Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pernikahan dengan Upacara Agnihotra; Mengikat Janji di Depan Api Suci

27 Juli 2017, 16: 16: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

MENIKAH: Kedua mempelai mengelilingi kunda pada upacara pernikahan agnihotra.

MENIKAH: Kedua mempelai mengelilingi kunda pada upacara pernikahan agnihotra. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Di dalam Agama Hindu, prosesi perkawinan disebut dengan istilah Wiwaha Samskara yang popular disebut Nganten. Seiring kekinian, perkembangan Agama Hindu di Bali senantiasa menghadirkan hal yang unik. Salah satunya adalah Nganten melalui Upacara Homayajña atau Agnihotra.

Wiwaha Samskara dapat dilangsungkan dengan menghadirkan tiga saksi atau Tri Upasaksi, yakni Dewa Saksi (Tuhan), Manusa Saksi (Manusia), dan Bhuta Saksi (makhluk halus). Sederhananya, dari segi upakara biasanya kedua mempelai di Bali dianjurkan minimal natab banten Byakaon atau Byakala sehingga diperbolehkan hidup bersama sementara. Upacara yang lengkap selanjutnya bisa dilaksanakan, setelah menentukan hari baik, di samping dana yang dibutuhkan sudah memadai. Namun demikian, perkembangan Agama Hindu di Bali saat ini senantiasa menghadirkan hal yang unik. Salah satunya adalah Nganten melalui Upacara Homayajña atau Agnihotra. Seperti yang dilangsungkan pasangan I Wayan Pande Muktiantara, 30, dengan Ni Ketut Yuliana, 26, asal Banjar Banda, Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar, Rabu (26/10/2016). Keduanya tampak sangat menikmati tahap demi tahap prosesi di depan api suci. Bahkan, sesekali keduanya curi pandang dan tersenyum malu. Demikianlah keduanya dimabuk asmara.

Saat ditemui setelah semua prosesi selesai, kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Pande mengatakan tertarik untuk mengikat janji suci mereka di depan api suci karena Agnihotra merupakan salah satu warisan umat Hindu yang harus dilestarikan. “Ini merupakan tradisi Hindu yang bertujuan untuk menyempurnakan upacara yang saya laksanakan. Kalau ada kekurangan, melalui upacara ini agar disempurnakan,” imbuhnya.

Diakui Pande, prosesinya sempat mengundang banyak pertanyaan dari teman-temannya. “Banyak yang bertanya. Tapi saya jelaskan bahwa ini untuk menyempurnakan upacara, sehingga mereka pun mengerti,” jelasnya. Di samping itu, Pande menjelaskan bahwa istrinya berasal dari non-Hindu yang telah melewati upacara Sudhi Wadani sebelumnya, sehingga Agnihotra merupakan salah satu langkah yang baik untuk mengikat janji mereka berdua sekaligus memperkenalkan budaya Hindu bagi sang istri.

Sementara itu, Sira Mpu Dharma Agni Yoga Sogata yang memimpin upacara tersebut mengungkapkan, salah satu fungsi Agni atau api suci memang meresmikan suatu perkawinan atau Wiwaha Samskara. Dijelaskan oleh beliau, fungsi Agni yang pertama sebagai Ahawinaya Agni, yakni digunakan untuk memasak makanan. Kedua Grihaspatya Agni, yakni digunakan dalam perkawinan. Sedangkan yang ketiga adalah Cita Agni, yakni digunakan dalam pembakaran jenazah.

Lebih lanjut Sira Mpu menjelaskan, Agni duduk sebagai purohita, yakni pemimpin upacara sekaligus menyampaikan tujuan pelaksanaan upacara. “Beliau (Agni) juga mengundang seluruh Ista Dewata untuk menyaksikan sekaligus menerima persembahan yajmana, dalam hal ini pengantin,” ujarnya. Hal tersebut menurutnya termuat dalam Rig Weda 1.001.01 yang menyatakan “Aghnimīḷe purohitaṃ yajñasya devaṁ ṛtvÄ«jam, hotāraṃ ratnadhātamam” (Oh Dewa Agni, Engkau sebagai pendeta utama, Dewa pelaksana upacara yajña, kami memuja-Mu, Engkau pemberi anugerah berupa kekayaan yang utama).

