alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Oleh: Muhammad Yasin*

Generasi Muda Wajib Tangkal Radikalisme

Generasi muda merupakan salah satu elemen yang sangat penting untuk bisa menangkal segala paham radikal, karena sejauh ini mereka masih terus menjadi sasaran empuk yang akan diberondong oleh banyaknya propaganda dari kelompok-kelompok radikal.

 

Radikalisme memang suatu paham yang sangatlah membahayakan bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengenai bagaimana bahayanya, salah satu mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI)Ketua Mantiqi ketiga di wilayah Asia Tenggara, Nasir Abbas bahkan menyatakan bahwa paham radikalisme ini nantinya akan berujung pada tindakan terorisme.

 

Nasir  juga menambahkan bahwa ternyata sejauh ini para kelompok radikal akan selalu mencoba untuk mempropagandakan ajaran mereka untuk menarik banyak simpatisan dengan cara terselubung, yakni dengan menggunakan doktrin yang dibungkus dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memainkan isu-isu dari Islam garis keras.

 

Bukan hanya sekedar berbahaya lantaran akan bermuara pada tindakan terorisme, namun ternyata penyebaran radikalisme ini terkadang tidak mudah disadari apabila target sudah benar-benar masuk ke dalam perangkap kelompok radikal dan sudah dicuci otaknya dengan menggunakan doktrin-doktrin mereka.

 

Target atau simpatisan akan seolah-olah merasa bahwa mereka membela agama dan berada di jalan yang benar, sehingga sama sekali tidak akan ada rasa penyesalanataupun tersadar bahwa tindakan yang telah mereka lakukan adalah salah. Mereka akan terus-menerus mencari pembenaran dengan menggunakan ayat-ayat ataupun hadist yang seolah-olah gerakan mereka telah benar.

 

Nasir berharapseluruh masyarakat Indonesia ke depannya bisa jauh lebih peka mengenai isu-isu yang berbau dengan ajakan radikalisme. Pemahaman akan Pancasila sebagai dasar negara harus benar-benar terus digaungkan dengan kuat sehingga masyarakat bisa membedakan seperti apa paham yang berseberangan dengan cita-cita luhur para pendiri Bangsa.

Baca Juga :  Anak Muda Rentan Jadi Target Penyebaran Paham Radikal

 

Hal tersebut sangat penting sekali terus disosialisasikan kepada generasi muda karena mereka adalah generasi penerus Bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan negeri ini. Bayangkan, bagaimana misalnya ketika para generasi muda Indonesia justru banyak yang terpapar radikalisme, maka bukan tidak mungkin keutuhan NKRI pasti akan sangat terguncang nantinya.

 

Terutama dengan sikap dan sifat dari generasi muda itu sendiri yang memang cenderung memiliki rasa penasaran dan rasa keingintahuan sangat tinggi. Dalam proses pencarian jati diri, mereka bukan tidak mungkin akan terus membuka wawasannya dan banyak melakukan pembelajaran dari manapun, terlebih di jaman sekarang ketika segala informasi sudah sangat mudah didapatkan hanya melalui internet dan sosial media.

 

Para propagandis kelompok radikal tentunya memahami hal ini dan dikabarkan pula tidak sedikit diantara mereka yang mulai menyebarkan paham-paham radikal melalui internet dan sosial media dengan target menyasar kepada generasi muda yang memang sedang belum stabil.

 

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko juga menekankan hal yang sama, bahwa peran para guru agama di sekolah pun menjadi sangatlah penting untuk bisa mencegah persebaran radikalisme bagi para generasi muda khususnya melalui institusi pendidikan seperti sekolah.

 

Moeldoko memberikan imbauan itu lantaran menyusul terbitnya beberapa hasil survey yang ternyata menunjukkan bahwa para generasi muda, terutama siswa sangat rentan bisa terpapar paham radikal dan juga mengikuti aksi-aksi intoleran. Maka dari itu dirinya juga menegaskan kembali bahwa pendidikan agama sama sekali tidak boleh terjebak hanya pada doktrin serta simbol yang sifatnya normatif belaka. Namun tentunya juga harus memahami bagaimana substansi agama yang mendatangkan kebaikan secara universal bagi seluruh umat manusia.

Baca Juga :  Hari Suci Nyepi untuk Memperkuat Kerukunan Umat Beragama di Bali

 

Ajaran-ajaran mengenai toleransi, akhlak dan budi pekerti, kebaikan hingga kejujuran harus terus digaungkan entah oleh para orang tua ataupun oleh para guru terhadap generasi muda. Karena setidaknya setelah menggaungkan hal tersebut, maka tumbuh kembang si anak nantinya akan menjadi jauh lebih terbuka terhadap isu-isu ideologi dan juga komitmen beragama.

 

Generasi muda menjadi sasaran yang sangat empuk bagi penarikan simpatisan kelompok radikal lantaran kepolosannya. Maka dari itu perhatian jangan sampai dilepaskan serta ajakan untuk bisa membedakan mana paham yang sesuai dengan Pancasila dan mana paham yang sama sekali bertolak belakang dengan Pancasila setidaknya harus dipahami oleh mereka.

 

Bukan hanya itu, jika para generasi muda ini memiliki kesadaran yang tinggi untuk mampu menolak ajaran-ajaran atau doktrin dari kelompok radikal, maka hal tersebut akan mampu memblokir upaya penyebarluasan jaringan mereka. Dengan adanya peran aktif generasi muda, maka penyebaran radikalisme dapat ditangkal secara maksimal.

 

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute


Generasi muda merupakan salah satu elemen yang sangat penting untuk bisa menangkal segala paham radikal, karena sejauh ini mereka masih terus menjadi sasaran empuk yang akan diberondong oleh banyaknya propaganda dari kelompok-kelompok radikal.

 

Radikalisme memang suatu paham yang sangatlah membahayakan bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengenai bagaimana bahayanya, salah satu mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI)Ketua Mantiqi ketiga di wilayah Asia Tenggara, Nasir Abbas bahkan menyatakan bahwa paham radikalisme ini nantinya akan berujung pada tindakan terorisme.

 

Nasir  juga menambahkan bahwa ternyata sejauh ini para kelompok radikal akan selalu mencoba untuk mempropagandakan ajaran mereka untuk menarik banyak simpatisan dengan cara terselubung, yakni dengan menggunakan doktrin yang dibungkus dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memainkan isu-isu dari Islam garis keras.

 

Bukan hanya sekedar berbahaya lantaran akan bermuara pada tindakan terorisme, namun ternyata penyebaran radikalisme ini terkadang tidak mudah disadari apabila target sudah benar-benar masuk ke dalam perangkap kelompok radikal dan sudah dicuci otaknya dengan menggunakan doktrin-doktrin mereka.

 

Target atau simpatisan akan seolah-olah merasa bahwa mereka membela agama dan berada di jalan yang benar, sehingga sama sekali tidak akan ada rasa penyesalanataupun tersadar bahwa tindakan yang telah mereka lakukan adalah salah. Mereka akan terus-menerus mencari pembenaran dengan menggunakan ayat-ayat ataupun hadist yang seolah-olah gerakan mereka telah benar.

 

Nasir berharapseluruh masyarakat Indonesia ke depannya bisa jauh lebih peka mengenai isu-isu yang berbau dengan ajakan radikalisme. Pemahaman akan Pancasila sebagai dasar negara harus benar-benar terus digaungkan dengan kuat sehingga masyarakat bisa membedakan seperti apa paham yang berseberangan dengan cita-cita luhur para pendiri Bangsa.

Baca Juga :  Sinergitas Kunci Indonesia Menang Lawan Covid-19

 

Hal tersebut sangat penting sekali terus disosialisasikan kepada generasi muda karena mereka adalah generasi penerus Bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan negeri ini. Bayangkan, bagaimana misalnya ketika para generasi muda Indonesia justru banyak yang terpapar radikalisme, maka bukan tidak mungkin keutuhan NKRI pasti akan sangat terguncang nantinya.

 

Terutama dengan sikap dan sifat dari generasi muda itu sendiri yang memang cenderung memiliki rasa penasaran dan rasa keingintahuan sangat tinggi. Dalam proses pencarian jati diri, mereka bukan tidak mungkin akan terus membuka wawasannya dan banyak melakukan pembelajaran dari manapun, terlebih di jaman sekarang ketika segala informasi sudah sangat mudah didapatkan hanya melalui internet dan sosial media.

 

Para propagandis kelompok radikal tentunya memahami hal ini dan dikabarkan pula tidak sedikit diantara mereka yang mulai menyebarkan paham-paham radikal melalui internet dan sosial media dengan target menyasar kepada generasi muda yang memang sedang belum stabil.

 

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko juga menekankan hal yang sama, bahwa peran para guru agama di sekolah pun menjadi sangatlah penting untuk bisa mencegah persebaran radikalisme bagi para generasi muda khususnya melalui institusi pendidikan seperti sekolah.

 

Moeldoko memberikan imbauan itu lantaran menyusul terbitnya beberapa hasil survey yang ternyata menunjukkan bahwa para generasi muda, terutama siswa sangat rentan bisa terpapar paham radikal dan juga mengikuti aksi-aksi intoleran. Maka dari itu dirinya juga menegaskan kembali bahwa pendidikan agama sama sekali tidak boleh terjebak hanya pada doktrin serta simbol yang sifatnya normatif belaka. Namun tentunya juga harus memahami bagaimana substansi agama yang mendatangkan kebaikan secara universal bagi seluruh umat manusia.

Baca Juga :  Perlunya Sinergitas Seluruh Pihak untuk Menangkal Radikalisme

 

Ajaran-ajaran mengenai toleransi, akhlak dan budi pekerti, kebaikan hingga kejujuran harus terus digaungkan entah oleh para orang tua ataupun oleh para guru terhadap generasi muda. Karena setidaknya setelah menggaungkan hal tersebut, maka tumbuh kembang si anak nantinya akan menjadi jauh lebih terbuka terhadap isu-isu ideologi dan juga komitmen beragama.

 

Generasi muda menjadi sasaran yang sangat empuk bagi penarikan simpatisan kelompok radikal lantaran kepolosannya. Maka dari itu perhatian jangan sampai dilepaskan serta ajakan untuk bisa membedakan mana paham yang sesuai dengan Pancasila dan mana paham yang sama sekali bertolak belakang dengan Pancasila setidaknya harus dipahami oleh mereka.

 

Bukan hanya itu, jika para generasi muda ini memiliki kesadaran yang tinggi untuk mampu menolak ajaran-ajaran atau doktrin dari kelompok radikal, maka hal tersebut akan mampu memblokir upaya penyebarluasan jaringan mereka. Dengan adanya peran aktif generasi muda, maka penyebaran radikalisme dapat ditangkal secara maksimal.

 

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute


Most Read

Artikel Terbaru

/