Selasa, 07 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Tradisi Bali

Mengungkap Misteri Suara dan Jenis Kulkul di Bali

12 Juli 2017, 19: 21: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

NEPAK KULKUL : Seseorang yang akan nepak kukul mesti memohon izin dahulu kepada dewan kulkul , yakni Sanghyang Iswara dalam parbawa sebagai Sang Kala Genter dan Sang Kala Gentar.

NEPAK KULKUL : Seseorang yang akan nepak kukul mesti memohon izin dahulu kepada dewan kulkul , yakni Sanghyang Iswara dalam parbawa sebagai Sang Kala Genter dan Sang Kala Gentar. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kulkul, salah satu alat kumunikasi tradisional yang hingga kini digunakan di Bali. Lantaran itu pula, Kulkul atau  kentongan memiliki makna khusus yang menandakan sesuatu yang spesifik pula. 

Kulkul di Bali adalah benda yang sakral, sehingga dibuatkan sebuah tempat khusus yang menjulang tinggi, agar suaranya dapat menggema ke seluruh penjuru mata angin. Demikian juga dengan keberadaannya yang tinggi, maka kesakralannya dan kesuciannya terjaga. "Kulkul berfungsi sebagai tanda, sebagai pemberi pesan, sebagai pemanggil, yang tentunya sesuai dengan kesepakatan dari masyarakat yang menggunakan kulkul tersebut," ujar Budayawan Kota Denpasar, Gede Anom Ranuara kepada Bali Express (Jawa Pos Group) , Senin (10/7) kemarin. 
Lebih lanjut dikatakan Anom, jenis Kulkul di Bali ada beberapa macam , yakni kulkul pura, kulkul bale banjar, kulkul puri. Kemudian ada kulkul sekaa, seperti seka subak, sekaa teruna, sekaa tuak, dan lainnya.  Kulkul pura adalah kulkul yang ada di pura serta digunakan dan dibuyikan ketika ada kegiatan upacara di pura. Kulkul puri adalah kukul yang ada di puri (istana), difungsikan lebih pada kegiatan bersifat kemasyarakatan di puri, upacara adat puri atau odalan di merajan puri. Bahkan dahulu, kukul di puri digunakan  sebagai sirine raja untuk memberitahukan sesuatu kepada rakyatnya, seperti ada kejadian adanya serangan musuh, atau ketika mau berangkat perang. Atau ketika ada penobatan seorang raja. 
Kulkul bale banjar sifatnya lebih umum dan lebih serba guna, karena menyangkut dalam berbagai kehidupan sosial kemasyarakatan baik adat maupun agama. Demikian juga untuk memberitahukan kepada semua warga banjar, ketika terjadi panca baya seperti kebakaran, banjir, orang mengamuk, dan kasus lainnya. Kulkul sekaa lebih bersifat khusus dalam penggunaannya, seperti kulkul subak untuk memberitahukan kepada para petani untuk rapat, berkumpul atau hal lainnya. Demikian juga dengan kulkul sekaa yang lain, seperti sekaa teruna  yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan dari sekaa teruna.
Mengenai bentuk kulkul ada bermacam-macam, namun yang jelas kulkul yang dibutuhkan adalah bunyinya, bukan bentuknya. Kalau bentuknya memang ada yang bebentuk manusia, ada yang berbentuk rangda, selain bentuk yang umum bulat panjang biasa. Kulkul dilihat dari jenisnya ada dua, yakni kukul lanang wadon atau laki perempuan. Karena konsep di Bali adalah konsep ardanareswari, konsep kiwa tengen serta konsep rwabineda, yakni dua hal yang sejatinya tunggal, tak dapat dipisahkan dalam keseimbangan dunia. Sehingga, dengan demikian dikenal dengan kulkul lanang dan kulkul wadon. Kukul lanang biasanya lebih besar dan lebih gemuk, sedangkan kulkul wadon lebih ramping dan lebih pendek. Dari ukuran ini kemudian memunculkan bunyi yang juga bebeda, yakni yang lanang suaranya lebih besar dan menggema dibandingkan dengan yang wadon bunyinya lebih kecil, nadanya lebih tinggi. "Seperti halnya suara manusia laki dan perempuan," terangnya. 
Anom mengatakan, sebagai sebuah benda sakral dalam filosofi Hindu Bali, maka kulkul memiliki dewa pangayom  atau dikenal dengan dewan kulkul, yakni Sang Hyang Iswara, sebagai Dewa Suara atau bunyi. Beliau dipuja sebagai pemberi kekuatan pada kulkul dalam prabawa sebagai Sang Kala Genter untuk kukul lanang dan Sang Kala Gentar untuk kukul wadon. Dengan demikian, kukul adalah benda sakral tenget dan suci, sehingga penggunaannya tak sembarangan. Di mana sebelum kulkul dibuat, didahului dengan mencari dewasa ayu (hari baik) untuk membuat kulkul, lalu ketika sudah jadi, maka dilakukan upacara penyucian dengan pemlaspas, serta dimohonkan kekuatan gaib dengan upcara pasupati. Sehingga dengan demikian, kulkul menjadi suatu benda yang sakral serta memiliki kekuatan gaib. "Oleh karena itu, tak jarang kukul menunjukkan kejadian-kejadian aneh di luar nalar manusia alias tenget," imbuhnya. 
Mengenai bahan kulkul ada beracam-macam. Pada umumnya dibuat dari kayu ketewel atau nangka, dan ada pula terbuat dari kayu intaran. Mana yang lebih bagus? Ini tergantung selera masyarakat pemakainya. Kalau kayu ketewel sifatnya lebih mudah mendapatkan bahannya, sedangkan suaranya mungkin terdengar lebih enek atau kurang bagus dan memerlukan waktu beberapa tahun untuk mendapatkan suara yang sesuai dengan keinginan. Sedangkan kayu intaran lebih sulit didapat, namun suaranya lebih nyaring dan suaranya lebih stabil tak berubah-ubah.
Seni kulkul terletak pada bentuk kulkul, terletak pada tinggi dan kemegahan dari bale kulkul, bunyi kulkul, serta tata membunyikan kulkul. Mengenai tata cara membunyikan kulkul atau dalam bahasa Balinya nepak kulkul, mesti dilakukan dengan ketentuan tertentu. "Seseorang yang akan nepak kukul mesti memohon izin dahulu kepada dewan kulkul , yakni Sanghyang Iswara dalam parbawa sebagai Sang Kala Genter dan Sang Kala Gentar," tegasnya. 
Terkait dengan tata cara membunyikan kulkul, Anom menambahkan bahwa  membunyikan kukul harus sesuai dengan tujuan, yakni untuk tujuan yang biasa , seperti untuk acara rapat atau gotong royong, dan lainnya. Maka, bunyi kulkul adalah sebagai berikut: Tung….tung, tung.. - tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung,,, tung - tung,tung… tung. Suara tung yang bergaris bawah di awal dan di akhir artinya mengawali pemberitahuan dan mengakhiri pemberitahuan. Suara tung yang dicetak miring tebal maksudnya adalah sebagai kata pengaksama awal dan suksma sebagai penutup. Tung yang sebanyak sembilan di tengah adalah permakluman kepada seluruh krama yang berlokasi di sembilan penjuru mata angin, agar mendengar pemberitahuan ini. Boleh juga tung yang di kawasan tengah bisa dipersingkat menjadi empat kali yang maknanya adalah pemberitahuan kepada semua warga yang ada di empat penjuru mata angin , yakni Timur, Selatan, Barat , dan Utara, agar mendengar pemberitahuan ini.
Dari tujuan ini, apabila kemudian  yang diharapkan dipanggil adalah krama lanang, maka kulkul yang dibunyikan adalah kukul lanang. Apabila yang diharapkan adalah krama perempuan, maka yang dibunyikan adalah kukul wadon. Apabila yang diinginkan untuk dipanggil adalah krama laki dan perempuan, maka kulkul yang dibuyikan adalah keduanya secara bergantian dari yang lanang dahulu baru kemudian yang wadon dengan model pukulan yang sama. Dengan demikian, dari jenis suara kukul serta model bunyi kulkul bisa diketahui kepada siapa suara kulkul itu ditujukan.
Apabila ada kejadian khusus seperti pancabaya, seperti kebakaran , maka suara kulkul bulus ngempang, yakni suara kulkul dalam tempo yang cepat, lama, dan tak putus putus. Sebagai berikut: Tung, tung, tung, tung, tung, tung, tung,…….. dalam waktu tertentu sampai masyarakat semua keluar rumah ikut membantu. Hal yang sama juga untuk bencana alam lainnya, seperti gempa, gunung meletus, banjir, dan tradisi nepak kukul saat bulan kepangan atau gerhana bulan / matahari, dengan keyakinan agar sang Kalarahu cepat melepas bulan atau matahari sehingga dunia tidak kegelapan.
Apabila ada orang mengamuk atau ada serangan musuh, maka suara kulkul bulus  nerugtug kerungah rungah. Panik, tergesa-gesa dan terengah engah. Sebagai berikut: Tung, tung, tung, tung, tung,……    tung, tung, tung, tung, tung,……    tung, tung, tung, tung, tung, ….   Dengan tempo cepat, menirukan kondisi pikiran dari orang yang nepak kulkul, yakni dalam keadaan panik, ketakutan, tergesa-gesa, dan terengah-engah.
Apabila ada acara kematian, maka bunyi kulkul hanya tiga kali, yakni tung….. tung …… tung….
Suara kulkul untuk ngerupuk adalah kulkul mecandetan, saling bersahutan dilakukan oleh banyak orang dengan irama tertentu, sesuai dengan semangat dan seni masing-masing. "Artinya, tak ada pakem yang baku, yang penting ramai dan gaduh sesuai dengan tujuan pangrupukan untuk mengusir bhuta kala," papar pria yang juga seoarang dalang ini. 
Anom menambahkan, apabila suara kulkul pura bersuara banban , yakni pelan dan temponya teratur, berarti ada odalan di pura atau Ida Betara sedang dihaturkan pujawali, Ida Betara Mamargi, atau Ida Betara nyejer.  Demikian juga dengan kukul puri bersuara banban menandakan ada suatu kegiatan adat dan agama di puri. "Sedangkan bunyi kulkul sekaa subak, sekaa turna, dan sekaa lainnya ,tak ada aturan yang baku, namun lebih pada kesepakatan di antara sekaa pengguna kulkul tersebut sebagai alat pemanggil," pungkasnya. 

(bx/gus /rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news