30.8 C
Denpasar
Monday, January 30, 2023

Lima Balita di Kepri Meninggal Dunia akibat Gagal Ginjal Akut

BATAM, BALI EXPRESS – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mengkonfirmasi lima orang anak balita  di Kepri meninggal dunia akibat gagal ginjal akut misterius dan satu orang anak masih menjalani perawatan.

“Benar, laporan yang kita terima sudah lima anak yang meninggal dunia akibat gagal ginjal akut. Satu lainnya masih dalam perawatan di Batam. Total ada 6 anak yang usianya semua masih di bawah 5 tahun,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepri, Mohammad Bisri saat dikonfirmasi di Batam, Sabtu (22/10).

Kelima orang anak balita tersebut diketahui dua orang berasal dari Kabupaten Karimun, satu dari Kota Batam, satu orang dari Kota Tanjung Pinang dan satu lagi dari Kabupaten Bintan.

Baca Juga :  Ranperda Penyelenggaraan Kesehatan Atur Soal Isolasi dan Karantina

Bisri mengungkapkan, saat ini kasus tersebut masih menjadi pertanyaan dan pihaknya masih mendalami apa sebenarnya penyebab anak-anak tersebut bisa terkena gagal ginjal akut.

Karena dari data yang dia terima dari pihak rumah sakit, kasus pertama anak yang terkena gagal ginjal akut di Kepri dilaporkan pada awal Agustus lalu.

“Kasus pertama dilaporkan pada awal Agustus lalu, ini menjadi pertanyaan bagi saya, karena kalau memang karena obat sirup, harusnya sudah muncul dari dulu. Ketakutan kita adalah kasus ini akan semakin bertambah,” ungkapnya.

Namun meski demikian, Bisri terus mengimbau kepada orang tua yang memiliki anak kecil agar segera dibawa menuju Puskesmas atau Rumah Sakit saat diketahui mengalami gejala demam. Apalagi kalau anak sudah mengalami kesulitan buang air kecil, di saat anak masih mengkonsumsi obat berbentuk cair atau sirup.

Baca Juga :  Pengidap Kanker Payudara Usianya Kini Makin Muda, Ini Penyebabnya

“Kalau sudah tidak bisa buang air kecil itu sudah masuk stadium tiga. Biasanya ada orangtua yang hanya membeli obat demam sirup bagi anak, sebelum dibawa ke dokter. Dan lebihnya lagi, karena anak belum sembuh dosis obat ditambah, dari dua kali sehari jadi tiga kali sehari. Tindakan itu sangat berbahaya bagi anak,” ucap Bisri. (antara)

 


BATAM, BALI EXPRESS – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mengkonfirmasi lima orang anak balita  di Kepri meninggal dunia akibat gagal ginjal akut misterius dan satu orang anak masih menjalani perawatan.

“Benar, laporan yang kita terima sudah lima anak yang meninggal dunia akibat gagal ginjal akut. Satu lainnya masih dalam perawatan di Batam. Total ada 6 anak yang usianya semua masih di bawah 5 tahun,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepri, Mohammad Bisri saat dikonfirmasi di Batam, Sabtu (22/10).

Kelima orang anak balita tersebut diketahui dua orang berasal dari Kabupaten Karimun, satu dari Kota Batam, satu orang dari Kota Tanjung Pinang dan satu lagi dari Kabupaten Bintan.

Baca Juga :  Seorang Dokter Palsukan Tes PCR Demi Gaji Karyawan

Bisri mengungkapkan, saat ini kasus tersebut masih menjadi pertanyaan dan pihaknya masih mendalami apa sebenarnya penyebab anak-anak tersebut bisa terkena gagal ginjal akut.

Karena dari data yang dia terima dari pihak rumah sakit, kasus pertama anak yang terkena gagal ginjal akut di Kepri dilaporkan pada awal Agustus lalu.

“Kasus pertama dilaporkan pada awal Agustus lalu, ini menjadi pertanyaan bagi saya, karena kalau memang karena obat sirup, harusnya sudah muncul dari dulu. Ketakutan kita adalah kasus ini akan semakin bertambah,” ungkapnya.

Namun meski demikian, Bisri terus mengimbau kepada orang tua yang memiliki anak kecil agar segera dibawa menuju Puskesmas atau Rumah Sakit saat diketahui mengalami gejala demam. Apalagi kalau anak sudah mengalami kesulitan buang air kecil, di saat anak masih mengkonsumsi obat berbentuk cair atau sirup.

Baca Juga :  Ranperda Penyelenggaraan Kesehatan Atur Soal Isolasi dan Karantina

“Kalau sudah tidak bisa buang air kecil itu sudah masuk stadium tiga. Biasanya ada orangtua yang hanya membeli obat demam sirup bagi anak, sebelum dibawa ke dokter. Dan lebihnya lagi, karena anak belum sembuh dosis obat ditambah, dari dua kali sehari jadi tiga kali sehari. Tindakan itu sangat berbahaya bagi anak,” ucap Bisri. (antara)

 


Most Read

Artikel Terbaru