alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, January 29, 2022

Densus 88 Temukan Hal Mengerikan dalam Sasana Beladiri Kombatan JI

JAKARTA, BALI EXPRESS – Sebuah Sasana Beladiri untuk melatih kader-kader Jamaah Islamiyah (JI) berhasil ditemukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Sasana ini digunakan untuk melatih para kadernya agar memiliki kemampuan bertarung.

Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabagbanops) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar mengatakan, di sasana tersebut, para kader dilatih oleh para mantan kombatan JI yang telah dikirim ke Afghanistan atau negara konflik lainnya. Sehingga, kemampuan bertempur mereka bisa diandalkan.

Dijelaskan, kelompok pelatihan bela diri tersebut sulit dibedakan dengan tempat pelatihan lain yang lazim berada di masyarakat. Inilah yang membuat Densus memerlukan waktu untuk mendalami sistem pendanaan keperluan jaringan JI saat ini.

“Bentuknya seperti kelompok bela diri seperti pelatihan-pelatihan seperti itu dengan kelompok pencak silat biasa. Kan susah kita bedakan dengan perguruan-perguruan kayak pencak silat yang ada di masyarakat gitu,” terangnya seperti dikutip dari Manado Post.

Selain itu, Densus 88 Antiteror Polri juga menemukan aliran dana kelompok JI ke tempat pelatihan fisik dan beladiri anggotanya melalui perguruan-perguruan formal yang memiliki legalitas.

Yang cukup mengerikan, Densus juga menemukan ada aliran dana ke sebuah kelompok yang disebut dengan sasana yang kegiatannya latihan-latihan fisik, beladiri kemudian terungkap ternyata itu adalah bagian atau afiliasi untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk membekali kader-kadernya dengan kemampuan untuk melawan petugas.

Menurut Aswin, JI memiliki sistem pendanaan yang rapih jika dibandingkan dengan jaringan teroris lain. Sehingga, Densus melakukan penyidikan jangka panjang untuk dapat memutus aliran dana yang menjadi penghidupan organisasi terlarang itu.

“Organisasi ini ada terus karena tadi ada pendanaan salah satu yang penting, salah satunya lagi adalah rekrutmen. Dimana ada orang terus yang akan bergabung dengan mereka. Orangnya, aktivitasnya, asetnya, semua harus dihentikan,” tambahnya.

Tak hanya itu, Densus 88 juga mengungkap peran penting Farid Okbah dan Ahmad Zain An Najah di yayasan pendanaan milik kelompok Jamaah Islamiyah. Keduanya sebagai orang yang dimintai petunjuk dalam pengumpulan dan penyaluran dana.

Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabag Banops) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar mengatakan, Farid Ahmad Okbah merupakan anggota Lembaga Amil Zakat Baitul Mal Abdurrahman Bin Auf (LAM BM ABA) yang diketuai oleh Ahmad Zain An Najah. “Ketua BM ABA yang ditangkap FS (Fitria Sanjaya) itu dalam strukturnya meminta petunjuk dan laporan kepada FAO dan ZA. Dia meminta petunjuk dan bagaimana, apalagi yang harus dikerjakan dan seterusnya,” kata Aswin dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (26/11).

Baca Juga :  Ribuan Anak Terima Remisi Saat Peringatan Hari Anak Nasional

FS adalah Ketua BM ABA yang ditangkap pada 2020 lalu. FS setelah meminta petunjuk dari tersangka FAO dan ZA, kemudian berkoordinasi dengan kurir-kurir atau orang-orang yang terkait dana yang akan dikumpulkan atau telah dikumpulkan. Uang yang telah dikumpulkan tersebut, Aswin melanjutkan, dibawa oleh FS untuk dilaporkan kepada bendahara pusat kelompok JI berinisial SJ. “SJ ini juga sudah ditangkap,” kata Aswin.

Menurut Aswin, lembaga dan yayasan pendanaan kelompok JI mampu mengumpulkan uang dari kegiatan-kegiatan penggalangan dana mencapai miliaran rupiah per tahunnya. Kelompok JI, kata dia, mendirikan lembaga dan yayasan legal, memiliki akte notaris serta kantor. Dua lembaga amal yang dibentuk, yakni Lembaga Amil Zakat Baitul Mal Abdurrahman Bin auf (LAM BM ABA) dan Syam Organizer (SO).

