Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Nyegara Gunung, Prosesi Terakhir Dewa Pitara Menjadi Dewata Dewati

29 Juli 2017, 11: 02: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

NYEGARA GUNUNG: Prosesi Nyegara Gunung merupakan ritual terakhir Dewa Pitara menjadi Dewata-dewati.

NYEGARA GUNUNG: Prosesi Nyegara Gunung merupakan ritual terakhir Dewa Pitara menjadi Dewata-dewati. (AGUS YULIAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Berbicara tentang Nyegara Gunung, di benak umat Hindu Bali senantiasa akan mengingat upacara Pitra Yadnya yakni Memukur atau Malegia Punggel. Namun, bagaimanakan sejatinya makna dan tujuan pelaksanaan upacara akhir dalam rangkaian upacara besar ini? Berikut ulasannya.

Dekan Fakultas Pendidikan Agama dan Seni, Universitas Hindu Indonesia, Dr. I Made Yudabakti ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (27/7) kemarin menjelaskan bahwa Nyegara Gunung adalah keseimbangan natural spritual yang berorientasi kepada gunung dan lautan, luan-teben, sekala-niskala suci-tidak suci, rwa bhineda dan sebagainya. Sebagaimana yang disebutkan "nyegara gunung" sebagai konsep tata ruang dalam budaya bali.

Khususnya dalam upacara pitra yadnya kata Yudabakti, Nyegara Gunung dapat diartikan sebagai suatu proses penciptaan dari dewa pitara menjadi Dewa atau Dewata-dewati, segara sebagai lambang predhana dan gunung sebagai purusa, upacara nyegara gunung dilaksanakan setelah upacara nyekah pada rangkaian upacara Malegia Punggel atau Memukur selesai dimana Panca Maya Kosa terleburkan.

Baca juga: Permudah Transaksi di Obyek Wisata, Mandiri Serukan Gerakan Nontunai

“Upacara Nyegara Gunung ini adalah yang terakahir, sehingga terciptanya Dewata-dewati setelah itu barulah disthanakan di Sanggah atau Sanggah Kemulan atau Pura Kawitan,” jelas pria asal Tulikup ini.

Menurut Yudabakti, upacara nyegara gunung wajib dilaksanakan. Hal ini dikarenakan upacara tersebut merupakan sarana atau media yang digunakan untuk mendak Dewata-dewati. Upacara Nyegara Gunung pelaksanaannya biasanya di tepi pantai atau segara (laut), hal ini dikarenakan laut memiliki makna filosofis sebagai  segara yang merupakan sumber kehidupan. “Dalam suatu upacara yang berhubungan dengan Pitra Yadnya ada lima perubahan dari Petra atau preta yang selanjutnya menjadi Pitra kemudian Pitara yang dilanjutkan menjadi Dewa Pitara dan terkahir menjadi Dewata-Dewati atau Bhatara-bhatari,” jelas pria yang juga dalang ini.

Selain itu, secara prinsip upacara Nyegara Gunung hendaknya dipuput oleh seorang sulinggih. Hal ini karena dalam upacara nyegara gunung merupakan penciptaan dengan mempertemukan unsur Predhana atau segara dengan Purusa atau Gunung. Dan sulinggih sebagai Siwa sekala yang memiliki kewenangan untuk memimpin jalannya upacara.

Yudabakti mengakui bahwa banyak versi terkait dengan makna filosofis yang terkandung dalam konsep Nyegara Gunung. Salah satunya adalah simbolis dari konsep "Nyegara Gunung" banyak yang mengatakan sebagai pertemuan lingga dan yoni. Dimana, di lokasi seperti inilah orang suci sering melakukan yoga semadi. Hal ini dikarenakan sebagian besar meyakini bahwa vibrasi dari tempat tersebut akan memancarkan Ketuhanan. Dan biasanya para leluhur akan membangun tempat suci di sekitar areal tempat tersebut

Hal ini menurut Yudabakti dapat dilihat di beberapa pura-pura Sad Kahyangan yang ada di Bali. Hampir semuanya "Nyegara Gunung". Seperti halnya  Pura Tanah Lot di atas batu karang dan berada di tengah laut. Pura Luhur Uluwatu yang berlokasi di tepi bukit curam Jimbaran, dan di bawahnya terdapat laut atau samudera. Pura Pulaki Singaraja di atas ketinggian bukit, di bawahnya terhampar laut yang luas. Dan masih banyak lagi Pura-Pura suci lainnya yang mengambil konsep "Nyegara Gunung".

Gunung merupakan sumber penghidupan bagi mahluk tumbuh-tumbuhan binatang dan manusia yang menjulang tinggi ke angkasa. Sedangkan lautan mengelilingi daratan memenuhi hampir seluruh permukaan Bumi. Di dalam filosofi pendakian menuju puncak pencerahan rohani, dimana usaha manusia untuk menjadi semakin dekat dengan-Nya sering diistilahkan dengan memutar Gunung sampai ke puncak-nya. Setelah sampai di puncak turun lagi untuk menyelami kedalaman lautan samudera sampai ke dasarnya.

Bagi seorang "Bakta/Margi" (peminat kehidupan rohani), mereka tidak puas hanya mengecap atau mengejar ilmu pengetahuan rohani saja. Setidaknya mereka ingin merasakan kehadiran-Nya. Bahkan terkadang mereka sering jatuh bangun dibuatnya. Di dalam usaha pendakian itu ada berhenti di tengah jalan, atau berputar-putar di tempat dan bahkan jatuh lagi ke bawah.

Gunung sebagai perwujudan "Lingga" adalah tempat bersemayamnya "Dewa Siwa". Sedangkan lautan sebagai perwujudan "Yoni" adalah tempat bersemayam saktinya Siwa. Lingga Yoni adalah simbolis Purusa Pradana (laki-laki dan perempuan).

Secara sekala (kasat mata) perkawinan atau pertemuan Purusa Pradana akan melahirkan suatu mahluk jelmaan yang disebut dengan Manusia. Sedangkan secara Niskala pertemuan tersebut akan melahirkan kekuatan Super Power (Su-pra Natural) yang disebut dengan "Wahyu/Kesidian".

“Itulah sebabnya para Leluhur memilih tempat-tempat strategis semacam itu, untuk melakukan Yoga Semadi. Serta membangun tempat -tempat suci di areal yang berpatokan "Nyegara Gunung" tersebut,” tutup Yudabakti. 

(bx/gus /yes/JPR)

 TOP