alexametrics
26.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Misteri Keris Empu Gandring (Bagian 1)

Pusaka Sakti Tanah Jawa Penyebar Maut

Sejarah Keris Mpu Gandring memang masih banyak diperdebatkan. Benarkah keris ini ada? Jika dianggap tidak ada, mengapa namanya sangat populer hingga berabad-abad? Rasanya kurang lengkap membicarakan sejarah Kerajaan Singasara, tetapi melupakan legenda keris Empu Gandring. Konon keris pusaka sakti ini tetap menjadi pusaka Majapahit, tetapi ada juga yang berpendapat lain. Meski dianggap sebagai keris menyebar maut dalam sejarah Kerajaan Singasari, keberadaa keris hingga kini masih menjadi misteri yang sangat besar.

Dalam kanal Youtube Jagad Mandala dipaparkan, sejarah awal mula terbentuknya keris Empu Gandring. Dikisahkan Empu Gandring merupakan sesepuh yang memiliki keahlian dalam membuat keris. Dia tinggal di desa bernama Lulumbang. Empu Gandring merupakan sahabat dari Bango Samparan yang merupakan ayah angkat Ken Angrok.

Suatu hari Ken Angrok menghadap Bango Samparan di kediamannya di Karuman untuk mengutarakan keinginannya menaklukkan Aku Tumapel Tunggul Ametung secara diam-diam. Bango Samparan mengingatkan bahwa Tunggul Ametung memiliki kesaktian mandraguna. Dia tak akan mati oleh keris yang tuahnya abal-abal. Karena itu, Bango Samparan merekomendasikan Ken Angrok memesan keris pada Empu Gandring. Menurutnya, tidak ada orang yang sakti jika berhadapan dengan keris buatan sesepuh Lulumbang itu. Tak butuh dua kali tusuk, korban langsung tewas seketika.

Pertemuan Angrok dan Empu terjadi di bengkel keris  Gandring. Angrok tahu keris sakti tidak dapat dibuat dengan hitungan hari. Dia kemudian meminta dibuatkan keris dalam kurun waktu lima bulan. Tidak diduga, Empu Gandring meminta waktu lebih lama lagi, yakni satu tahun. Gandring ingin membuat karya yang masterpiece. Ia ingin hasil tempaannya benar-benar matang. Namun Angrok tetap memaksa agar keris itu diselesaikan hanya dalam kurun waktu lima  bulan, terserah bentuknya seperti apa.

Lima bulan berlalu, Ken Angrok kembali mendatangi Gandring. Namun ia terlihat marah karena keris pesanannya terlihat jelek. Apalagi saat ia datang Gandring masih terlihat mengerjakan keris tersebut. Angrok benar-benar kecewa dengan hasilnya yang tidak memuasakan. Dengan marah Ken Angrok kemudian menikam Empu Gandring. Belum puas, keris itu dihantamkan pada batu yang cukup besar, namun Angrok terkejut karena batu yang keras itu terbelah. Penasaran, Angrok kembali menghantamkan keris di alas tempaan milik Gandring. Lagi-lagi sasaran itu pecah jadi dua.

Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengutuk keris itu, bahwa keturunan Angrok akan terbunuh oleh keris itu. Tujuh raja akan tewas olehnya. Mendengar hal itu, Ken Angrok menyesal. Empu Gandring pun menghela nafas terakhirnya. Angrok hanya bisa mengamati keris yang hulunya terbuat dari kayu Cangkring atau Dadap berduri, belum diberi perekat dan masih sangat kasar. Belakangan, keris tersebut memang digunakan Angrok untuk menikam Tunggul Ametung ketika sedang tidur.






Reporter: Wiwin Meliana

Sejarah Keris Mpu Gandring memang masih banyak diperdebatkan. Benarkah keris ini ada? Jika dianggap tidak ada, mengapa namanya sangat populer hingga berabad-abad? Rasanya kurang lengkap membicarakan sejarah Kerajaan Singasara, tetapi melupakan legenda keris Empu Gandring. Konon keris pusaka sakti ini tetap menjadi pusaka Majapahit, tetapi ada juga yang berpendapat lain. Meski dianggap sebagai keris menyebar maut dalam sejarah Kerajaan Singasari, keberadaa keris hingga kini masih menjadi misteri yang sangat besar.

Dalam kanal Youtube Jagad Mandala dipaparkan, sejarah awal mula terbentuknya keris Empu Gandring. Dikisahkan Empu Gandring merupakan sesepuh yang memiliki keahlian dalam membuat keris. Dia tinggal di desa bernama Lulumbang. Empu Gandring merupakan sahabat dari Bango Samparan yang merupakan ayah angkat Ken Angrok.

Suatu hari Ken Angrok menghadap Bango Samparan di kediamannya di Karuman untuk mengutarakan keinginannya menaklukkan Aku Tumapel Tunggul Ametung secara diam-diam. Bango Samparan mengingatkan bahwa Tunggul Ametung memiliki kesaktian mandraguna. Dia tak akan mati oleh keris yang tuahnya abal-abal. Karena itu, Bango Samparan merekomendasikan Ken Angrok memesan keris pada Empu Gandring. Menurutnya, tidak ada orang yang sakti jika berhadapan dengan keris buatan sesepuh Lulumbang itu. Tak butuh dua kali tusuk, korban langsung tewas seketika.

Pertemuan Angrok dan Empu terjadi di bengkel keris  Gandring. Angrok tahu keris sakti tidak dapat dibuat dengan hitungan hari. Dia kemudian meminta dibuatkan keris dalam kurun waktu lima bulan. Tidak diduga, Empu Gandring meminta waktu lebih lama lagi, yakni satu tahun. Gandring ingin membuat karya yang masterpiece. Ia ingin hasil tempaannya benar-benar matang. Namun Angrok tetap memaksa agar keris itu diselesaikan hanya dalam kurun waktu lima  bulan, terserah bentuknya seperti apa.

Lima bulan berlalu, Ken Angrok kembali mendatangi Gandring. Namun ia terlihat marah karena keris pesanannya terlihat jelek. Apalagi saat ia datang Gandring masih terlihat mengerjakan keris tersebut. Angrok benar-benar kecewa dengan hasilnya yang tidak memuasakan. Dengan marah Ken Angrok kemudian menikam Empu Gandring. Belum puas, keris itu dihantamkan pada batu yang cukup besar, namun Angrok terkejut karena batu yang keras itu terbelah. Penasaran, Angrok kembali menghantamkan keris di alas tempaan milik Gandring. Lagi-lagi sasaran itu pecah jadi dua.

Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengutuk keris itu, bahwa keturunan Angrok akan terbunuh oleh keris itu. Tujuh raja akan tewas olehnya. Mendengar hal itu, Ken Angrok menyesal. Empu Gandring pun menghela nafas terakhirnya. Angrok hanya bisa mengamati keris yang hulunya terbuat dari kayu Cangkring atau Dadap berduri, belum diberi perekat dan masih sangat kasar. Belakangan, keris tersebut memang digunakan Angrok untuk menikam Tunggul Ametung ketika sedang tidur.






Reporter: Wiwin Meliana

Most Read

Artikel Terbaru

/