untuk memperbaiki penyengker, maka masing-masing krama cukup urunan 10 ribu rupiah. Bayangkan jika desa adat itu punya 300 krama, berapa urunan yang harus dikeluarkan masing-masing krama?

Tapi, meski desa adat besar lebih menyenangkan, lebih irit dan lebih fashionable, setidaknya berdasarkan alasan-alasan sederhana semacam itu, ternyata banyak juga krama punya keinginan memekarkan desa adatnya menjadi dua, menjadi tiga atau menjadi lebih banyak. Banyak yang ternyata lebih suka berada dalam kelompok-kelompok kecil meski beban yang ditanggung krama kadang menjadi lebih berat. 

Lho, kan ada bantuan untuk desa adat? Tak apa desa adat kecil, yang penting dapat bantuan. Besar atau kecil desa adatnya, banyak atau sedikit jumlah kramanya, jumlah bantuan dari pemerintah tetap sama. Satu desa adat, besar atau kecil, sama-sama dapat satu sepeda motor. Satu desa adat, besar atau kecil, dapat anggaran yang sama. Jika punya strategi, bisa juga dapat bansos. Nah, jika ingin pamer udeng eksentrik dan kebaya modifikasi paling modern, tunggulah para pemberi bantuan itu datang ke Pura untuk ikut sembahyang, mungkin juga ikut ngayah, menjelang Pilkada 2020 ini. (*)

Ke Pura Sembahyang, Juga Untuk Ngayah

 

 


LEBIH senang mana, menjadi krama di desa adat besar dengan wilayah luas dan jumlah krama yang melimpah ruah, atau jadi krama di desa adat kecil? Jika pertanyaan itu ditujukan kepada seorang remaja putra-putri yang sedang modis-modisnya, atau kepada bapak penghobi udeng antik dan ibu muda pengkoleksi kebaya baru, jawabannya mungkin bisa ditebak; “Pilih jadi krama di desa adat besar!” Alasannya? Jika ke Pura Tri Kahyangan, kita tak rugi tampil dengan fashion mutakhir seperti dalam lomba-lomba di Pesta Kesenian Bali.

Apa hubungannya desa adat besar, odalan di Pura, dengan fashion? Begini. Saat digelar odalan di Pura Desa, Puseh atau Dalem, atau Pura milik desa adat yang lain, krama di “desa adat besar” mungkin akan lebih bergairah untuk tampil lebih modis, bergaya, cantik, dan ganteng. Misalnya para remaja putri atau ibu-ibu bisa memilih kebaya modifikasi paling menarik sehingga bisa tampil cantik dan seksi, dan remaja putra serta bapak-bapak bisa mengenakan saput dan udeng terbaik, misalnya udeng paling eksentrik atau saput paling megah bak dikenakan raja-raja dalam pementasan drama gong.

Lho, lho, belum paham juga? Begini. “Desa adat besar”, berdasar perhitungan matematika, adalah desa adat yang di dalamnya terdiri dari banyak desa dinas atau kelurahan, dan tentu juga terdiri dari lebih banyak lagi banjar dinas. Satu desa adat bisa terdiri dari 15 desa dinas dan kelurahan. Luas wilayahnya bisa berhektar-hektar. Dan penduduknya tentu juga melimpah-ruah, bisa mencapai puluhan ribu jiwa.

Nah, jika kemudian digelar odalan di Pura Tri Kahyangan, krama yang pedek-tangkil tentu jumlahnya juga melimpah-ruah dan suasana jadi amatlah ramai plus meriah, mungkin tingkat kemeriahannya mirip-mirip dengan pujawali di Pura Sad Kahyangan atau Pura Kahyangan Jagat. Krama pun banyak yang tak saling mengenal karena berasal dari desa-desa dan banjar yang berbeda-beda.  Nah, nah, pada saat itulah naluri fashion jadi menemukan panggungnya. Jika tak sengaja berniat pamer, setidaknya krama adat punya rasa malu jika tak mengenakan pakaian sembahyang yang lebih baik dari biasanya, yang lebih istimewa dari umumnya, atau yang lebih fashionable dari pakaian adat sehari-hari.

Sedangkan di “desa adat kecil” biasanya kita  bertemu orang yang itu-itu saja, yakni orang yang sama yang kita temukan saat panen di sawah, saat ngopi di warung, atau saat upacara pernikahan di rumah tetangga. Jika saat odalan di Pura Tri Kahyangan pun kita menemukan orang-orang yang itu-itu juga, mungkin naluri untuk tampil secara fashionable menjadi tak menemukan gairahnya. Jadi, terdapat satu alasan yang tak begitu penting namun cukup masuk logika, bahwa memang lebih enak menjadi krama di desa adat yang besar.

