Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Ngulapin Dewi Sri untuk Mengembalikan Dewi Kesuburan ke Stananya

15 Agustus 2017, 11: 59: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

UNTUK DEWI SRI: Upacara tegtegang lan ngelinggihang Ida Bhatara Sri untuk mengembalikan Dewi Kesuburan.

UNTUK DEWI SRI: Upacara tegtegang lan ngelinggihang Ida Bhatara Sri untuk mengembalikan Dewi Kesuburan. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Begitu banyaknya upacara di Bali yang diwariskan dari budaya agraris. Berbagai tradisi tersebut memiliki makna dan tujuan yang berbeda di setiap pelaksanaanya. Salah satunya adalah upacara ngulapin Dewi Sri.

Seperti upacara ngulapin pada umumnya, yang selalu digelar pasca adanya musibah, seperti kecelakaan dan sakit yang berkepanjangan, sebut saja ngulapin untuk Pitra (leluhur, Red), ngulapin orang sakit dan ngulapin Pratima, semuanya itu bertujuan untuk menyeimbangkan melalui berbagai sarana yang digunakan dalam upacara pengulapan.  Begitupun dengan upacara ngulapin Dewi Sri. Upacara ini digelar di areal persawahan pasca terkena musibah, seperti banjir, tanah longsor ataupun diserbu hama penyakit.

Ketut Agus Nova, S.Fil. H, M.Ag atau akrab disebut Jro Anom, mengungkapkan jika kata ngulapin itu berasal dari kata ulap. Ulap adalah bahasa Jawa Kuna dan juga bahasa Bali, yang artinya silau. Silau yang dimaksudkan di sini adalah seperti keadaan mata ketika menatap atau memandang sinar matahari.

Maksudnya adalah untuk memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi, supaya jika ada unsur-unsur yang ingin mengganggu, menjadi silau segera dihilangkan atau dilenyapkan. Tetapi makna lain dari kata ulap, dikatakan Jro Anom adalah memanggil atau melambaikan.

Begitupun dengan upacara Ngulapin Dewi Sri. Menurutnya, upacara ini merupakan ritual yang ditujukan kepada Dewi Sri, selaku Dewi Kesuburan penguasa padi dengan maksud untuk memanggil Beliau agar kembali ke stana semula. Upacara itu dilakukan oleh para petani bila sebuah sawah atau lahan pertanian pernah diterjang bencana, dengan catatan areal sawah tersebut harus diseimbangkan baik secara skala maupun niskala.

“Misalnya bencana alam tanah longsor, banjir bandang, hama penyakit yang menyerang lahan persawahan. Nah kalau diterjang bencana, itu menandakan Ida Bhatara Sri pergi dari stananya di sedahan carik atau di sikepat sari, yang mewilayahi areal persawahan itu,” kata Jro Anom, Jumat (11/8).

Lalu bagaimana jika tidak digelar upacara Ngulapin itu? Dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, itu menegaskan bahwa akan berdampak buruk terhadap hasil panen bila upacara ngulapin tidak secepatnya digelar. Semisal, padinya bisa diserang hama penyakit, atau gagal panen.

“Kita analogikan sawah itu adalah rumah. Jika rumahnya rusak, tentu penghuninya akan pergi karena tidak memungkinkan tinggal di tempat itu. Tetapi kalau sudah diperbaiki, pasti akan ditempati lagi. Itulah esensi dari upacara ngulapin ini. Dewi Sri harus kita panggil pasca sawah diterjang bencana melalui banten saat ngulapin. Tujuannya agar Beliau berkenan berstana kembali di pelinggihsedahan carik atau sikepat sari. Jika Beliau sudah berstana, tentu hasil panen akan berlimpah. Padi tak diserang hama penyakit karena sudah dijaga oleh Beliau,” jelasnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia