
BALIEXPRESS.ID-Konsekuensi dari perubahan terkait kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) paling terasa pada profesi guru. Selama bertahun-tahun, guru sering dipersepsikan sebagai sumber utama pengetahuan. Kini informasi tersedia di mana-mana. Bahkan seorang siswa dapat memperoleh penjelasan tentang teori relativitas atau tata bahasa Inggris hanya dengan mengetik satu kalimat di layar ponselnya.
Apakah itu berarti guru tidak lagi dibutuhkan? Justru sebaliknya. Peran guru mengalami transformasi yang sangat mendasar. Guru tidak lagi terutama berperan sebagai penyampai informasi. Guru menjadi perancang pengalaman belajar. Ia menjadi kurator pengetahuan, fasilitator dialog, pelatih berpikir kritis, sekaligus penjaga nilai-nilai yang tidak dapat diajarkan oleh algoritma. Guru masa depan bukanlah mereka yang paling banyak mengetahui jawaban. Guru masa depan adalah mereka yang paling mampu mengajarkan cara menemukan pertanyaan yang baik.
Perubahan ini menuntut cara mengajar yang berbeda. Bayangkan seorang guru Bahasa Indonesia yang meminta siswanya menulis esai tentang pelestarian lingkungan. Pada masa lalu, tugas selesai ketika siswa menyerahkan tulisan. Hari ini, pendekatannya dapat diubah.
Guru justru meminta siswa menggunakan AI untuk menghasilkan satu esai, kemudian mereka diminta mengidentifikasi kelemahannya, misalnya fakta mana yang tidak akurat, argumen mana yang terlalu umum, sudut pandang apa yang hilang, dan bagaimana memperbaikinya dengan pengalaman nyata dari lingkungan sekitar mereka.
Dalam skenario seperti itu, AI bukan lagi jawaban. AI menjadi objek yang dikritisi. Proses berpikir tetap berada di tangan siswa.
Contoh lain dapat kita temukan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Guru dapat meminta AI membuat lima contoh paragraf argumentatif tentang penggunaan media sosial. Tugas siswa bukan menyalinnya, melainkan membandingkan kualitas setiap paragraf, mencari bias, memperbaiki pilihan katanya, lalu menyusun versi mereka sendiri yang lebih baik. Dengan cara seperti ini, AI justru menjadi alat untuk melatih kemampuan analisis, bukan mematikan kreativitas.
Model pembelajaran seperti itulah yang menurut saya perlu diperbanyak di sekolah-sekolah Indonesia.
Kita tidak perlu takut terhadap AI. Yang perlu kita hindari adalah pembelajaran yang membuat siswa berhenti berpikir karena semua jawaban sudah disediakan mesin.
Perubahan serupa juga perlu terjadi dalam cara kita menilai hasil belajar. Selama ini, banyak tugas sekolah berorientasi pada produk akhir. Esai dikumpulkan, laporan diserahkan, presentasi diunggah. Di era AI, pendekatan seperti itu menjadi semakin rapuh karena produk akhir dapat dihasilkan dalam hitungan detik.
Sudah saatnya asesmen lebih menghargai proses. Guru dapat meminta siswa menjelaskan bagaimana mereka menggunakan AI, sumber apa saja yang mereka periksa, bagian mana yang mereka revisi, keputusan apa yang mereka ambil, serta apa yang mereka pelajari selama proses tersebut. Dengan demikian, yang dinilai bukan hanya hasil akhirnya, melainkan kualitas berpikir yang terjadi di baliknya.



