Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Sanghyang Bojog; Berawal dari Turunnya Kera dari Bukit Gumang

19 Agustus 2017, 09: 05: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

MIRIP BOJOG: Saat menari, tingkah laku para penari Sanghyang Bojog benar-benar seperti kera.

MIRIP BOJOG: Saat menari, tingkah laku para penari Sanghyang Bojog benar-benar seperti kera. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, BUGBUG - Kemunculan Tari Sanghyang Bojog (kera), berawal dari fenomena turunnya kera dari Bukit Gumang ke Sanghyang Ambu, masih wilayah Desa Adat Bugbug, Karangasem sekitar tahun 2000 silam. Sejak saat itu, kera mulai berkeliaran di sekitaran Sanghyang Ambu. Bahkan hingga ke jalan raya Amlapura-Candidasa.

Melihat fenomena itu, pihak desa adat bersama lembaga spiritual yang ada di desa setempat, Paiguman Astiti Dharma mencoba meneropong secara niskala. Mengingat berdasarkan penuturan para panglingsirnya (tetuanya), tahun 2000 itu diperkirakan dunia mulai kiamat. Kiamat yang dimaksud bukan berarti dunia akan hancur lebur. Melainkan pola pikir, tingkah laku manusia yang mulai “aneh’.  

“Orang-orang susah diatur, ego menusia mulai naik. Untuk menetralisir semuanya itu kami melalui lembaga spiritual meneropong secara niskala,” kata Kelian Adat Bugbug, Jro Wayan Mas Suyasa ditemui di rumahnya, Rabu lalu (16/8).

“Kami mencoba bisa menjawab apa sih sebenarnya tujuan kera itu datang. Sehingga kami memohon ke Maha Kuasa,” tambah mantan anggota DPRD Karangasem dari Partai Golkar tersebut.

Berdasarkan “petunjuk” Hyang Maha Kuasa, dibentuklah Tari Sanghyang Bojog. Ternyata jiwa kera itu bisa merasuk ke tubuh penarinya. Sebelum ditarikan, penarinya pantang makan daging babi, dagi sapi, termasuk mengonsumsi alkohol juga menjadi pantangan. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia