alexametrics
27.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Jika Terpilih, Dana-Dipa Prioritaskan Perlindungan Kawasan Besakih

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Karangasem nomor urut 1, Gede Dana dan Wayan Artha Dipa, menempatkan bidang adat, agama, tradisi, seni, budaya, serta kearifan lokal ke dalam program prioritas yang dijanjikan, kelak bila terpilih dalam ajang Pilkada Serentak 2020, Rabu (9/12).

Selain bidang-bidang itu melekat di tengah masyarakat Bali, posisi Karangasem juga menjadi pertimbangan utama pasangan yang diusung PDIP ini. Seperti dikatakan Gede Dana, Karangasem merupakan wilayah sakral. Sejumlah pura besar atau Kahyangan Jagat terdapat di kabupatennya tersebut. Seperti Pura Agung Besakih, Pura Pasar Agung Giri Tohlangkir, Pura Lempuyang, Pura Andakasa, dan Pura Silayukti.

Karena itu, selaku calon bupati, dia dan pasangannya Artha Dipa mendukung Perlindungan Kawasan Suci Besakih yang sedang direncanakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang anggarannya mencapai Rp 950 miliar. “Mulai dari 2020 sampai dengan selesai yang rencananya pada 2022 nanti,” ujar Gede Dana di Sekretariat Pemenangan Dana-Dipa, Rabu (2/12).

Bila terpilih nanti, sambung Gede Dana, bersama dengan calon wakil yang digandengnya, Artha Dipa, akan memfasilitasi program yang dirasa fundamental dan monumental itu. Dengan harapan, pelaksanaannya sampai dengan selesai berlangsung lancar dan sukses.

“Karena program ini akan memberi manfaat sangat besar bagi masyarakat Bali, khususnya Karangasem. Bahkan akan menjadi warisan bersejarah bagi generasi muda pada masa yang akan datang,” imbuhnya.

Selain itu, komitmen di bidang-bidang tersebut juga sebagai upaya merealisasikan visi yang dia bawa sebagai calon bupati, yakni Karangasem Era Baru. Dengan acuan utamanya di tingkat Provinsi Bali yakni visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana.

“Karangasem memiliki kekayaan dan banyak keunikan adat, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal. Ini merupakan warisan sejak berabad-abad yang masih hidup di tengah masyarakat,” imbuh mantan Ketua DPRD Karangasem ini seraya menyebutkan beberapa tradisi seperti Gebug Ende Seraya, Geret Pandan, Genjek, dan Magibung.

Bukan itu saja, sambungnya, di bidang tekstil, Karangasem memiliki warisan tradisional yang khas dan masih terjaga oleh para pelakunya, seperti Tenun Geringsing di Desa Tenganan, Tenun Endek dan Songket di Desa Sidemen, dan Tenun Endek Pewarna Alam di Desa Seraya.

“Di bidang sastra, Karangasem memiliki tradisi bersastra yang unik seperti penulisan lontar prasi yang bergambar serta sastra yantra yang bersifat kerohanian,” sebut Gede Dana seraya mempertegas komitmennya menempatkan upaya penguatan dan pemajuan adat, agama, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal ke dalam program prioritasnya sebagai calon bupati.

“Termasuk meliputi unsur kelembagaan, sumber daya manusia, sarana, prasarana, dan pranata budayanya,” sambungnya seraya menyebutkan sejumlah peraturan daerah atau perda di tingkat provinsi mengamanatkan upaya-upaya yang menjadi program prioritasnya itu.


KARANGASEM, BALI EXPRESS – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Karangasem nomor urut 1, Gede Dana dan Wayan Artha Dipa, menempatkan bidang adat, agama, tradisi, seni, budaya, serta kearifan lokal ke dalam program prioritas yang dijanjikan, kelak bila terpilih dalam ajang Pilkada Serentak 2020, Rabu (9/12).

Selain bidang-bidang itu melekat di tengah masyarakat Bali, posisi Karangasem juga menjadi pertimbangan utama pasangan yang diusung PDIP ini. Seperti dikatakan Gede Dana, Karangasem merupakan wilayah sakral. Sejumlah pura besar atau Kahyangan Jagat terdapat di kabupatennya tersebut. Seperti Pura Agung Besakih, Pura Pasar Agung Giri Tohlangkir, Pura Lempuyang, Pura Andakasa, dan Pura Silayukti.

Karena itu, selaku calon bupati, dia dan pasangannya Artha Dipa mendukung Perlindungan Kawasan Suci Besakih yang sedang direncanakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang anggarannya mencapai Rp 950 miliar. “Mulai dari 2020 sampai dengan selesai yang rencananya pada 2022 nanti,” ujar Gede Dana di Sekretariat Pemenangan Dana-Dipa, Rabu (2/12).

Bila terpilih nanti, sambung Gede Dana, bersama dengan calon wakil yang digandengnya, Artha Dipa, akan memfasilitasi program yang dirasa fundamental dan monumental itu. Dengan harapan, pelaksanaannya sampai dengan selesai berlangsung lancar dan sukses.

“Karena program ini akan memberi manfaat sangat besar bagi masyarakat Bali, khususnya Karangasem. Bahkan akan menjadi warisan bersejarah bagi generasi muda pada masa yang akan datang,” imbuhnya.

Selain itu, komitmen di bidang-bidang tersebut juga sebagai upaya merealisasikan visi yang dia bawa sebagai calon bupati, yakni Karangasem Era Baru. Dengan acuan utamanya di tingkat Provinsi Bali yakni visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana.

“Karangasem memiliki kekayaan dan banyak keunikan adat, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal. Ini merupakan warisan sejak berabad-abad yang masih hidup di tengah masyarakat,” imbuh mantan Ketua DPRD Karangasem ini seraya menyebutkan beberapa tradisi seperti Gebug Ende Seraya, Geret Pandan, Genjek, dan Magibung.

Bukan itu saja, sambungnya, di bidang tekstil, Karangasem memiliki warisan tradisional yang khas dan masih terjaga oleh para pelakunya, seperti Tenun Geringsing di Desa Tenganan, Tenun Endek dan Songket di Desa Sidemen, dan Tenun Endek Pewarna Alam di Desa Seraya.

“Di bidang sastra, Karangasem memiliki tradisi bersastra yang unik seperti penulisan lontar prasi yang bergambar serta sastra yantra yang bersifat kerohanian,” sebut Gede Dana seraya mempertegas komitmennya menempatkan upaya penguatan dan pemajuan adat, agama, tradisi, seni, budaya, dan kearifan lokal ke dalam program prioritasnya sebagai calon bupati.

“Termasuk meliputi unsur kelembagaan, sumber daya manusia, sarana, prasarana, dan pranata budayanya,” sambungnya seraya menyebutkan sejumlah peraturan daerah atau perda di tingkat provinsi mengamanatkan upaya-upaya yang menjadi program prioritasnya itu.


Most Read

Artikel Terbaru

/