“Bisa dibayangkan bahwa yayasan atau kegiatan-kegiatan ini mengumpulkan uang hingga bermiliar-miliar. Contohnya, Syam Abadi ini dalam pemeriksaan terungkap bahwa pendapatannya hampir sekitar Rp 14 miliar per tahun,” kata Aswin. Menurut Aswin, kelompok JI menerapkan sistem putus dalam menghitung laporan keuangannya untuk menghindari pencatatan atau record yang formal. “Jumlah ini jauh lebih fantastis dibandingkan apa yang bisa kita ungkap dalam bentuk laporan. Ada yang mengatakan sekitaran Rp 14 miliar gitu ya, tapi sekitar 15 miliar per tahun dan di BM ABA juga tidak jauh beda itu sekitaran Rp 14 miliar per tahun,” kata Aswin.

Aswin juga menyebutkan, pada waktu penyitaan di kantor pusat Syam Organizer disita uang tunai sebesar Rp 944,8 juta. Seperti yang diketahui Densus 88 Antiteror Polri menangkap tiga orang mubaligh yang terlibat dalam pendanaan kelompok teroris JI di Bekasi pada 16 November lalu. Ketiga orang tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka, yakni Farid Ahmad Okbah, Ahmad Zain An Najah, dan Anung Al Hamat. Ahmad Zain An Najah pernah tercatat sebagai anggota Komisi Fatwa MUI pusat, sedangkan Farid Okbah, anggota Komisi Fatwa MUI Bekasi.

Farid Okbah juga merupakan Dewan Syuro kelompok JI, pernah menjabat sebagai anggota Dewan Syariah LAM BM ABA, sedangkan Ahmad Zain An Najah menjabat sebagai ketua LAM BM ABA. Adapun Anung Al Hamat, perannya sebagai pendiri Perisai Nusantara Esa, lembaga advokasi kelompok JI.

 

 

JAKARTA, BALI EXPRESS – Sebuah Sasana Beladiri untuk melatih kader-kader Jamaah Islamiyah (JI) berhasil ditemukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Sasana ini digunakan untuk melatih para kadernya agar memiliki kemampuan bertarung.

Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabagbanops) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar mengatakan, di sasana tersebut, para kader dilatih oleh para mantan kombatan JI yang telah dikirim ke Afghanistan atau negara konflik lainnya. Sehingga, kemampuan bertempur mereka bisa diandalkan.

Dijelaskan, kelompok pelatihan bela diri tersebut sulit dibedakan dengan tempat pelatihan lain yang lazim berada di masyarakat. Inilah yang membuat Densus memerlukan waktu untuk mendalami sistem pendanaan keperluan jaringan JI saat ini.

“Bentuknya seperti kelompok bela diri seperti pelatihan-pelatihan seperti itu dengan kelompok pencak silat biasa. Kan susah kita bedakan dengan perguruan-perguruan kayak pencak silat yang ada di masyarakat gitu,” terangnya seperti dikutip dari Manado Post.

Selain itu, Densus 88 Antiteror Polri juga menemukan aliran dana kelompok JI ke tempat pelatihan fisik dan beladiri anggotanya melalui perguruan-perguruan formal yang memiliki legalitas.

Yang cukup mengerikan, Densus juga menemukan ada aliran dana ke sebuah kelompok yang disebut dengan sasana yang kegiatannya latihan-latihan fisik, beladiri kemudian terungkap ternyata itu adalah bagian atau afiliasi untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk membekali kader-kadernya dengan kemampuan untuk melawan petugas.

Menurut Aswin, JI memiliki sistem pendanaan yang rapih jika dibandingkan dengan jaringan teroris lain. Sehingga, Densus melakukan penyidikan jangka panjang untuk dapat memutus aliran dana yang menjadi penghidupan organisasi terlarang itu.

