Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melukat Meraih Sehat, Mencegah Sekarat

I
Penulis: I Putu Mardika❯

Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buleleng
Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Pengetahuan mendominasi setiap etika dan acara dalam mengkaji setiap femomena keagamaan. Pustaka Hindu Sarasamuccaya menyebutkan, kelahiran sebagai manusia adalah kelahiran paling utama karena hanya manusialah yang mampu menjalankan misi terpenting dalam proses menuntaskan hutang karma wasananya. 


Advertisement

Namun demikian, walaupun disebut utama, kelahiran manusia sesungguhnya tak ada yang sempurna.

Untungnya, manusia mampu menyempurnakan kehidupannya dengan belajar secara tepat sehingga hidupnya bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Salah satu jenis ritual Hindu untuk menyempurnakan hidup manusia dan menghilangkan energi negatif, sarwa papa, klesa, roga, mala adalah melukat. Apa sesungguhnya esensi ritual melukat ? 

Advertisement

Melukat adalah seni tradisi yang mendominasi perilaku keagamaan masyarakat Hindu. Pemahaman yang kuat dan dalam, membuat esensi melukat dalam perspektif Hindu merupakan proses penyucian diri, baik secara sekala maupun niskala.

Melukat merupakan seni terapi kerohanian untuk membentuk ikatan yang semakin dekat dengan Sang Pencipta. Teknik melukat yang tepat adalah sebuah proses pembelajaran dalam mengaplikasikan ajaran Agama Hindu.

Pemahaman yang tepat memberi kualitas bagi generasi muda Hindu untuk meningkatkan sraddha dan bhakti-nya kepada Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Pencipta.

Advertisement

Dalam Pustaka Suci Weda, air dianggap sebagai elemen sakral dan suci yang selalu identik dengan fungsi Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam semesta beserta isinya.

Karakteristi air yang sifatnya mengalir juga memiliki fungsi untuk membersihkan kotoran secara fisik dan spiritual yang dalam ajaran Agama Hindu disebut dengan klesa.

Klesa mencakup lima kondisi yang tidak suci (Bahasa Bali : leteh, cuntaka) yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia.

Kelima kondisi itu adalah Awidya (kebodohan), Asmita (egoisme), Raga (nafsu),  Dwesa (kebencian) dan Abhiniwesa (kecurangan).

Pengetahuan inilah yang memberikan andil betapa mulianya hakikat proses pembersihan dalam ritual melukat.

Proses yang sederhana, singkat dengan jnana yang kuat akan memberi vibrasi yang tepat dalam memaknai hakikat Sang Diri.

Melukat memberi vibrasi positif yang tepat dalam memaknai sebuah kondisi sehat (jasmani –rohani) bukan malah sekarat karena efek dingin atau panas secara fisik.  Sekarat itu secara rohani akibat karena dangkalnya pengetahuan (awidya).

Esensi sehat bukan sekarat diperkuat oleh Pustaka Suci Manavadhamasastra Bab I .96 yang dalam terjemahan bebasnya menyebutkan bahwa “kelahiran sebagai manusia memiliki keistimewaan berupa kemampuan dalam menggunakan pikirannya, nalarnya (wiweka) untuk mengembangkan peradaban yang lebih tinggi dari makhluk lainnya”.  

Dalam buku "Sapiens" karya Yuval Noah Harari dijelaskan, manusia mampu merekam ragam impuls dari luar dirinya, kemudian menyimpan dan mengolahnya serta mencoba merekayasa dan memecahkan masalah yang dihadapinya.  

Melukat yang sehat, tepat,  penuh berkat diperkuat oleh esensi Pustaka Suci Reg Veda II.35.3 yang mengulas proses air suci mengalir baik dari mata air maupun laut hingga mempunyai kekuatan yang menyucikan (ngicalang sarwa papa, klesa roga, mala).

Melukat adalah sebuah proses sederhana, singkat dan tepat untuk menuju hidup sehat lahir-bathin tanpa harus sekarat gegara kurang tepat dalam memaknai setiap proses pembelajaran kehidupan.  

Semoga semua makhluk selamat dan menjadi kuat penuh berkat dalam mengemban misi kelahiran dan menjalani kehidupannya. (*)

Oleh

Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd

Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng

 .

Advertisement

Artikel Terkait

Kemakmuran perspektif Sarasamuscaya:  Kekayaan tak hanya Berupa Harta, Keseimbangan Menjadi Tujuan

Kemakmuran perspektif Sarasamuscaya: Kekayaan tak hanya Berupa Harta, Keseimbangan Menjadi Tujuan

Umat Hindu memandang jika kemakmuran bukan hanya sebatas tabungan, luasnya aset, atau tingginya jabatan. Fenomena tersebut melahirkan paradoks. Banyak orang tampak berhasil secara finansial, tetapi justru dihantui kecema

Tradisi Mapeed Desa Adat Sukawati, Berjalan Beriringan Mendak Tirtha, Ada Sejak Abad ke-18

Tradisi Mapeed Desa Adat Sukawati, Berjalan Beriringan Mendak Tirtha, Ada Sejak Abad ke-18

Tradisi Mapeed hingga kini masih lestari di Desa Adat Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Tradisi turun-temurun ini menjadi bagian penting dalam rangkaian piodalan di sejumlah pura sekaligus menjadi bentuk b

Kesenangan

Kesenangan

Salah satu tujuan umat Hindu, dalam ajaran Catur Purusa Arta, adalah Kama yakni pemenuhan keinginan. Setiap orang tentu memiliki keinginan, dan ini adalah sesuatu yang wajar. Hidup tanpa keinginan, sama saja dengan hidup

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer