
BALIEXPRESS.ID-Kita sedang memasuki zaman ketika memperoleh jawaban jauh lebih mudah daripada merumuskan pertanyaan. Cukup mengetik beberapa kalimat ke ChatGPT, Gemini, Claude, Copilot, atau berbagai mesin berbasis AI, dalam hitungan detik kita dapat memperoleh ringkasan buku, penjelasan konsep, rancangan tulisan, bahkan argumentasi yang tampak meyakinkan. Persoalannya, ketika mesin semakin pandai membaca, merangkum, dan menjawab, apakah manusia justru semakin malas membaca dan berpikir?
Pertanyaan ini penting karena tantangan terbesar pendidikan di era AI mungkin bukan lagi kekurangan informasi. Kita justru hidup dalam kondisi dimana informasi sangat berlimpah. Tantangannya adalah kemampuan membedakan informasi yang penting dan tidak penting, fakta dan opini, bukti dan klaim, pengetahuan dan manipulasi, serta jawaban yang masuk akal dan jawaban yang sekadar terdengar meyakinkan. Karena itu, semakin canggih AI, semakin penting pula dua kebiasaan manusia yang sebenarnya sangat klasik, yaitu membaca dan berpikir kritis.
Untuk merespons hal ini, ada baiknya kembali ke kebiasaan membaca. Kegiatan ini sering dipahami terlalu sederhana, yakni melihat teks, memahami isinya, lalu dapat menjawab pertanyaan tentang bacaan tersebut. Padahal membaca yang sesungguhnya jauh lebih dalam. Membaca adalah proses berdialog dengan gagasan. Pembaca yang baik tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa isi tulisan ini?” Ia bergerak menuju pertanyaan yang lebih kritis, “Mengapa penulis mengatakan demikian?”, “Bukti apa yang digunakan?”, “Apakah sumbernya dapat dipercaya?”, “Perspektif siapa yang tidak muncul?”, “Apakah ada argumentasi lain?”, dan akhirnya, “Apa posisi saya setelah membaca berbagai perspektif tersebut?”
Di sinilah membaca bertemu dengan berpikir kritis. Pada masa sebelum internet, persoalan utama kita mungkin adalah sulitnya memperoleh informasi. Sekarang persoalannya terbalik. Informasi datang tanpa henti melalui media sosial, mesin pencari, video pendek, grup percakapan, dan AI generatif. Kita dapat merasa mengetahui banyak hal karena setiap hari mengonsumsi ratusan potongan informasi, padahal belum tentu memahami sesuatu secara mendalam.
Dalam era AI saat ini, kita bisa saja menjadi kaya informasi, tetapi bisa miskin pada aspek pemahaman. Budaya membaca tidak boleh diukur hanya dari berapa banyak halaman atau buku yang dibaca. Yang lebih penting adalah kedalaman interaksi dengan bacaan. Satu artikel yang dibaca secara perlahan, dibandingkan dengan sumber lain, dipertanyakan argumentasinya, dan direfleksikan implikasinya dapat jauh lebih bermakna daripada puluhan tulisan yang hanya dilewati di layar telepon genggam.
AI membuat paradoks ini semakin menarik. Teknologi sekarang dapat membaca untuk kita. Kita dapat mengunggah artikel puluhan halaman dan meminta AI meringkasnya menjadi lima poin. Buku ratusan halaman dapat dipadatkan menjadi beberapa paragraf. Kita bahkan dapat bertanya, “Apa gagasan utama buku ini?” tanpa pernah membuka bukunya. Semua itu tentu sangat membantu. Namun, kemudahan tersebut menyimpan risiko ketika bantuan (assistance) berubah menjadi alat pengganti (replacement).
Baca Juga: Prabowo Ungkap Satgas PKH Selamatkan Rp52 Triliun dan Ratusan Ribu Hektare Hutan
Saat ini, dalam konteks pembelajaran di level universitas, cara belajar seorang mahasiswa bisa saja sudah berbeda. Ketika mereka mendapat tugas membaca lima artikel penelitian, ia dengan mudah bisa memasukkan semuanya ke AI dan meminta, “Ringkas kelima artikel ini dan buatkan sintesisnya.” Beberapa menit kemudian tugas selesai. Secara administratif, ia mungkin telah menyelesaikan pekerjaan. Secara kognitif, belum tentu ia telah belajar. Ia kehilangan kesempatan berinteraksi secara kognitif dengan istilah yang sulit, menemukan kontradiksi antar penulis, mempertanyakan metodologi penelitian, membandingkan bukti, dan membangun sintesisnya sendiri. Padahal justru pergulatan intelektual itulah yang membentuk kemampuan berpikir.
Hal yang sama dapat terjadi pada siswa. Ketika diminta menulis argumentasi tentang perubahan iklim, misalnya, siswa langsung meminta AI membuat esai lengkap. Produk akhirnya mungkin bagus, tetapi proses berpikirnya hampir tidak terjadi. Inilah yang perlu kita waspadai, jangan sampai kualitas produk meningkat karena AI, sementara kualitas berpikir manusia justru menurun.
Karena itu, posisi AI dalam pendidikan dan kehidupan perlu dibuat jelas. AI sebaiknya ditempatkan sebagai cognitive partner, bukan cognitive substitute. Sebagai cognitive partner, AI membantu memperluas kemampuan manusia. AI dapat membantu menemukan perspektif lain, menjelaskan konsep sulit, memberikan umpan balik, menantang argumentasi, membuat simulasi, membandingkan gagasan, atau membantu menemukan kelemahan dalam cara berpikir kita. Namun, keputusan intelektual terakhir tetap berada pada manusia.
Sebaliknya, AI menjadi cognitive substitute ketika kita menyerahkan proses berpikir kepada mesin, misalnya membaca digantikan ringkasan AI, menganalisis digantikan analisis AI, menulis digantikan teks AI, dan mengambil posisi pun mengikuti rekomendasi AI. Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi implikasinya besar. Proses berpikirnya bukan meminta, “Buatkan esai tentang dampak AI terhadap pendidikan,” namun siswa diajak dan/ atau membaca beberapa sumber terlebih dahulu, menyusun argumentasinya, kemudian bertanya kepada AI, “Ini argumentasi saya. Apa kelemahan logikanya? Berikan tiga kemungkinan kontra-argumen.” Di sini AI tidak menggantikan berpikir, namun AI memprovokasi berpikir.



