alexametrics
28.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Seorang Mahasiswi Dicabuli di Ruang Lab oleh Dosen Pembimbing

PALEMBANG, BALI EXPRESS – Seorang mahasiswi berinisial DR digenjot dosen pembingingnya di ruang laboratorium Prodi Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Kasubdit 4 Renakta Ditreskrimum Polda Sumsel Kompol Masnoni SIK mengatakan, awalnya pelapor meminta tanda tangan penyelesaian skripsi kepada terlapor yang merupakan dosen pembimbingnya.

“Terus ada curhat keduanya, di sinilah kesempatan itu ada. Lama kejadian di ruangan ini 10-15 menit, sekitar pukul 09.00 WIB pada hari Sabtu, dua bulan yang lalu,” terangnya dikutip dari palpres.com (grup Jawa Pos).

Atas perbuatan itu, korban kemudian melapor ke polisi atas dugaan pelecehan seksual. Setelah oknum dosen Unsri resmi dilaporkan, petugas dari Subdit 4 Renakta Ditreskrimum Polda Sumsel mendatangi Kampus Unsri Indralaya, Rabu (01/12/2021) siang sekitar pukul 13.30 WIB.

Kedatangan personil yang dipimpin langsung oleh Kompol Masnoni SIK bertujuan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Olah TKP dilakukan di ruang laboratorium Prodi Sejarah FKIP Unsri.

Petugas dari Polda Sumsel didampingi oleh Satreskrim Polres Ogan Ilir, pihak Unsri dan korban DR sendiri.

Namun sayangnya, dalam aksi olah TKP ini, petugas sempat mengalami hambatan. Padahal sebelumnya petugas sudah melakukan pertemuan dengan Pembantu Rektor III Unsri.

Nyatanya ruang TKP masih saja terkunci alias tergembok dan pihak pegawai FKIP sempat mengatakan kunci dibawa oleh salah satu asisten dosen yang tinggal di Palembang.

Setelah ditunggu beberapa jam hingga pukul 16.30 WIB, akhirnya kunci tersebut datang, dan pintu Lab Pendidikan Sejarah terbuka.

Dalam olah TKP tersebut, pelapor DR langsung diminta memeragakan kronologi kejadian di ruangan lab tersebut. Sedangkan oknum dosen diperagakan oleh petugas dari Polda Sumsel.

Selintas terlihat dan terdengar saat korban memperagakan kronologi kejadian. Korban kemudian menangis dan meminta agar adegan pelecehan itu tidak direkam dan difoto.

“Tujuan kita hari ini, untuk melihat bagaimana awal kejadian ini, kasus pencabulan,” ujar Kompol Masnoni didampingi Kasat Reskrim Polres Ogan Ilir.

“Setelah olah TKP ini kita paham, bagaimana awal mula kejadian. Jadi ada persesuaian dengan apa yang dilaporkan korban,” sambungnya.

Menurut Masnoni, setelah melihat olah TKP ini, ada pelecehan yang dilakukan oknum dosen Unsri atau terlapor.

“Korban dicium, dipeluk, bahkan diminta terlapor untuk memegang alat kelaminnya hingga terlapor ejakulasi. Ya, sepertinya terlapor menikmatinya,” ungkapnya.

Masnoni menambahkan pihaknya akan melihat perkembangan penyidikan lanjutan. “Yang pasti kondisi ruangan olah TKP sudah banyak berubah, dan pada saat rekontruksi nanti ruangan olah TKP akan kita kembalikan asal (seperti) saat kejadian semula,” tukasnya.

Sementara itu Rektorat Unsri melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Iwan Stia Budi mengatakan, Unsri sudah tegas dan menindaklanjuti kasus ini sesuai prosedur.

“Terkait hal itu saya kira dari pihak Universitas Sriwijaya sangat tegas, ya dalam hal ini kita sudah melakukan proses itu sesuai dengan prosedur yang berlaku. Artinya, tindakan dari Universitas sudah selesai,” tegasnya.

Terkait keterangan korban yang telah dipsoting di akun instagram, menurut dia, tentunya ini akan berkaitan dengan etika dan moral.

Menurut Iwan, hal ini adalah sesuatu yang sangat disayangkan dan Unsri sendiri akanbersikap tegas.

Soal aduan oknum dosen oleh korban kedua, lanjut dia, pihaknya akan melakukan verifikasi terlebih dahulu.

“Karena kita tidak ada data dan buktinya, termasuk siapa yang memviralkanya, itu juga akan kami kaji secara mendalam,” ucapnya.

Menurutnya, sebelum mendapatkan bukti-bukti yang valid, semua informasi yang beredar itu sifatnya masih dugaan.

“Berkaitan hal itu, kita berpegang kepada Permendagri No 30 tahun 2021, dan Unsri sangat berkomitmen dalam menjalankan hal itu. Tentunya apa yang diamanahkan dalam aturan itu akan selalu kita terapkan,” tandasnya. 

