alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, July 3, 2022

Soal Fraksi, PSI Cari yang Sevisi

BALI EXPRESS, DENPASAR – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tampil cukup mengejutkan dalam pelaksanaan Pemilu 2019 di Bali. Sebagai pendatang baru, partai ini berhasil menempatkan tiga kadernya di legislatif. Dua orang di DPRD Denpasar dan satu orang di DPRD Provinsi Bali.

Kepastian jatah kursi bagi PSI itu bahkan sudah ditetapkan dalam rapat pleno penghitungan suara Pemilu 2019 secara nasional pada Jumat (10/5) di Jakarta.

Memang, jumlah raihan PSI dalam pemilihan beberapa waktu lalu tidak sesignifikan partai lainnya. Namun, dengan statusnya sebagai partai baru, PSI menggeser peluang beberapa partai lainnya yang lolos pada Pemilu 2014 lalu. Meskipun untuk perebutan kursi di DPRD Denpasar, PSI gagal mencapai target membentuk satu fraksi.

“Di Kota Denpasar meraih dua kursi, sedangkan provinsi hanya satu kursi,” jelas Ketua DPW PSI Bali, Nengah Yasa Adi Susanto, Senin  (13/5).

Dengan perolehan kursi sebanyak itu, Nengah Adi mengakui, target partainya belum tercapai di DPRD Denpasar, sehingga opsi untuk bergabung dengan partai lain dalam pembentukan fraksi, mau tidak mau, harus ditempuh.

Soal fraksi, Nengah Adi menegaskan bahwa induk partainya di pusat sudah menggariskan agar bergabung dengan partai yang satu platform.

“DPP sudah berikan arahan. Intinya, kalau mau gabung dengan partai lain, harus yang sevisi. Sama-sama nasionalis. Sama-sama sevisi dalam menjalankan tugas legislatif,” kata Nengah Adi.

Sejauh ini, sambungnya, partainya baru membangun komunikasi politik dengan Nasdem, khususnya untuk koalisi di DPRD Kota Denpasar. “Untuk provinsi belum, karena pleno provinsi baru selesai juga,” sebutnya.

Menurutnya, bisa saja komposisi yang sama akan diterapkan di DPRD Bali. Terlebih Nasdem kebagian dua kursi di DPRD Bali. Begitu juga dengan Hanura yang kebagian satu kursi.

“Gambarannya tidak jauh beda dengan koalisi di tingkat nasional,” ujar Nengah Adi saat ditegaskan kemungkinan mengadopsi format koalisi di tingkat nasional.

Meski begitu, Nengah Adi menegaskan, partainya tidak begitu saja akan bergabung dengan partai dalam membentuk fraksi. Ada hitung-hitungan juga yang diajukan partainya. “Ada syarat-syarat yang juga kami ajukan. Itu tadi, sevisi dalam menjalankan tugas di lembaga legislatif,” pungkasnya.


BALI EXPRESS, DENPASAR – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tampil cukup mengejutkan dalam pelaksanaan Pemilu 2019 di Bali. Sebagai pendatang baru, partai ini berhasil menempatkan tiga kadernya di legislatif. Dua orang di DPRD Denpasar dan satu orang di DPRD Provinsi Bali.

Kepastian jatah kursi bagi PSI itu bahkan sudah ditetapkan dalam rapat pleno penghitungan suara Pemilu 2019 secara nasional pada Jumat (10/5) di Jakarta.

Memang, jumlah raihan PSI dalam pemilihan beberapa waktu lalu tidak sesignifikan partai lainnya. Namun, dengan statusnya sebagai partai baru, PSI menggeser peluang beberapa partai lainnya yang lolos pada Pemilu 2014 lalu. Meskipun untuk perebutan kursi di DPRD Denpasar, PSI gagal mencapai target membentuk satu fraksi.

“Di Kota Denpasar meraih dua kursi, sedangkan provinsi hanya satu kursi,” jelas Ketua DPW PSI Bali, Nengah Yasa Adi Susanto, Senin  (13/5).

Dengan perolehan kursi sebanyak itu, Nengah Adi mengakui, target partainya belum tercapai di DPRD Denpasar, sehingga opsi untuk bergabung dengan partai lain dalam pembentukan fraksi, mau tidak mau, harus ditempuh.

Soal fraksi, Nengah Adi menegaskan bahwa induk partainya di pusat sudah menggariskan agar bergabung dengan partai yang satu platform.

“DPP sudah berikan arahan. Intinya, kalau mau gabung dengan partai lain, harus yang sevisi. Sama-sama nasionalis. Sama-sama sevisi dalam menjalankan tugas legislatif,” kata Nengah Adi.

Sejauh ini, sambungnya, partainya baru membangun komunikasi politik dengan Nasdem, khususnya untuk koalisi di DPRD Kota Denpasar. “Untuk provinsi belum, karena pleno provinsi baru selesai juga,” sebutnya.

Menurutnya, bisa saja komposisi yang sama akan diterapkan di DPRD Bali. Terlebih Nasdem kebagian dua kursi di DPRD Bali. Begitu juga dengan Hanura yang kebagian satu kursi.

“Gambarannya tidak jauh beda dengan koalisi di tingkat nasional,” ujar Nengah Adi saat ditegaskan kemungkinan mengadopsi format koalisi di tingkat nasional.

Meski begitu, Nengah Adi menegaskan, partainya tidak begitu saja akan bergabung dengan partai dalam membentuk fraksi. Ada hitung-hitungan juga yang diajukan partainya. “Ada syarat-syarat yang juga kami ajukan. Itu tadi, sevisi dalam menjalankan tugas di lembaga legislatif,” pungkasnya.


Most Read

Artikel Terbaru

/