Berdasarkan hal tersebut, menurut Sira Mpu, sangat penting bagi mempelai berdua mengucapkan janji suci di depan Dewa Agni dan disaksikan oleh keluarga, undangan, dan yang terpenting dipuput oleh Sulinggih. “Menurut Weda, pernikahan akan sempurna jika disaksikan oleh tiga saksi itu, yakni Tuhan dalam hal ini Dewa Agni, para Rsi, dan Atiti yakni undangan,” jelasnya.

Dalam prosesi tersebut terdapat beberapa tahapan. Salah satunya adalah Saptapadi, yakni maju bersama tujuh langkah mendekati kunda (tempat api). Setiap langkah diiringi doa yang dilantunkan oleh Sulinggih. Menurut Sira Mpu, hal tersebut merupakan simbol menuju kehidupan baru dengan membayangkan matahari terbit. Fungsinya adalah memperoleh kesegaran jasmani dan rohani sehingga senantiasa ingat kepada Tuhan serta memperoleh keturunan Suputra (anak yang baik).

Ada pula tahapan mempelai perempuan menginjak batu yang bermakna agar istri kuat menghadapi cobaan dalam rumah tangga. “Karena pernikahan ibarat bayi berusia lima bulan, tidak stabil. Oleh karena itu, sang istri harus senantiasa ingat kepada sumpahnya, kepada kewajibannya, dan kepada suaminya,” terang Sira Mpu.

Tahapan yang paling meriah adalah saat kedua mempelai yang dihubungkan dengan sehelai kain mengelilingi kunda tujuh kali diiringi nyayian “Sitaram” dan ditaburi bunga oleh hadirin.  “Hal tersebut berarti agar mempelai mencapai jagathita, mulai dari alam bhur, bhuwah, swah, mahah, janah, tapah, dan satyam. Alam ketujuh adalah alam yang paling bahagia, yakni tingkat satyam tempat Tuhan dan para Dewa bersemayam,” bebernya. Selain itu, ada pula prosesi saling menyuapi minuman yang dicampur madu. Yang tidak kalah unik adalah laki-laki menyuapi pisang sebagai simbol lingga kepada perempuan, dan perempuan menyuapi ketupat sebagai simbol yoni kepada laki-laki.

Lebih lanjut, Sira Mpu yang kini sedang mendalami Teologi Hindu di Program Pascasarjana IHDN Denpasar tersebut mengatakan, Agnihotra yang dilaksanakan tidak serta merta menghilangkan sarana berupa banten dalam upacara pawiwahan atau perkawinan. Menurutnya, banten merupakan warisan budaya leluhur dan Agnihotra sebagai tradisi Weda yang sama-sama patut dilestarikan. Meskipun menurut beliau, sesungguhnya dengan Agnihotra, pajati, dan tebasan saja sudah cukup untuk upacara yajña.

Berdasarkan hal tersebut, pada perkawinan Pande dan Yuliana dilaksanakan upacara menggunakan banten yang sederhana pada pagi hari, dilanjutkan Agnihotra pada sore hari. “Menurut Canakya Nitisastra, sekecil apa pun yajña itu, maka harus dilaksanakan Agnihotra, agar sempurna,” ujarnya. “Ibarat cincin, bebantenan adalah cangkoknya, dan Agnihotra adalah permatanya. Dengan demikian, antara upacara adat budaya dan upacara Weda perlu disinergikan sehingga menjadi sempurna,” imbuhnya.

Saat ditanya, mengapa Agnihotra tersebut dilaksanakan saat menjelang malam? Sira Mpu menjelaskan bahwa pelaksanaan yajña sesuai sandhya atau pergantian waktu, yakni pagi ketika matahari terbit dan sore ketika matahari tenggelam. Namun demikian, belaiu mengatakan, sesuai permintaan umat Agnihotra bisa dilaksanakan kapan saja, karena sesungguhnya semua hari adalah suci. ”Agnihotra bisa dilaksanakan kapan saja sesuai situasi dan kondisi,” terangnya.

Sira Mpu yang beralamat di Griya Taman Giri Candra, Batubulan, Gianyar ini, menekankan, untuk menghasilkan keturunan yang suputra tidak cukup sebatas prosesi Wiwaha Samskara saja, melainkan nantinya saat istri hamil hendaknya membaca pustaka suci seperti Bhagavadgita sehingga memberikan pengaruh positif kepada bayi. “Di samping itu, wajib melayani suami dengan baik, menjaga kebersihan dan etika serta menghindari tempat yang seram, serta orang yang berperangai buruk karena bisa berpengaruh pada bayi,” tegasnya. 

(bx/adi/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news