alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Kadinkes Bali Tunggu Panduan Kemenkes Terkait Obat Terapi Covid-19

DENPASAR, BALI EXPRESS – Pendistribusian Ivermectin sebagai obat pendukung penanganan terapi Covid-19 telah diizinkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Bahkan di media sosial  telah beredar luas surat edaran dari BPOM terkait pelaksanaan obat tersebut. 

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Bali, Ketut Suarjaya, masih menunggu arahan Kemenkes terkait obat terapi Covid -19 yang dimaksud. 

Obat terapi ini diketahui berdasarkan Surat Edaran Nomor PW.01.10.3.34.07.21.07 Tahun 202, tentang Pelaksanaan Distribusi Obat dengan persetujuan Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization). Selain Ivermectin, ada tujuh obat lainnya yang izin pelaksanaan distribusinya telah diberikan oleh BPOM. 

Ketujuh obat yang dimaksud adalah Remdesivir, Favipiravir, Oseltamivir, Immunoglobulin, Tocilizumab, Azithromycin, dan Dexametason (tunggal).Terkait kebenarannya, Suarjaya pun mengaku kaget dengan adanya hal tersebut. Ia mengatakan pihaknya belum menerima surat tersebut. “Badan POM sudah ngeluarkan izin,” tanya dia saat dikonfirmasi, Kamis (15/7). 

Dalam kesempatan itu, Suarjaya menambahkan bahwa pihaknya masih menunggu surat resmi panduan terapi Covid-19 dari Kemenkes RI. “Kami menunggu panduan terapinya dari Kementerian Kesehatan, kami menunggu itu,” sambungnya.

Suarjaya juga menegaskan jika sudah ada panduan resmi dari Kemenkes, pihaknya akan langsung menggunakannya sebagai obat terapi Covid-19. “Kalau sudah ada kita bisa gunakan,” ujarnya. 

Dia juga mengatakan bahwa Ivermectin sendiri merupakan jenis obat-obatan yang berlabel merah atau keras. Sehingga, masyarakat tidak sembarangan untuk mendapatkannya, dan harus melalui resep dokter. “Itu obat keras, Ivermectin itu termasuk obat keras, makanya ada label merah. Harus dengan resep dokter itu, tidak bisa asal beli,” tandasnya.  


DENPASAR, BALI EXPRESS – Pendistribusian Ivermectin sebagai obat pendukung penanganan terapi Covid-19 telah diizinkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Bahkan di media sosial  telah beredar luas surat edaran dari BPOM terkait pelaksanaan obat tersebut. 

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Bali, Ketut Suarjaya, masih menunggu arahan Kemenkes terkait obat terapi Covid -19 yang dimaksud. 

Obat terapi ini diketahui berdasarkan Surat Edaran Nomor PW.01.10.3.34.07.21.07 Tahun 202, tentang Pelaksanaan Distribusi Obat dengan persetujuan Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization). Selain Ivermectin, ada tujuh obat lainnya yang izin pelaksanaan distribusinya telah diberikan oleh BPOM. 

Ketujuh obat yang dimaksud adalah Remdesivir, Favipiravir, Oseltamivir, Immunoglobulin, Tocilizumab, Azithromycin, dan Dexametason (tunggal).Terkait kebenarannya, Suarjaya pun mengaku kaget dengan adanya hal tersebut. Ia mengatakan pihaknya belum menerima surat tersebut. “Badan POM sudah ngeluarkan izin,” tanya dia saat dikonfirmasi, Kamis (15/7). 

Dalam kesempatan itu, Suarjaya menambahkan bahwa pihaknya masih menunggu surat resmi panduan terapi Covid-19 dari Kemenkes RI. “Kami menunggu panduan terapinya dari Kementerian Kesehatan, kami menunggu itu,” sambungnya.

Suarjaya juga menegaskan jika sudah ada panduan resmi dari Kemenkes, pihaknya akan langsung menggunakannya sebagai obat terapi Covid-19. “Kalau sudah ada kita bisa gunakan,” ujarnya. 

Dia juga mengatakan bahwa Ivermectin sendiri merupakan jenis obat-obatan yang berlabel merah atau keras. Sehingga, masyarakat tidak sembarangan untuk mendapatkannya, dan harus melalui resep dokter. “Itu obat keras, Ivermectin itu termasuk obat keras, makanya ada label merah. Harus dengan resep dokter itu, tidak bisa asal beli,” tandasnya.  


Most Read

Artikel Terbaru

/