alexametrics
24.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Wow! Harga Pertalite di Jayawijaya Tembus Angka Rp 50.000 per Liter

WAMENA, BALI EXPRESS – Harga pertalite di Jayawijaya, Papua, menembus angka Rp 50 ribu per liter. Bahkan, hal itu sudah berlangsung seminggu lebih. Kepolisian Resor Jayawijaya, Provinsi Papua, kini masih menyelidiki kenaikan tersebut.

Kepala Polres Jayawijaya, AKBP Muh Safei, saat di Wamena, Minggu (5/12), mengatakan, jika polisi mendapati warga menjual dengan harga lebih dari Rp18.000/liter maka pengecer itu pasti ditindak.

“Saat ini anggota reserse sedang melakukan penyelidikan, bagi yang menaikan harga dari eceran yang sebenarnya yang Rp 18.000/liter ada yang menjual sampai Rp50.000/liter, yakin dan percaya dia ditutup,” katanya.

Rata-rata pengecer BBM yang menjual Pertalite dengan harga Rp20.000, Rp25.000, Rp35.000, hingga Rp50.000 per liter ini tidak memiliki izin.

“Yang eceran tidak punya izin, dari segi kemanusiaan bolehlah dia melakukan penjualan enceran sepanjang tidak merugikan orang banyak. Artinya dia mencari hidup, kemudian harganya tidak terlalu jauh dari standar yang ada di APMS,” katanya.

Sebelumnya Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua, mengakui BBM di tingkat pengecer masih ada namun disembunyikan karena pemilik tidak mau mengikuti harga yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp15.000 per liter untuk Pertalite.

“Semua pengecer BBM subsidi ini menyimpan BBM mereka untuk bisa menaikkan harga BBM di Wamena karena tidak mau mengikuti aturan pemerintah,” katanya.

Warga Jayawijaya, Deni Alvin Tonjauw, mengakui mendapati Pertalite dijual dengan harga Rp50.000 per liter. “Saya beli di depan Pasar Potikelek itu dua liter Rp100.000,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, pengecer pertalite di pusat kota tiba-tiba sepi tidak terlihat setelah mendengar pemerintah mengharuskan mereka menjual dengan harga Rp15.000 per liter.

Sebelum ada kebijakan pemerintah tentang harga pengecer ini, jumlah pengecer mencapai 2.000 lebih dan sangat mudah ditemui di sepanjang jalan di pusat ibu kota kabupaten.

Hingga Minggu, (5/12) warga Jayawijaya masih kesulitan mendapatkan Pertalite sebab pengecer masih menyembunyikan jualan mereka. (antara)


WAMENA, BALI EXPRESS – Harga pertalite di Jayawijaya, Papua, menembus angka Rp 50 ribu per liter. Bahkan, hal itu sudah berlangsung seminggu lebih. Kepolisian Resor Jayawijaya, Provinsi Papua, kini masih menyelidiki kenaikan tersebut.

Kepala Polres Jayawijaya, AKBP Muh Safei, saat di Wamena, Minggu (5/12), mengatakan, jika polisi mendapati warga menjual dengan harga lebih dari Rp18.000/liter maka pengecer itu pasti ditindak.

“Saat ini anggota reserse sedang melakukan penyelidikan, bagi yang menaikan harga dari eceran yang sebenarnya yang Rp 18.000/liter ada yang menjual sampai Rp50.000/liter, yakin dan percaya dia ditutup,” katanya.

Rata-rata pengecer BBM yang menjual Pertalite dengan harga Rp20.000, Rp25.000, Rp35.000, hingga Rp50.000 per liter ini tidak memiliki izin.

“Yang eceran tidak punya izin, dari segi kemanusiaan bolehlah dia melakukan penjualan enceran sepanjang tidak merugikan orang banyak. Artinya dia mencari hidup, kemudian harganya tidak terlalu jauh dari standar yang ada di APMS,” katanya.

Sebelumnya Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua, mengakui BBM di tingkat pengecer masih ada namun disembunyikan karena pemilik tidak mau mengikuti harga yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp15.000 per liter untuk Pertalite.

“Semua pengecer BBM subsidi ini menyimpan BBM mereka untuk bisa menaikkan harga BBM di Wamena karena tidak mau mengikuti aturan pemerintah,” katanya.

Warga Jayawijaya, Deni Alvin Tonjauw, mengakui mendapati Pertalite dijual dengan harga Rp50.000 per liter. “Saya beli di depan Pasar Potikelek itu dua liter Rp100.000,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, pengecer pertalite di pusat kota tiba-tiba sepi tidak terlihat setelah mendengar pemerintah mengharuskan mereka menjual dengan harga Rp15.000 per liter.

Sebelum ada kebijakan pemerintah tentang harga pengecer ini, jumlah pengecer mencapai 2.000 lebih dan sangat mudah ditemui di sepanjang jalan di pusat ibu kota kabupaten.

Hingga Minggu, (5/12) warga Jayawijaya masih kesulitan mendapatkan Pertalite sebab pengecer masih menyembunyikan jualan mereka. (antara)


Most Read

Artikel Terbaru

/