“Organisasi ini ada terus karena tadi ada pendanaan salah satu yang penting, salah satunya lagi adalah rekrutmen. Dimana ada orang terus yang akan bergabung dengan mereka. Orangnya, aktivitasnya, asetnya, semua harus dihentikan,” tambahnya.

Tak hanya itu, Densus 88 juga mengungkap peran penting Farid Okbah dan Ahmad Zain An Najah di yayasan pendanaan milik kelompok Jamaah Islamiyah. Keduanya sebagai orang yang dimintai petunjuk dalam pengumpulan dan penyaluran dana.

Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabag Banops) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar mengatakan, Farid Ahmad Okbah merupakan anggota Lembaga Amil Zakat Baitul Mal Abdurrahman Bin Auf (LAM BM ABA) yang diketuai oleh Ahmad Zain An Najah. “Ketua BM ABA yang ditangkap FS (Fitria Sanjaya) itu dalam strukturnya meminta petunjuk dan laporan kepada FAO dan ZA. Dia meminta petunjuk dan bagaimana, apalagi yang harus dikerjakan dan seterusnya,” kata Aswin dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (26/11).

Baca Juga :  Samin Tan Divonis Bebas, Jaksa KPK Langsung Ajukan Kasasi

FS adalah Ketua BM ABA yang ditangkap pada 2020 lalu. FS setelah meminta petunjuk dari tersangka FAO dan ZA, kemudian berkoordinasi dengan kurir-kurir atau orang-orang yang terkait dana yang akan dikumpulkan atau telah dikumpulkan. Uang yang telah dikumpulkan tersebut, Aswin melanjutkan, dibawa oleh FS untuk dilaporkan kepada bendahara pusat kelompok JI berinisial SJ. “SJ ini juga sudah ditangkap,” kata Aswin.

Menurut Aswin, lembaga dan yayasan pendanaan kelompok JI mampu mengumpulkan uang dari kegiatan-kegiatan penggalangan dana mencapai miliaran rupiah per tahunnya. Kelompok JI, kata dia, mendirikan lembaga dan yayasan legal, memiliki akte notaris serta kantor. Dua lembaga amal yang dibentuk, yakni Lembaga Amil Zakat Baitul Mal Abdurrahman Bin auf (LAM BM ABA) dan Syam Organizer (SO).

“Bisa dibayangkan bahwa yayasan atau kegiatan-kegiatan ini mengumpulkan uang hingga bermiliar-miliar. Contohnya, Syam Abadi ini dalam pemeriksaan terungkap bahwa pendapatannya hampir sekitar Rp 14 miliar per tahun,” kata Aswin. Menurut Aswin, kelompok JI menerapkan sistem putus dalam menghitung laporan keuangannya untuk menghindari pencatatan atau record yang formal. “Jumlah ini jauh lebih fantastis dibandingkan apa yang bisa kita ungkap dalam bentuk laporan. Ada yang mengatakan sekitaran Rp 14 miliar gitu ya, tapi sekitar 15 miliar per tahun dan di BM ABA juga tidak jauh beda itu sekitaran Rp 14 miliar per tahun,” kata Aswin.

Aswin juga menyebutkan, pada waktu penyitaan di kantor pusat Syam Organizer disita uang tunai sebesar Rp 944,8 juta. Seperti yang diketahui Densus 88 Antiteror Polri menangkap tiga orang mubaligh yang terlibat dalam pendanaan kelompok teroris JI di Bekasi pada 16 November lalu. Ketiga orang tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka, yakni Farid Ahmad Okbah, Ahmad Zain An Najah, dan Anung Al Hamat. Ahmad Zain An Najah pernah tercatat sebagai anggota Komisi Fatwa MUI pusat, sedangkan Farid Okbah, anggota Komisi Fatwa MUI Bekasi.

Farid Okbah juga merupakan Dewan Syuro kelompok JI, pernah menjabat sebagai anggota Dewan Syariah LAM BM ABA, sedangkan Ahmad Zain An Najah menjabat sebagai ketua LAM BM ABA. Adapun Anung Al Hamat, perannya sebagai pendiri Perisai Nusantara Esa, lembaga advokasi kelompok JI.

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru