Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Makna Pasupati

Pasupati, Memohon Kekuatan Siwa Berstana

16 Juli 2017, 12: 09: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

RITUAL: Pasupati palawatan seperti Barong dan benda sakral lainnya, harus melewati ritual khusus, dan biasanya diuji lewat pementasan.

RITUAL: Pasupati palawatan seperti Barong dan benda sakral lainnya, harus melewati ritual khusus, dan biasanya diuji lewat pementasan. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pasupati diyakini sebagai salah satu cara membuat suatu benda memiliki nilai sakral dan magis. Tak hanya benda yang disucikan seperti pretima, pusaka, bahkan dupa pun kini ada yang dipasupati. Mengapa Pasupati ini menjadi begitu penting?

Menurut pinisepuh Siwa Murthi Bali, Jro Mangku Subagia, Pasupati memang menjadi sebuah tren belakangan ini. Namun, ia menekankan perlu dipahami maknanya. Menurutnya, Pasupati merupakan proses permohonan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa sehingga kekuatan tersebut melekat pada suatu benda. Sebagai pemuja Tuhan dalam manifestasi Dewa Siwa, Jro Mangku Subagia mengatakan, yang dimohonkan adalah kekuatan Siwa Pasupati.

“Pasupati itu singkatnya negul (mengikat) kekuatan Bhatara Siwa pada suatu benda melalui sebuah prosesi,” ujarnya, akhir pekan kemarin di Denpasar.

Adapun tujuan Pasupati tersebut tentunya beraneka ragam. Namun, Doktor Ilmu Agama tersebut mengatakan bahwa yang jelas  Pasupati bertujuan agar si pemilik, panyungsung, atau pemakai benda yang dipasupati mendapatkan manfaat, baik berupa perlindungan, kekuatan, dan sebagainya. “Tergantung tujuan masing-masing individu atau masyarakat,” jelasnya.

Jro Mangku Subagia menegaskan,  setiap benda bisa saja di pasupati, namun tentunya kembali ke tujuan Pasupati tersebut. Jangan sampai Pasupati tersebut hanya untuk iseng-isengan belaka yang tentunya bisa mendatangkan malapetaka. Di samping itu, karena Pasupati merupakan proses sakralisasi, tentunya ada nilai etika yang terselip di sana, yakni perlakuan terhadap benda tersebut.

Oleh karena itu, lanjut pemilik Ngurah Medical Centre tersebut, pasupati ditujukan bagi benda-benda yang memiliki fungsi spiritual, seperti palawatan, yakni sejenis topeng sakral. Bisa pula benda pusaka seperti bendera, cincin, keris, tombak, lontar, dan sebagainya. “Intinya benda-benda yang dihormati dan disucikan,” jelasnya.

Agar lebih mudah memahami, Jro Mangku Subagia memberikan contoh prosesi Pasupati palawatan rangda atau barong. Pertama yang harus dicari menurutnya adalah orang yang sudah biasa melakukan proses tersebut. “Tentunya harus orang yang berkompeten dalam bidang ini,” ujarnya. Orang tersebut akan memberikan petunjuk berupa hari yang baik atau dewasa prosesi pembuatan palawatan. Selain itu, akan diberitahukan pula mengenai sarana ritualnya, karena semua prosesi tersebut tidak bisa dilepaskan dari ritual. Secara umum, sarana ritual menurutnya berupa banten prayascita, biakaon, dan pangulap atau durmanggala.

Setelah itu, dilanjutkan dengan pencarian dan pemilihan bahan palawatan yang biasanya menggunakan pohon-pohon yang sakral. Menurut Jro Mangku Subagia, kayu-kayu yang hendak dipilih bisa dilihat di Lontar Taru Premana. Selain itu, dari awal diperlukan kesucian pelaku, alat, dan bahan palawatan. “Sebelum penyucian bahan, tentunya yang disucikan dahulu adalah orangnya. Bagaimana membuat benda yang disucikan kalau pembuatnya tidak suci,” ujarnya. Setelah orang-orang yang terlibat di dalam prosesi tersebut, khususnya sangging (tukang ukir), barulah berlanjut ke panyucian alat dan bahan melalui ritual pamrayascittaan dan pamlaspasan.

Bahan tersebut kemudian diolah oleh sangging sehingga menjadi palawatan yang sesuai. Dilanjutkan dengan ritual pangatepan (penyatuan). Setelah jadi, palawatan tersebut memasuki prosesi inti pasupati, yakni ritual memohon kekuatan Tuhan agar bersedia berstana di palawatan tersebut. “Ibaratnya kita menyiapkan kursi untuk Beliau. Apabila kualitasnya bagus dan prosesnya benar, maka tentunya Beliau bersedia malinggih dalam benda tersebut,” jelasnya.

Proses ini oleh Jro Mangku dikatakan ada dua tahap, yakni awalnya dilaksanakan di pura oleh sulinggih dan didilanjutkan di tempat angker, khususnya kuburan. “Di pura mohon kekuatan Siwa dan di pamuhunan (tempat pembakaran jenazah) mohon kekuatan Durga Bhairawi sebagai shakti Beliau,” jelasnya. Saat mohon kekuatan Durga ini biasa disebut dengan “ngarehang”. Konon prosesi ini rawan kegagalan, jika orang yang dipilih menjadi pengguna palawatan tidak siap secara jasmani dan rohani karena banyak ujian secara gaib.

Apabila berhasil, konon ada bola api yang masuk ke palawatan tersebut. Setelah itu, lidah dari palawatan rangda yang semula menggulung ke atas akan menjuntai ke bawah dan menghisap darah babi jantan yang telah disediakan di depannya. Hal tersebut kemudian disusul dengan karauhan (trance) orang yang akan menggunakan palawatan tersebut. Saat karauhan inilah palawatan tersebut akan secara otomatis digunakan. Apabila proses tersebut berlangsung dengan lancar, maka proses Pasupati telah dianggap berhasil.

Setelah prosesi Pasupati  berhasil, maka tentunya sebagai benda yang sudah dianggap memiliki jiwa, harus dilakukan perawatan. Menurut Jro Mangku Subagia, setiap hari kekuatan dalam benda tersebut harus diberikan persembahan seperti canang dan segehan. Terlebih ketika rahinan tertentu, seperti kajeng kliwon, purnama, tilem, atau tumpek landep. “Tiap hari dan pada hari tertentu disucikan dengan upakara,” terangnya.

Dikatakannya, tentunya umat tidak menyembah benda-benda tersebut, namun segala bentuk ritual tersebut ditujukan kepada kekuatan Tuhan yang telah bersemayam di dalamnya. “Setelah diberikan upakara setiap hari, terlebih pada rahinan tertentu, barulah ada connecting dengan div atau sinar Tuhan dalam benda tersebut,” terangnya.

Jika kekuatan Tuhan tersebut telah terhubung dengan pemilik atau panyungsung, maka dikatakan barulah manfaat dari pasupati tersebut bisa dirasakan. Sebaliknya, jika suatu benda diperlakukan sembarang atau justru tidak diperhatikan setelah di Pasupati , maka dipercaya bisa mendatangkan gangguan atau yang biasa disebut ngrabeda. Jika gangguan tersebut tidak diindahkan, maka dipercaya pula bisa mendatangkan petaka. “Oleh karena itu, perlu perawatan secara fisik dan spiritual,” tegasnya.

Dalam keadaan tidak mampu merawat benda yang telah dipasupati, Jro Mangku Subagia mengatakan tidak menutup kemungkinan benda tersebut bisa dihilangkan kekuatannya melalui proses yang biasa disebut “ngamantukang” (memulangkan) atau “pamralinaan” (peleburan). “Tuhan tidak pernah memarahi umatnya. Jika memang merasa tidak sanggup untuk menjaga dan merawat benda tersebut, bisa di-pralina,” ujarnya. “Ini kan sebuah siklus. Ada utpatti (penciptaan), sthiti (pemeliharaan), dan pralina (pengembalian ke asal atau peleburan),” jelasnya.

Tentunya prosesi yang juga biasa disebut “ngaluhurang” itu tidak sembarangan. “Ada proses juga di sana yang intinya adalah nyomya (menetralkan),” ungkap Jro Mangku. Dalam hal ini, diperlukan sarana ritual seperti caru pancasanak dan panyambleh. Secara umum, demikianlah prosesi Pasupati. Mengenai Pasupati benda-benda lainnya, Jro Mangku mengatakan prosesinya hampir sama. Yang sangat penting menurutnya adalah keyakinan umat terhadap kemahakuasaan Tuhan. 

(bx/adi/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia