alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Perjuangkan RUU KIA, DPR Usul Cuti Hamil 6 Bulan

JAKARTA, BALI EXPRESS – RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) sedang diperjuangkan oleh legislatif. Dua di antaranya mengatur tentang durasi cuti melahirkan bagi ibu dan suami. Hal tersebut diungkapkan Ketua DPR RI Puan Maharani dalam pidatonya di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Puan mengatakan, legislatif sedang memperjuangkan perpanjangan cuti bagi ibu melahirkan yang semula 3 bulan menjadi 6 bulan. Menurut Puan, DPR memperjuangkan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak karena melihat pentingnya kedekatan orang tua dengan buah hati mereka. Mantan Menko PMK itu memahami cuti tiga bulan sebenarnya cukup, tetapi makin baik apabila ibu mendapat libur melahirkan enam bulan.

“Jadi, antara ibu dan anak bisa lebih dekat, bisa lebih memberikan ASI,” kata Puan.

Selain cuti, kata Puan, RUU KIA menyasar pula peran ayah untuk mengurus dan membesarkan anak. RUU KIA menguatkan hak para suami untuk dapat mendampingi istrinya yang melahirkan atau mengalami keguguran. Usulan ini tertuang dalam Pasal 6 draf RUU KIA yang mengatur suami berhak mendapatkan cuti pendampingan ibu melahirkan paling lama 40 hari atau ibu yang mengalami keguguran paling lama 7 hari.

“Jadi, mari dukung ya… itu semua,” kata Puan.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo berterima kasih kepada PDIP untuk mau perhatian terhadap isu stunting.

“Program stunting menjadi program kami di BKKBN yang harus menurunkan angka stunting sampai 14 persen,” ujar Hasto saat menyampaikan pidato di acara Gebyar Inovasi Pelayanan Kesehatan Rakyat di Sekolah Partai, Jakarta Selatan, Sabtu (18/6).

Pria kelahiran Yogyakarta itu mengatakan, ada tiga kerugian diterima anak ketika menderita stunting. “Satu, stunting itu pendek, jadi susah bersaing. Mau jadi TNI-Polri juga susah. Mau naksir pramugari juga ragu-ragu karena enggak percaya diri,” ujar dia.

Hasto Wardoyo melanjutkan bahwa anak yang stunting berpotensi memiliki daya ingat yang kurang. Ujungnya, anak tidak bisa bersaing di pendidikan.

“Kemudian ketiga, mudah sakit-sakitan. Kalau orang stunting itu di umur 45 tahun itu sudah sentral obbess atau bengkak atau gemuk, tetapi di tengah,” ujarnya.






Reporter: Wiwin Meliana

JAKARTA, BALI EXPRESS – RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) sedang diperjuangkan oleh legislatif. Dua di antaranya mengatur tentang durasi cuti melahirkan bagi ibu dan suami. Hal tersebut diungkapkan Ketua DPR RI Puan Maharani dalam pidatonya di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Puan mengatakan, legislatif sedang memperjuangkan perpanjangan cuti bagi ibu melahirkan yang semula 3 bulan menjadi 6 bulan. Menurut Puan, DPR memperjuangkan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak karena melihat pentingnya kedekatan orang tua dengan buah hati mereka. Mantan Menko PMK itu memahami cuti tiga bulan sebenarnya cukup, tetapi makin baik apabila ibu mendapat libur melahirkan enam bulan.

“Jadi, antara ibu dan anak bisa lebih dekat, bisa lebih memberikan ASI,” kata Puan.

Selain cuti, kata Puan, RUU KIA menyasar pula peran ayah untuk mengurus dan membesarkan anak. RUU KIA menguatkan hak para suami untuk dapat mendampingi istrinya yang melahirkan atau mengalami keguguran. Usulan ini tertuang dalam Pasal 6 draf RUU KIA yang mengatur suami berhak mendapatkan cuti pendampingan ibu melahirkan paling lama 40 hari atau ibu yang mengalami keguguran paling lama 7 hari.

“Jadi, mari dukung ya… itu semua,” kata Puan.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo berterima kasih kepada PDIP untuk mau perhatian terhadap isu stunting.

“Program stunting menjadi program kami di BKKBN yang harus menurunkan angka stunting sampai 14 persen,” ujar Hasto saat menyampaikan pidato di acara Gebyar Inovasi Pelayanan Kesehatan Rakyat di Sekolah Partai, Jakarta Selatan, Sabtu (18/6).

Pria kelahiran Yogyakarta itu mengatakan, ada tiga kerugian diterima anak ketika menderita stunting. “Satu, stunting itu pendek, jadi susah bersaing. Mau jadi TNI-Polri juga susah. Mau naksir pramugari juga ragu-ragu karena enggak percaya diri,” ujar dia.

Hasto Wardoyo melanjutkan bahwa anak yang stunting berpotensi memiliki daya ingat yang kurang. Ujungnya, anak tidak bisa bersaing di pendidikan.

“Kemudian ketiga, mudah sakit-sakitan. Kalau orang stunting itu di umur 45 tahun itu sudah sentral obbess atau bengkak atau gemuk, tetapi di tengah,” ujarnya.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/