Selasa, 22 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Sejarah Pura

Pura Gede Pemayun Banyuning; Gong Bunyi Sendiri, Sinyal Bencana

26 Juli 2017, 15: 14: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

PELINGGIH DEWA BAGUS PANJI : Berada di areal Utama Mandala yang di dalamnya terdapat patung Dewa Siwa, serta memiliki Gong Keramat yang sewaktu-waktu bisa berbunyi sendiri sebagai sinyal bahaya.

PELINGGIH DEWA BAGUS PANJI : Berada di areal Utama Mandala yang di dalamnya terdapat patung Dewa Siwa, serta memiliki Gong Keramat yang sewaktu-waktu bisa berbunyi sendiri sebagai sinyal bahaya. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Keberadaan Pura Gede Pemayun, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng memang beda dari pura lainnya. Bagaimana tidak, jika pura pada umumnya selalu dilengkapi dengan pelinggih Surya atau Padmasana. Namun hal itu tak ditemukan di lingkungan pura tua ini.

Meski tak ada catatan sejarah secara pasti yang bisa dijadikan sebagai pedoman kapan pura ini berdiri. Namun Pura Gede Pemayun yang berarti pemahayu, atau penyegjeg jagat (menjaga keajegan, Red) Banyuning ini diyakini berumur ratusan tahun, dan menganut paham Siwa.

Kelian Adat Banyuning, Jro Ketut Setiawan, 57, mengatakan, berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari para pendahulunya, disebutkan Pura Gede Pemayun dibangun pada jaman sebelum masuknya Mpu Kuturan ke Bali.

“Itu ditandai dengan pemujaan terhadap Dewa Siwa di Pura Gede Pemayun. Di pura ini tidak ada pelinggih Surya atau Padmasana. Karena sudah ada sebelum masuknya Mpu Kuturan ke Bali,” jelasnya.

Selain tak adanya pelinggih Surya, pada saat pujawali yang jatuh pada Buda Kliwon Ugu pun tidak menggunakan pelinggih Sanggar Surya yang biasanya dibuat dari bambu. “Kami sudah menerima seperti itu dari dulu, tak ada pelinggih Surya. Begitu juga saat Pujawali, tidak ada pelinggih Surya yang biasanya terbuat dari bambu. Jadi kami tidak berani menambahkan pelinggih tersebut (Surya, Red). Konsep kami mari lestarikan apa yang sudah ada, kalau sampai menambah, takutnya akan menambah beban bagi kami,” ucapnya, saat ditemui di Pura Gede Pemayun, Selasa (25/7) kemarin.

Dilihat dari sisi palemahan (areal, Red), pura seluas 8 are yang disungsung sekitar 400 KK (kepala keluarga) warga Banyuning ini juga memiliki tiga areal, yakni Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala.

Menurut Jro Ketut Setiawan, jejeran pelinggih yang ada di Utama Mandala yakni pelinggih Dewa Ayu Tukang, Taksu Agung, Taksu Alit, pelinggih Ida Bagus Ngurah Semar, Betara Saking Dewa Gede Pengastulan, Dewa Bagus Manik Pulaki, Dewa Bagus Panji (pelinggih Dewa Siwa) dan Dewa Ayu Agung.

Sedangkan pada bagian Madya Mandala, terdapat pelinggih Dewa Bagus Jaksa dan Dewa Bagus Dukun. Kemudian pada bagian Nista Mandala terdapat dua buah pelinggih, yakni Dewa Bagus Mentang Yudha dan Dewa Bagus Penyarikan

Pria yang sudah 15 tahun ngayah menjadi Kelian Adat Banyuning juga menceritakan berbagai keunikan yang bisa ditemui di Pura Gede Pemayun. Seperti keberadaan Kulkul yang meparab (bernama, Red) Dewa Bagus Mentang Yudha. Kulkul tersebut berada di areal Nista Mandala dan diyakini sebagai penjaga.

“Kalau di pura lain, biasanya Kulkul jarang ada yang berisi nama. Tetapi di Pura Gede Pemayun ada namanya, yakni Dewa Bagus Mentang Yudha. Mentang itu berarti penghalang, artinya beliau sebagai penghilang segala rintangan. Makanya sebelum membunyikan Kulkul itu, harus disebut namanya dulu,” ceritanya.

Keunikan lain dapat ditemui pada areal Madya Mandala, tepatnya pada pelinggih Dewa Bagus Jaksa. Dari namanya saja sudah bisa dinilai, jika pelinggih tersebut terbilang unik. Benar saja, menurut penuturan Jro Ketut Setiawan, banyak warga dari Banyuning bila mengalami sakit yang berkepanjangan bisa nunas tirta di pelinggih ini. Tak hanya itu, bagi yang sedang dirundung permasalahan, mereka juga bisa memohon agar segera tuntas

“Kalau yang sakit mereka bisa nunas tirta di pelinggih Dewa Bagus Jaksa, tirtanya itu yang bertuah. Sudah banyak yang membuktikan. Juga kalau ada krama yang mengalami permasalahan, mereka bisa memohon di pelinggih Dewa Bagus Jaksa agar dimudahkan dalam penyelesaiannya. Dan banyak yang berhasil,” tuturnya.

Sedangkan patung Dewa Siwa yang menjadi Ista Dewata di Pura Gede Pemayun ini berada di areal Utama Mandala. Patung Siwa tersebut dikatakan memang sudah ada sebelum masuknya Mpu Kuturan ke Bali, yang membawa pengaruh terhadap pemujaan Tri Murti di Kahyangan Tiga pada setiap desa pakraman. Patung Dewa Siwa ini terbuat dari batu, yang disampingnya terdapat sebuah gong keramat, yang berbunyi dengan sendirinya sebagai pertanda bahaya. “Dewa Siwa inilah yang menjadi Ista Dewata di Pura Gede Pemayun. Kalau Gong di sebelah patung itu sangat dikeramatkan. Tidak sembarangan dikeluarkan. Gong ini bisa berbunyi sendiri sebagai sinyal ada sebuah bencana. Misalnya bencana gering agung (wabah penyakit, Red) atau bencana alam” paparnya.

Sehingga, sambung Jro Ketut Setiawan, bila saatnya pujawali, para pemedek begitu ramai nangkil ke Pura Gede Pemayun ini, baik yang warga Banyuning, maupun masyarakat Buleleng lainnya. Pujawalinya digelar selama lima hari, yang dimulai dari Buda (Rabu) Kliwon Ugu. “Kalau nyejernya selama lima hari terhitung sejak Buda Kliwon Ugu,” bebernya.

Bukan hanya kegiatan persembahyangan saja dilaksanakan di pura ini, melainkan juga berbagai atraksi seni budaya, baik bebondresan, tari-tarian, drama gong, hingga permainan mekering endut dan mekering mangsi. “Selama lima hari nyejer, banyak seniman ngayah di pura ini. Semua pertunjukan adalah rangkaian dari pujawali,” tandasnya.

Karena untuk permainan mekering endut yang diikuti ratusan pemuda-pemudi setempat, berupa permainan lumpur yang dilaksanakan di Jaba Pura Gede Pemayun untuk ngayah. Mereka rela berbasah-basahan sembari penuh lumpur, sebagai wujud bakti dan syukur atas dilancarkannya pujawali di Pura Gede Pemayun.

(bx/dik/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia