Selasa, 10 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Bali Mandara Mahalango

Prof Dibia Pentaskan Bagian Ujung-ujung Calonarang

21 Agustus 2017, 09: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

BEDA: Pementasan cerita Cupu Mas - Tanting Mas dibuat berbeda oleh sang maestro, Prof Dibia di ajang Bali Mandara Mahalango, Sabtu malam (19/8).

BEDA: Pementasan cerita Cupu Mas - Tanting Mas dibuat berbeda oleh sang maestro, Prof Dibia di ajang Bali Mandara Mahalango, Sabtu malam (19/8). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR-  Sentuhan seorang Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA menjadi pembeda pementasan dramatari barong kolosal Cupu Mas - Tanting Mas garapan kolaborasi Sekaa Barong Banjar Sengguan Singapadu dengan Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) Singapadu di panggung Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, Sabtu malam (19/8).

“Ada beberapa alasan kami menampilkan cerita Cupu Mas - Tanting Mas. Satu, saya ingin memperkenalkan bagian ujung-ujung cerita calonarang yang selama ini jarang diketahui penonton atau masyarakat terutama kami di Singapadu yang daerah calonarang. Selama ini masyarakat hanya tahu bagian tengah cerita calonarang. Alasan kedua, kami ingin menampung dan bakat-bakat muda seniman barong yang banyak sekali. Kita ingin memberi mereka ruang untuk tampil,” urai Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA.

Alasan ketiga, karena ada barong bangkal juga maka pihaknya memadukan barong bangkal dan barong ket.

Dramatari Cupu Mas – Tanting Mas ini mengisahkan tentang Prabu Padelegan yang memiliki anak kembar buncing  berwujud babi yaitu Suata yang jantan dan Suati yang betina. Keduanya kemudian dibuang ke hutan oleh Sang Prabu, agar tidak diketahui masyarakat. Di hutan keduanya memohon anugerah ke Dewata Agung  agar dapat kembali berwujud manusia. Suata kemudian bertapa di laut. Sementara Suati bertapa di pegunungan. Mereka berdua akan kembali di tempat perpisahan. Dewata terketuk dengan kesungguhan tapa mereka berdua.

Dewa Siwa kemudian pergi ke laut dan mengembalikan wujud Suata menjadi manusia dan diberinama Cupu Mas dengan kesaktiannya nircaya lingga yang dapat menghidupkan kembali semua yang telah mati. Sementara Bhatari Durga menemui Suati dan merubah wujud Suati menjadi manusia dengan nama Tanting Mas serta kesaktian niscaya lingga untuk membunuh semua yang hidup di dunia. Keduanya kemudian kembali ke titik pertemuan, tetapi di dalam perjalanan mereka berdua bertemu dan berselisih karena tidak tahu kalau mereka Suata dan Suati. Dewa Siwa dan Bhatari Durga pun kembali turun untuk menyelesaikan masalah. Mereka pun akhirnya sadar dan berdamai. Penampilan yang cukup apik dan memukau. Di sinilah kekuatan seorang maestro seni seperti Dibia. Mampu mengambil sepotong kecil cerita menjadi tontonan yang memukau dan dalam. 

(bx/gus /yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia