27.6 C
Denpasar
Thursday, September 29, 2022

Bandara Banyuwangi Raih Penghargaan Arsitektur Paling Bergengsi di Dunia

SURABAYA, BALI EXPRESS – Penghargaan bidang arsitektur paling bergengsi di dunia, yaitu “The 2022 Aga Khan Award for Architecture” yang diumumkan langsung dari Genewa, Swiss, pada Kamis (22/9) jatuh pada Bandar Udara Internasional Banyuwangi, Jawa Timur.

Bandara Banyuwangi yang terletak di Desa/Kecamatan Blimbingsari berhasil menyisihkan 463 nominasi bangunan dengan arsitektur terbaik dari seluruh dunia. Dari jumlah itu kemudian diseleksi menjadi 20 nominasi untuk selanjutnya ditetapkan enam pemenang terbaik.

Bandara berkonsep hijau pertama di Indonesia itu bersanding dengan sejumlah gedung tersohor lainnya di dunia yang sama-sama mendapatkan penghargaan bidang arsitektur tertua tersebut.

Selain Bandara Banyuwangi, bangunan lain yang mendapatkan AKAA 2022 adalah Urban River Spaces (Bangladesh), Community Space in Rohingnya Refugee Response (Bangladesh), Argo Contemporary Art Museum and Cultural Centre (Teheran, Iran), Renovation of Niemeyer Guest House (Tripoli, Lebanon), dan Kamanar Secondary School (Thionck Essyl, Senegal).

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Aga Khan Development Network (AKDN), penghargaan ini menekankan pada karya arsitektur yang tidak hanya mampu menyediakan kebutuhan fisik, sosial dan ekonomi masyarakat, tetapi juga merespons aspirasi budaya mereka.

Baca Juga :  Empat Generasi Terbaru Honda Hadiri Di Honda Exhibition

“Bangunan ini memperluas bahasa lanskap yang menggabungkan arsitektur, fungsionalitas dan pengaturan disposisi yang baik. Modern dan efisien dalam segala aspek,” demikian pernyataan AKDN.

Aga Khan Award for Architecture didirikan oleh Aga Khan pada tahun 1977 untuk mengidentifikasi dan mengapresiasi konsep arsitektur yang berhasil mewadahi keperluan dan aspirasi masyarakat. Sejak diluncurkan 45 tahun lalu, tak kurang 121 proyek telah menerima penghargaan dan hampir 10.000 proyek sedunia telah didokumentasikan.

Menanggapi raihan penghargaan itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan rasa bangganya dan menyebut penghargaan itu akan semakin menasbihkan nama Banyuwangi di tingkat internasional.

“Penghargaan ini menambah prestasi Banyuwangi di tingkat dunia. Setelah Geopark Ijen lolos sidang dan segera ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark, juga sebagai juara dunia bidang kebijakan pariwisata dari UNWTO, kini dilengkapi dengan penghargaan tingkat dunia untuk bandara,” kata Ipuk.

Baca Juga :  BRI Raih 8 Award di Ajang Human Capital Management Excellence Award

Menurut Ipuk, Bandara Banyuwangi merupakan ikon arsitektur di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu. Dengan mengedepankan konsep gedung ramah lingkungan (green building), tanpa mesin pendingin ruangan kecuali di ruangan tertentu, sekaligus mengedepankan simbol-simbol budaya lokal khas masyarakat setempat.

Atap terminal dipenuhi tanaman dan konservasi air menyejukkan suasana. Sunroof dan ruang-ruang terbuka dengan sinar matahari menjadi sumber cahaya alami pada siang hari.

“Diperhatikan bentuk Bandara Banyuwangi ini mirip dengan udeng khas Suku Osing. Ini adalah representasi dari akomodasi simbol-simbol lokal. Melengkapi konsep hijaunya,” kata Ipuk.

Bandara Banyuwangi juga menjadi salah satu bukti bagaimana kontinuitas program pembangunan diperlukan. Dimulai penyiapannya sejak era kepemimpinan Bupati Samsul Hadi (2000-2005) dan Bupati Ratna Ani Lestari (2005-2010), lalu dibangun dan dioperasikan pada era kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas (2010-2021). (antara)

 


SURABAYA, BALI EXPRESS – Penghargaan bidang arsitektur paling bergengsi di dunia, yaitu “The 2022 Aga Khan Award for Architecture” yang diumumkan langsung dari Genewa, Swiss, pada Kamis (22/9) jatuh pada Bandar Udara Internasional Banyuwangi, Jawa Timur.

Bandara Banyuwangi yang terletak di Desa/Kecamatan Blimbingsari berhasil menyisihkan 463 nominasi bangunan dengan arsitektur terbaik dari seluruh dunia. Dari jumlah itu kemudian diseleksi menjadi 20 nominasi untuk selanjutnya ditetapkan enam pemenang terbaik.

Bandara berkonsep hijau pertama di Indonesia itu bersanding dengan sejumlah gedung tersohor lainnya di dunia yang sama-sama mendapatkan penghargaan bidang arsitektur tertua tersebut.

Selain Bandara Banyuwangi, bangunan lain yang mendapatkan AKAA 2022 adalah Urban River Spaces (Bangladesh), Community Space in Rohingnya Refugee Response (Bangladesh), Argo Contemporary Art Museum and Cultural Centre (Teheran, Iran), Renovation of Niemeyer Guest House (Tripoli, Lebanon), dan Kamanar Secondary School (Thionck Essyl, Senegal).

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Aga Khan Development Network (AKDN), penghargaan ini menekankan pada karya arsitektur yang tidak hanya mampu menyediakan kebutuhan fisik, sosial dan ekonomi masyarakat, tetapi juga merespons aspirasi budaya mereka.

Baca Juga :  Februari Ini, Ada Promo Spesial Honda BeAt untuk Tiga Profesi Berikut

“Bangunan ini memperluas bahasa lanskap yang menggabungkan arsitektur, fungsionalitas dan pengaturan disposisi yang baik. Modern dan efisien dalam segala aspek,” demikian pernyataan AKDN.

Aga Khan Award for Architecture didirikan oleh Aga Khan pada tahun 1977 untuk mengidentifikasi dan mengapresiasi konsep arsitektur yang berhasil mewadahi keperluan dan aspirasi masyarakat. Sejak diluncurkan 45 tahun lalu, tak kurang 121 proyek telah menerima penghargaan dan hampir 10.000 proyek sedunia telah didokumentasikan.

Menanggapi raihan penghargaan itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan rasa bangganya dan menyebut penghargaan itu akan semakin menasbihkan nama Banyuwangi di tingkat internasional.

“Penghargaan ini menambah prestasi Banyuwangi di tingkat dunia. Setelah Geopark Ijen lolos sidang dan segera ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark, juga sebagai juara dunia bidang kebijakan pariwisata dari UNWTO, kini dilengkapi dengan penghargaan tingkat dunia untuk bandara,” kata Ipuk.

Baca Juga :  BRI Raih 8 Award di Ajang Human Capital Management Excellence Award

Menurut Ipuk, Bandara Banyuwangi merupakan ikon arsitektur di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu. Dengan mengedepankan konsep gedung ramah lingkungan (green building), tanpa mesin pendingin ruangan kecuali di ruangan tertentu, sekaligus mengedepankan simbol-simbol budaya lokal khas masyarakat setempat.

Atap terminal dipenuhi tanaman dan konservasi air menyejukkan suasana. Sunroof dan ruang-ruang terbuka dengan sinar matahari menjadi sumber cahaya alami pada siang hari.

“Diperhatikan bentuk Bandara Banyuwangi ini mirip dengan udeng khas Suku Osing. Ini adalah representasi dari akomodasi simbol-simbol lokal. Melengkapi konsep hijaunya,” kata Ipuk.

Bandara Banyuwangi juga menjadi salah satu bukti bagaimana kontinuitas program pembangunan diperlukan. Dimulai penyiapannya sejak era kepemimpinan Bupati Samsul Hadi (2000-2005) dan Bupati Ratna Ani Lestari (2005-2010), lalu dibangun dan dioperasikan pada era kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas (2010-2021). (antara)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/