 


PALEMBANG, BALI EXPRESS – Seorang mahasiswi berinisial DR digenjot dosen pembingingnya di ruang laboratorium Prodi Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Kasubdit 4 Renakta Ditreskrimum Polda Sumsel Kompol Masnoni SIK mengatakan, awalnya pelapor meminta tanda tangan penyelesaian skripsi kepada terlapor yang merupakan dosen pembimbingnya.

“Terus ada curhat keduanya, di sinilah kesempatan itu ada. Lama kejadian di ruangan ini 10-15 menit, sekitar pukul 09.00 WIB pada hari Sabtu, dua bulan yang lalu,” terangnya dikutip dari palpres.com (grup Jawa Pos).

Atas perbuatan itu, korban kemudian melapor ke polisi atas dugaan pelecehan seksual. Setelah oknum dosen Unsri resmi dilaporkan, petugas dari Subdit 4 Renakta Ditreskrimum Polda Sumsel mendatangi Kampus Unsri Indralaya, Rabu (01/12/2021) siang sekitar pukul 13.30 WIB.

Kedatangan personil yang dipimpin langsung oleh Kompol Masnoni SIK bertujuan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Olah TKP dilakukan di ruang laboratorium Prodi Sejarah FKIP Unsri.

Petugas dari Polda Sumsel didampingi oleh Satreskrim Polres Ogan Ilir, pihak Unsri dan korban DR sendiri.

Namun sayangnya, dalam aksi olah TKP ini, petugas sempat mengalami hambatan. Padahal sebelumnya petugas sudah melakukan pertemuan dengan Pembantu Rektor III Unsri.

Nyatanya ruang TKP masih saja terkunci alias tergembok dan pihak pegawai FKIP sempat mengatakan kunci dibawa oleh salah satu asisten dosen yang tinggal di Palembang.

Setelah ditunggu beberapa jam hingga pukul 16.30 WIB, akhirnya kunci tersebut datang, dan pintu Lab Pendidikan Sejarah terbuka.

Dalam olah TKP tersebut, pelapor DR langsung diminta memeragakan kronologi kejadian di ruangan lab tersebut. Sedangkan oknum dosen diperagakan oleh petugas dari Polda Sumsel.

Selintas terlihat dan terdengar saat korban memperagakan kronologi kejadian. Korban kemudian menangis dan meminta agar adegan pelecehan itu tidak direkam dan difoto.

“Tujuan kita hari ini, untuk melihat bagaimana awal kejadian ini, kasus pencabulan,” ujar Kompol Masnoni didampingi Kasat Reskrim Polres Ogan Ilir.

“Setelah olah TKP ini kita paham, bagaimana awal mula kejadian. Jadi ada persesuaian dengan apa yang dilaporkan korban,” sambungnya.

Menurut Masnoni, setelah melihat olah TKP ini, ada pelecehan yang dilakukan oknum dosen Unsri atau terlapor.

“Korban dicium, dipeluk, bahkan diminta terlapor untuk memegang alat kelaminnya hingga terlapor ejakulasi. Ya, sepertinya terlapor menikmatinya,” ungkapnya.

Masnoni menambahkan pihaknya akan melihat perkembangan penyidikan lanjutan. “Yang pasti kondisi ruangan olah TKP sudah banyak berubah, dan pada saat rekontruksi nanti ruangan olah TKP akan kita kembalikan asal (seperti) saat kejadian semula,” tukasnya.

Sementara itu Rektorat Unsri melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Iwan Stia Budi mengatakan, Unsri sudah tegas dan menindaklanjuti kasus ini sesuai prosedur.

“Terkait hal itu saya kira dari pihak Universitas Sriwijaya sangat tegas, ya dalam hal ini kita sudah melakukan proses itu sesuai dengan prosedur yang berlaku. Artinya, tindakan dari Universitas sudah selesai,” tegasnya.

Terkait keterangan korban yang telah dipsoting di akun instagram, menurut dia, tentunya ini akan berkaitan dengan etika dan moral.

Menurut Iwan, hal ini adalah sesuatu yang sangat disayangkan dan Unsri sendiri akanbersikap tegas.

Soal aduan oknum dosen oleh korban kedua, lanjut dia, pihaknya akan melakukan verifikasi terlebih dahulu.

“Karena kita tidak ada data dan buktinya, termasuk siapa yang memviralkanya, itu juga akan kami kaji secara mendalam,” ucapnya.

Menurutnya, sebelum mendapatkan bukti-bukti yang valid, semua informasi yang beredar itu sifatnya masih dugaan.

“Berkaitan hal itu, kita berpegang kepada Permendagri No 30 tahun 2021, dan Unsri sangat berkomitmen dalam menjalankan hal itu. Tentunya apa yang diamanahkan dalam aturan itu akan selalu kita terapkan,” tandasnya. 

 


Most Read

Artikel Terbaru

/