alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Jokowi, Presiden Pertama di Asia Kunjungi Rusia dan Ukraina

JAKARTA, BALI EXPRESS – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Lestari Priansari Marsudi memastikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi pemimpin negara pertama di Asia yang akan menyambangi  Ukraina dan Rusia yang tengah terlibat perang.

Dalam press briefing Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Retno menyampaikan, rencananya presiden mengunjungi Kiev dan Moskow usai menghadiri KTT G-7 di Elmau, Jerman, tanggal 26-27 Juni 2022.

Jokowi diundang langsung oleh Jerman sebagai ketua G-7 untuk hadir dalam KTT G-7. Selain Indonesia, beberapa negara non-G-7 atau G-7 Partner Countries seperti India, Senegal, Argentina dan Afrika Selatan juga turut diundang dalam acara tersebut.

Retno mengungkapkan, dalam G-7 Summit for Partner Countries nanti, isu pangan bakal jadi salah satu yang akan dibahas. Sebagaimana ketahui, isu pangan, energi, dan keuangan akhir-akhir ini terus menjadi pembicaraan dunia.

Selain dampak Covid-19, masalah tersebut juga dipengaruhi oleh perang yang terjadi di Ukraina. Mengingat, kedua negara yang bertikai memiliki peran penting dalam rantai pasok pangan dan energi global. Jika mengutip laporan pertama dari Global Crisis Response Group yang dibentuk oleh Sekjen PBB, kedua negara merupakan bagian dari lumbung pangan dunia. Mereka menyediakan 30 persen gandum dan barley untuk dunia. Selain itu, Rusia juga merupakan pengekspor gas alam teratas dan pengekspor minyak terbesar kedua di dunia. Sehingga, perang yang terjadi turut berkontribusi pada kenaikan harga pangan dan energi yang terjadi yang dampaknya dirasakan oleh semua negara.

Baca Juga :  Airlangga: Kartu Prakerja untuk Skilling, Upskilling, dan Reskilling

”Dari Jerman, Presiden Jokowi direncanakan akan mengunjungi Kiev, Ukraina, dan Moskow, Rusia,” ujarnya.

Belum ada tanggal pasti yang disampaikan atas kedua kunjungan ini. Namun, dalam kunjungan ini, Jokowi telah diagendakan bertemu dengan kedua pemimpin negara. Di Ukraina Jokowi dijadwalkan untuk melakukan pertemuan dengan Presiden Volodymyr Zelensky. Sementara, di Rusia akan langsung bertemu dengan Presiden Vladimir Putin.

Kunjungan Presiden ini, kata Retno, sebagai bentuk kepedulian Indonesia terhadap isu kemanusiaan yang muncul akibat eskalasi yang terjadi. Indonesia juga mencoba memberikan kontribusi untuk menangani krisis pangan yang diakibatkan karena perang, yang dampaknya dirasakan oleh semua negara, terutama negara berkembang dan berpendapatan rendah. Tak terkecuali, mendorong spirit perdamaian.

Baca Juga :  Warga Jerman harus Hemat Energi untuk Menekan Rusia

Retno menyadari, kunjungan ke dua negara ini merupakan kunjungan yang dilakukan dalam situasi yang tidak normal. Di mana, kondisi masih sangat complicated. ”Dunia juga paham mengenai kompleksitas masalah yang ada,” katanya dikutif dari Jawa Post Group.

Namun, justru di dalam kondisi tersebut, lanjut dia, sebagai Presiden G-20 dan satu satu anggota Champion Group dari Global Crisis Response Group yang dibentuk Sekjen PBB, Presiden Jokowi justru memilih untuk mencoba berkontribusi. Bukan sebaliknya, memilih untuk diam.

Usai dari Ukraina dan Rusia, Presiden Jokowi masih akan melanjutkan lawatannya ke luar negeri. Rencananya, presiden akan langsung terbang ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kunjungan dimaksudkan untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang ekonomi antara kedua negara.






Reporter: Wiwin Meliana

JAKARTA, BALI EXPRESS – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Lestari Priansari Marsudi memastikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi pemimpin negara pertama di Asia yang akan menyambangi  Ukraina dan Rusia yang tengah terlibat perang.

Dalam press briefing Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Retno menyampaikan, rencananya presiden mengunjungi Kiev dan Moskow usai menghadiri KTT G-7 di Elmau, Jerman, tanggal 26-27 Juni 2022.

Jokowi diundang langsung oleh Jerman sebagai ketua G-7 untuk hadir dalam KTT G-7. Selain Indonesia, beberapa negara non-G-7 atau G-7 Partner Countries seperti India, Senegal, Argentina dan Afrika Selatan juga turut diundang dalam acara tersebut.

Retno mengungkapkan, dalam G-7 Summit for Partner Countries nanti, isu pangan bakal jadi salah satu yang akan dibahas. Sebagaimana ketahui, isu pangan, energi, dan keuangan akhir-akhir ini terus menjadi pembicaraan dunia.

Selain dampak Covid-19, masalah tersebut juga dipengaruhi oleh perang yang terjadi di Ukraina. Mengingat, kedua negara yang bertikai memiliki peran penting dalam rantai pasok pangan dan energi global. Jika mengutip laporan pertama dari Global Crisis Response Group yang dibentuk oleh Sekjen PBB, kedua negara merupakan bagian dari lumbung pangan dunia. Mereka menyediakan 30 persen gandum dan barley untuk dunia. Selain itu, Rusia juga merupakan pengekspor gas alam teratas dan pengekspor minyak terbesar kedua di dunia. Sehingga, perang yang terjadi turut berkontribusi pada kenaikan harga pangan dan energi yang terjadi yang dampaknya dirasakan oleh semua negara.

Baca Juga :  Tak Direstui Rujuk dengan Mantan Suami, Wanita Tabrak Polres Pematang Siantar

”Dari Jerman, Presiden Jokowi direncanakan akan mengunjungi Kiev, Ukraina, dan Moskow, Rusia,” ujarnya.

Belum ada tanggal pasti yang disampaikan atas kedua kunjungan ini. Namun, dalam kunjungan ini, Jokowi telah diagendakan bertemu dengan kedua pemimpin negara. Di Ukraina Jokowi dijadwalkan untuk melakukan pertemuan dengan Presiden Volodymyr Zelensky. Sementara, di Rusia akan langsung bertemu dengan Presiden Vladimir Putin.

Kunjungan Presiden ini, kata Retno, sebagai bentuk kepedulian Indonesia terhadap isu kemanusiaan yang muncul akibat eskalasi yang terjadi. Indonesia juga mencoba memberikan kontribusi untuk menangani krisis pangan yang diakibatkan karena perang, yang dampaknya dirasakan oleh semua negara, terutama negara berkembang dan berpendapatan rendah. Tak terkecuali, mendorong spirit perdamaian.

Baca Juga :  Indonesia Produksi 1.700 Ton Oksigen, Namun Butuh 2.500 Ton Per Hari

Retno menyadari, kunjungan ke dua negara ini merupakan kunjungan yang dilakukan dalam situasi yang tidak normal. Di mana, kondisi masih sangat complicated. ”Dunia juga paham mengenai kompleksitas masalah yang ada,” katanya dikutif dari Jawa Post Group.

Namun, justru di dalam kondisi tersebut, lanjut dia, sebagai Presiden G-20 dan satu satu anggota Champion Group dari Global Crisis Response Group yang dibentuk Sekjen PBB, Presiden Jokowi justru memilih untuk mencoba berkontribusi. Bukan sebaliknya, memilih untuk diam.

Usai dari Ukraina dan Rusia, Presiden Jokowi masih akan melanjutkan lawatannya ke luar negeri. Rencananya, presiden akan langsung terbang ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kunjungan dimaksudkan untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang ekonomi antara kedua negara.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/