Waduh, maaf-maaf. Tulisan ini cukup ngelantur bicara desa adat yang dimulai dengan persoalan fashion dan penampilan fisik. Padahal, sesungguhnya tulisan ini ingin bicara soal lain, bahwa secara logika dan hitung-hitungan satatistik dan matematika sederhana, memang ditemukan satu soal yang unik jika bicara soal desa adat.  Desa adat kecil di banyak daerah di Bali hanya mencakup satu desa dinas, bahkan banyak yang hanya mencakup satu banjar dinas. Sehingga jumlah kramanya pun bisa sama dengan jumlah penduduk banjar dinas, mungkin sekitaran 300 KK. Artinya, yang menjadi soal unik adalah; di satu daerah bisa terdapat desa adat gemuk yang di dalamnya terdapat lebih dari 10 desa dinas,  sebaliknya di daerah yang berbeda terdapat desa dinas yang di dalamnya bisa saja berisi lebih dari 10 desa adat kecil. Syarat terbentuknya desa adat bukanlah statistik semacam itu, namun lebih pada urusan lain, semisal kelengkapan tempat ibadah dan kuburan.

Di tengah keunikan semacam itu, maka gerak spiritual, sosial dan ekonomi di dalam desa adat juga menjadi unik. Fashion, kemeriahan, keramaian, penampilan fisik, dan hal-hal sejenisnya, mungkin termasuk alasan yang remeh-temeh untuk menyebutkan keunikan semacam itu. Juga alasan sosial yang remeh temeh untuk menyebut betapa asyiknya jika berada dalam guyuban desa adat yang gemuk dan besar, dengan jumlah krama yang melimpah, meski  tak saling mengenal secara fisik namun tetap saling asah-asih-asuh dalam satu kelompok, secara sekala maupun niskala.

Mari saya sampaikan alasan lain yang cukup penting dan serius. Seorang teman bercerita soal ayah-ayahan desa adat, tentang tugas, kewajiban, dan haknya sebagai krama desa adat. Teman ini adalah krama dari desa adat besar, sebuah desa adat yang di dalamnya terdapat lebih dari 10  desa dinas/kelurahan.  Di setiap desa dinas terbentuk satu banjar adat sehingga setidaknya desa adat itu memiliki 10 banjar adat dan 10 kelian banjar adat. 

Menurut sang teman, haknya sebagai krama jauh lebih besar dibanding tugas dan kewajiban selaku krama. Kalau odalan, kata dia, keluarganya tinggal melenggang sembahyang ke Pura. Tugas sebagai kesinoman, panitia upacara dan lain-lain, sudah diselesaikan krama yang lain, mungkin krama yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia sendiri bukan berarti tak mendapat tugas sebagai kesinoman atau pantia odalan, namun jadwal untuk jadi panitia, ia bisa lupa-lupa ingat, saking lamanya baru mendapat giliran dan jadwal jadi kesinoman. “Bisa lebih dari 10 tahun baru mendapat giliran jadi kesinoman atau pantia odalan,” kata dia.

Ah, masa sih? Hitungannya begini. Pada setiap odalan, yang menjadi panitia adalah satu banjar adat. Desa adat itu terdiri dari 10 banjar adat, artinya, masing-masing banjar adat mendapat giliran dalam hitungan 10 kali rentetan odalan di Pura Tri Kahyangan. Rentang waktunya bisa lima tahun sekali. Nah, pada saat mendapat giliran, banjar adat pun membuat jadwal giliran untuk kelompok tempekan, dan kelompok tempekan pun membuat kelompok kecil lagi. Artinya, bisa dibayangkan,  kelompok kecil di satu tempek bisa menunggu sampai bertahun-tahun untuk mendapat giliran menjadi kesinoman.

Seorang teman lain punya alasan lain kenapa ia lebih suka menjadi krama di desa adat yang besar. Alasannya sangat ekonomis. Jika harus urunan, misalnya untuk memperbaiki Pura atau untuk menggelar upacara besar, jumlah urunannya tentu jadi kecil. Alasan ini bisa dipahami dengan mudah. Jika desa adat memiliki 20 ribu krama, dan membutuhkan dana 200 juta untuk memperbaiki penyengker, maka masing-masing krama cukup urunan 10 ribu rupiah. Bayangkan jika desa adat itu punya 300 krama, berapa urunan yang harus dikeluarkan masing-masing krama?

Tapi, meski desa adat besar lebih menyenangkan, lebih irit dan lebih fashionable, setidaknya berdasarkan alasan-alasan sederhana semacam itu, ternyata banyak juga krama punya keinginan memekarkan desa adatnya menjadi dua, menjadi tiga atau menjadi lebih banyak. Banyak yang ternyata lebih suka berada dalam kelompok-kelompok kecil meski beban yang ditanggung krama kadang menjadi lebih berat. 

Lho, kan ada bantuan untuk desa adat? Tak apa desa adat kecil, yang penting dapat bantuan. Besar atau kecil desa adatnya, banyak atau sedikit jumlah kramanya, jumlah bantuan dari pemerintah tetap sama. Satu desa adat, besar atau kecil, sama-sama dapat satu sepeda motor. Satu desa adat, besar atau kecil, dapat anggaran yang sama. Jika punya strategi, bisa juga dapat bansos. Nah, jika ingin pamer udeng eksentrik dan kebaya modifikasi paling modern, tunggulah para pemberi bantuan itu datang ke Pura untuk ikut sembahyang, mungkin juga ikut ngayah, menjelang Pilkada 2020 ini. (*)

Ke Pura Sembahyang, Juga Untuk Ngayah

 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/