
BALIEXPRESS.ID-Masyarakat adat (Indigenous Local) Tengger menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Upacara Yadnya Kasada, Yadnya Karo, dan Unan-unan kini tidak lagi hanya dipandang sebagai ritual keagamaan yang diwariskan leluhur, tetapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan ribuan pengunjung setiap tahun. Kondisi ini menjadi tantangannya tersendiri, karena berpotensi memicu desakralisasi ritual dan keterputusan proses transmisi pengetahuan lokal.
Di satu sisi, kondisi tersebut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: apakah ritual-ritual tersebut masih dipahami sebagai sistem pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, atau perlahan bergeser menjadi sekadar komoditas budaya?
Pertanyaan inilah yang dapat dijawab melalui Indigenous Knowledge Theory, terutama sebagaimana dikembangkan oleh Fikret Berkes dan Darrell A. Posey, yang memandang tradisi sebagai wadah penyimpanan pengetahuan ekologis, sosial, spiritual, dan budaya yang dibangun melalui pengalaman kolektif masyarakat adat selama berabad-abad.
Fikret Berkes menjelaskan bahwa Indigenous Knowledge bukan sekadar kumpulan informasi tradisional, melainkan sistem pengetahuan yang lahir dari interaksi panjang masyarakat dengan lingkungannya. Pengetahuan tersebut mencakup cara memahami alam, mengelola sumber daya, menjalankan kehidupan sosial, hingga membangun hubungan spiritual dengan leluhur.
Dalam konteks masyarakat Hindu Tengger, ritual Yadnya Kasada, Yadnya Karo, dan Unan-unan memperlihatkan bahwa pengetahuan lokal tidak disimpan dalam buku atau dokumen tertulis, melainkan diwariskan melalui praktik ritual yang terus dihidupkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Setiap tahapan ritual memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan pandangan hidup masyarakat Tengger mengenai hubungan manusia, alam, leluhur, dan Sang Hyang Widhi.
Baca Juga: BRI Peduli Tingkatkan Kapasitas Peternak Sapi Perah di Malang Lewat Program Klaster Unggulan
Melalui perspektif Indigenous Knowledge Theory, Yadnya Kasada tidak dapat dipahami hanya sebagai prosesi melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Ritual tersebut merupakan mekanisme transmisi pengetahuan ekologis yang mengajarkan masyarakat tentang rasa syukur atas hasil bumi, penghormatan terhadap alam, serta kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari tatanan kosmis yang lebih besar.
Sesaji hongkek yang terdiri atas hasil pertanian bukan sekadar persembahan simbolik, melainkan representasi hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Tengger.
Begitu juga pada tarian Sodoran bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi mengandung pengetahuan mengenai sangkan paraning dumadi, yakni pemahaman tentang asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia. Dalam perspektif Berkes, nilai seperti ini merupakan bagian dari worldview, yaitu lapisan terdalam dari Indigenous Knowledge yang membentuk cara suatu masyarakat memandang kehidupan.
Artinya, masyarakat Tengger tidak hanya mewariskan gerak tari kepada generasi muda, tetapi juga mewariskan filosofi hidup yang menyertainya. Ritual menjadi ruang pendidikan budaya yang berlangsung secara alami tanpa harus melalui lembaga pendidikan formal.



