alexametrics
27.8 C
Denpasar
Wednesday, June 29, 2022

Lagi, Densus 88 Sadarkan 48 Anggota NII Bali untuk Setia NKRI

BADUNG, BALI EXPRESS –  Upaya deradikalisasi terus digencarkan Densus 88 Anti Teror (AT) Polri Satgaswil Bali. Bahkan, mereka kembali berhasil menyadarkan 48 anggota jaringan Negara Islam Indonesia (NII) Bali untuk ikrar setia kepada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagaimana diketahui, upaya yang sama oleh Densus 88 sebelumnya sudah berhasil menyadarkan sebanyak 25 anggota NII, hingga kembali ke pelukan NKRI pada akhir April 2022. Adapun sumpah dan ikrar setia terbaru ini juga ditandai dengan pencabutan bai’at (perjanjian) para anggota kelompok radikal tersebut yang dilaksanakan di Mapolres Badung, pada Sabtu (28/5).

Hal itu disaksikan langsung Kasatgaswil Bali Densus 88 Polri, Kombespol I Ketut Widhiarto bersama Kapolres Badung AKBP Leo Dedy Defretes dan Pamen Senior dari Badan Intelijen Kepolisian Mabes Polri. Dalam kesempatan itu, Widhiarto menyampaikan pihaknya mengedepankan pendekatan persuasif untuk menanggulangi ancaman potensi terorisme.

“48 anggota yang mengikuti pencabutan bai’at dan ikrar setia pada NKRI terdiri dari 40 laki-laki dan 8 perempuan,” tuturnya. Keberhasilan ini adalah momentum yang sangat baik menjelang peringatan Hari Lahirnya Pancasila pada 1 Juni mendatang. Pendekatan persuasif terhadap anggota organisasi radikal seperti NII disebut sangat sesuai dilakukan di wilayah Bali.

Mengingat Pulau Dewata menjadi pusat destinasi wisata domestik dan internasional. Apalagi, kedepannya Bali merupakan tempat digelarnya berbagai event Internasional seperti Presidensi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G20). Jadi jangan sampai memicu keresahan masyarakat dan kondusifitas bisa terus terjaga. Karena berpengaruh pada pandangan masyarakat luar atau citra daerah.

“Maka dari itu, perlu dikedepankan pendekatan tanpa kekerasan dalam stratregi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan atau upaya kontraterorisme,” tandas Perwira Melati Tiga di pundak itu. Diberitakan sebelumnya, Densus 88 Anti Teror Satgaswil Bali melaksanakan pembatalan bai’at (perjanjian) dan ikrar sumpah setia kepada Pancasila serta NKRI di Polresta Denpasar pada Sabtu (23/4) yang dihadiri Kombespol Widhiarto.

Pihaknya lebih dahulu menangkap lima anggota NII. Baru kemudian dilakukan pendekatan persuasif melalui keluarga orang yang diamankan. Beruntung respon yang diberikan sangat baik. Keluarga dari anggota NII tersebut diberikan pembinaan hingga pendekatan ekonomi seperti bantuan sembako secara rutin tiap bulan mengingat suami atau anggota keluarga mereka dipenjara.

Setelah tahap itu, pihaknya coba mengarahkan agara keluarga ini mau menjembatani atau perpanjangan tangan ke anggota-anggota yang lainnya, sampai akhirnya 25 anggota tersebut bersedia keluar. Seperti yang diserukan Nur Harianto, warga kelahiran Banyuwangi, 24 November 1983 yang selama di Bali tinggal di Denpasar Selatan. “Demi Allah saya bersumpah, satu, untuk melapas diri dari bai’at kepada pimpinan Negara Islam Indonesia dan organisasi Negara Islam Indonesia,” kata pria yang sah menjadi mantan anggota NII itu.

“Kedua, menolak dan menjauhi segala bentuk faham dan kelompok yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” lanjutnya. Selanjutnya, dia juga menyatakan setia dan mengakui Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar hukum negara. Kemudian, dia juga menyatakan setia dan menjaga kedaluatan NKRI. Juga berjanji akan mengikuti segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di NKRI.






Reporter: I Gede Paramasutha

BADUNG, BALI EXPRESS –  Upaya deradikalisasi terus digencarkan Densus 88 Anti Teror (AT) Polri Satgaswil Bali. Bahkan, mereka kembali berhasil menyadarkan 48 anggota jaringan Negara Islam Indonesia (NII) Bali untuk ikrar setia kepada Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagaimana diketahui, upaya yang sama oleh Densus 88 sebelumnya sudah berhasil menyadarkan sebanyak 25 anggota NII, hingga kembali ke pelukan NKRI pada akhir April 2022. Adapun sumpah dan ikrar setia terbaru ini juga ditandai dengan pencabutan bai’at (perjanjian) para anggota kelompok radikal tersebut yang dilaksanakan di Mapolres Badung, pada Sabtu (28/5).

Hal itu disaksikan langsung Kasatgaswil Bali Densus 88 Polri, Kombespol I Ketut Widhiarto bersama Kapolres Badung AKBP Leo Dedy Defretes dan Pamen Senior dari Badan Intelijen Kepolisian Mabes Polri. Dalam kesempatan itu, Widhiarto menyampaikan pihaknya mengedepankan pendekatan persuasif untuk menanggulangi ancaman potensi terorisme.

“48 anggota yang mengikuti pencabutan bai’at dan ikrar setia pada NKRI terdiri dari 40 laki-laki dan 8 perempuan,” tuturnya. Keberhasilan ini adalah momentum yang sangat baik menjelang peringatan Hari Lahirnya Pancasila pada 1 Juni mendatang. Pendekatan persuasif terhadap anggota organisasi radikal seperti NII disebut sangat sesuai dilakukan di wilayah Bali.

Mengingat Pulau Dewata menjadi pusat destinasi wisata domestik dan internasional. Apalagi, kedepannya Bali merupakan tempat digelarnya berbagai event Internasional seperti Presidensi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G20). Jadi jangan sampai memicu keresahan masyarakat dan kondusifitas bisa terus terjaga. Karena berpengaruh pada pandangan masyarakat luar atau citra daerah.

“Maka dari itu, perlu dikedepankan pendekatan tanpa kekerasan dalam stratregi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan atau upaya kontraterorisme,” tandas Perwira Melati Tiga di pundak itu. Diberitakan sebelumnya, Densus 88 Anti Teror Satgaswil Bali melaksanakan pembatalan bai’at (perjanjian) dan ikrar sumpah setia kepada Pancasila serta NKRI di Polresta Denpasar pada Sabtu (23/4) yang dihadiri Kombespol Widhiarto.

Pihaknya lebih dahulu menangkap lima anggota NII. Baru kemudian dilakukan pendekatan persuasif melalui keluarga orang yang diamankan. Beruntung respon yang diberikan sangat baik. Keluarga dari anggota NII tersebut diberikan pembinaan hingga pendekatan ekonomi seperti bantuan sembako secara rutin tiap bulan mengingat suami atau anggota keluarga mereka dipenjara.

Setelah tahap itu, pihaknya coba mengarahkan agara keluarga ini mau menjembatani atau perpanjangan tangan ke anggota-anggota yang lainnya, sampai akhirnya 25 anggota tersebut bersedia keluar. Seperti yang diserukan Nur Harianto, warga kelahiran Banyuwangi, 24 November 1983 yang selama di Bali tinggal di Denpasar Selatan. “Demi Allah saya bersumpah, satu, untuk melapas diri dari bai’at kepada pimpinan Negara Islam Indonesia dan organisasi Negara Islam Indonesia,” kata pria yang sah menjadi mantan anggota NII itu.

“Kedua, menolak dan menjauhi segala bentuk faham dan kelompok yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” lanjutnya. Selanjutnya, dia juga menyatakan setia dan mengakui Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar hukum negara. Kemudian, dia juga menyatakan setia dan menjaga kedaluatan NKRI. Juga berjanji akan mengikuti segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di NKRI.






Reporter: I Gede Paramasutha

Most Read

Artikel Terbaru

/