BBM Langka, Solusi Jangan Ikut Langka: Menumbuhkan Generasi yang Memiliki Solution-Driven Mindset

BALIEXPRESS.ID-Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar persoalan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Peristiwa ini sesungguhnya merupakan cermin yang memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu bagaimana masyarakat, pemerintah, dan para pengambil kebijakan memahami masalah, mengomunikasikan fakta, mengambil keputusan, serta menghadirkan solusi yang menyentuh akar persoalan.
Ketika masyarakat harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan beberapa liter bahan bakar, persoalannya tidak cukup diselesaikan dengan imbauan agar warga bersabar atau tidak panik. Masyarakat membutuhkan penjelasan yang masuk akal, berbasis data, disampaikan dengan tenang, dan diikuti langkah konkret yang hasilnya dapat dirasakan.
Situasi ini mengingatkan kita pada pentingnya membangun solution-driven mindset, yakni pola pikir yang tidak berhenti pada identifikasi, perdebatan, atau keluhan tentang masalah, tetapi bergerak menuju pemahaman akar penyebab, penyusunan alternatif, pengambilan keputusan, dan evaluasi hasil. Pola pikir demikian semakin penting di tengah kompleksitas persoalan publik, ketika informasi bergerak cepat, media sosial memperbesar kecemasan, dan kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi alat untuk memperjelas ataupun justru mengaburkan persoalan. Pertanyaannya, apakah kita telah terbiasa menjadi masyarakat yang menyelesaikan masalah, atau justru terlalu lama berkutat dalam budaya memperdebatkannya?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua kecenderungan berpikir. Pertama, problem-oriented mindset, ketika seseorang lebih banyak menghabiskan energi untuk membicarakan kesulitan, mencari pihak yang disalahkan, mengulang keluhan, atau mempertahankan pendapat tanpa menghasilkan jalan keluar yang dapat diuji. Kedua, solution-driven mindset, ketika seseorang berusaha memahami persoalan secara kritis, menelusuri penyebabnya, mempertimbangkan berbagai alternatif, kemudian mengambil tindakan yang terukur.
Namun, penting membedakan orientasi pada masalah sebagai tahap analisis dengan budaya terjebak dalam masalah. Memahami masalah secara mendalam justru merupakan prasyarat solusi yang baik. Yang perlu dihindari adalah kecenderungan berhenti pada keluhan, saling menyalahkan, atau solusi instan yang tidak menjawab penyebab sebenarnya. Misalnya, ketika sebuah sekolah menghadapi rendahnya kemampuan membaca siswa, pendekatan yang terjebak pada masalah mungkin hanya menghasilkan pernyataan bahwa anak-anak sekarang malas membaca, terlalu banyak menggunakan gawai, atau kurang mendapatkan perhatian orang tua. Pernyataan tersebut belum tentu sepenuhnya salah, tetapi belum cukup untuk memperbaiki keadaan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Agen Biasa, Shifa Celluler Jadi Ujung Tombak Literasi dan Akses Masyarakat Binjai Utar
Pendekatan berbasis solusi akan mengajukan pertanyaan lanjutan. Apakah sekolah memiliki buku yang menarik dan sesuai tingkat kemampuan siswa? Berapa menit siswa membaca setiap hari? Apakah guru menggunakan strategi membaca yang tepat? Bagaimana kemampuan memahami bacaan diukur? Intervensi apa yang dapat dilakukan dalam tiga bulan dan bagaimana keberhasilannya dinilai? Perbedaannya terletak pada kemampuan mengubah persoalan menjadi tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kecenderungan serupa dapat ditemukan dalam birokrasi. Ketika pelayanan publik lambat, jawaban yang sering terdengar adalah keterbatasan anggaran, kekurangan pegawai, atau prosedur yang rumit. Pemimpin yang berorientasi solusi tidak mengabaikan keterbatasan tersebut, tetapi bertanya proses mana yang dapat disederhanakan, teknologi apa yang dapat membantu, dan keputusan apa yang dapat diambil sekarang tanpa harus menunggu seluruh kondisi menjadi ideal. Dengan demikian, solution-driven mindset bukan sekadar sikap optimistis atau kemampuan berbicara positif. Ia merupakan perpaduan antara berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, keberanian mengambil keputusan, komunikasi yang efektif, serta kesediaan mengevaluasi dan memperbaiki tindakan.
Sejumlah negara memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana kemampuan memecahkan masalah dapat dibangun menjadi kebiasaan institusional, bukan sekadar karakter individual. Singapura, misalnya, menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam menghadapi keterbatasan sumber daya alam. Sebagai negara dengan keterbatasan sumber air domestik, Singapura tidak berhenti pada keluhan tentang kondisi geografis. Negara tersebut mengembangkan strategi diversifikasi pasokan melalui pengumpulan air hujan, pengolahan kembali air bekas pakai melalui NEWater, desalinasi, dan pengelolaan permintaan air. Pelajarannya bukan semata-mata keberhasilan teknologi, melainkan kemampuan mengubah keterbatasan menjadi agenda inovasi yang terencana. Masalah diidentifikasi, risiko dipetakan, alternatif dikembangkan, investasi dilakukan, dan ketahanan sistem dibangun untuk jangka panjang.
Baca Juga: Antrean BBM Bali Mengular, De Gadjah Koordinasi dengan Pertamina dan Turunkan Kader Gerindra
Jepang memberikan contoh lain melalui budaya Kaizen, yaitu perbaikan berkelanjutan. Dalam berbagai praktik industri dan organisasi, kesalahan tidak cukup hanya ditemukan dan dilaporkan. Penyebabnya harus ditelusuri agar persoalan serupa tidak berulang. Teknik five whys, misalnya, mendorong seseorang terus bertanya mengapa sebuah masalah terjadi sampai menemukan penyebab yang lebih mendasar.
Sementara itu, Belanda menunjukkan bagaimana ancaman banjir dapat mendorong pengembangan sistem pengelolaan air yang menggabungkan infrastruktur, tata ruang, ilmu pengetahuan, dan adaptasi jangka panjang. Pendekatan seperti Room for the River memperlihatkan bahwa solusi tidak selalu berarti melawan alam melalui pembangunan tanggul yang semakin tinggi, tetapi juga menyesuaikan tata ruang agar sungai memiliki ruang yang lebih aman.



