Selasa, 18 Feb 2020
baliexpress
icon featured
Balinese

Usaba Sambah, Pemilik Sabuk Poleng di Nyuhtebel Wajib Nangkil ke Puseh

23 Agustus 2017, 15: 22: 27 WIB | editor : I Putu Suyatra

TRANCE: Sejumlah warga Desa Pakraman Nyuhtebel, Manggis, Karangasem karauhan saat Usaba Sambah, Selasa (15/11/2016).

TRANCE: Sejumlah warga Desa Pakraman Nyuhtebel, Manggis, Karangasem karauhan saat Usaba Sambah, Selasa (15/11/2016). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Puluhan orang tiba-tiba karauhan (trance) dalam upacara Usaba Sambah yang dilaksanakan oleh Desa Pakraman Nyuhtebel, Manggis, Karangasem Selasa (15/11/2016). Warga yang terdiri dari laki-laki dan perempuan tersebut langsung berteriak ketika mendengar ritme gamelan gong yang semakin kencang.

Sesaat kemudian para laki-laki yang sudah setengah sadar tersebut menancap-nancapkan keris ke tubuhnya. Sementara masyarakat yang hadir terlihat takjub akan hal tersebut.

Kelihan Adat Nyuhtebel, I Wayan Suarna mengatakan bahwa karauhan tersebut memang senantiasa terjadi ketika upacara yang berlangsung setiap Purnama Kelima itu diselenggarakan. “Memang sudah dari dulu seperti itu,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin.

Uniknya, jika yang laki-laki menggunakan keris, yang perempuan justru menari-nari menggunakan kain. “Mereka akan melemah jika suara gong melambat dan pelan. Begitu ditinggikan, mereka kembali bertenaga,” jelasnya.

Lebih lanjut Suarna menjelaskan bahwa orang-orang yang karauhan tersebut adalah warga yang ngiring. Semua terjadi begitu saja tanpa diminta oleh warga. Mereka tiba-tiba saja karauhan. Bahkan pria berusia 53 tahun itu menyebutkan ada yang salah satu warga yang karauhan adalah mahasiswa kedokteran di salah satu perguruan tinggi di Bali.

“Ada yang perempuan itu mahasiswa kedokteran. Dia mulai karauhan sejak Ngusaba dua tahun lalu,” ujarnya. Beruntung kini yang bersangkutan dikatakan sudah tamat.

Selain perempuan tersebut, ada pula warga yang karauhan bekerja sebagai instalatir listrik di Nusa Dua. Pernah suatu ketika saat Ngusaba Sambah dilaksanakan yang bersangkutan tidak pulang. “Tiba-tiba saat bekerja ia jatuh dan langsung karauhan di tempatnya bekerja,” ungkapnya. Suarna juga tidak bisa mengerti dengan hal itu. “Saya juga tidak mengerti. Memang sudah begitu adanya,” ungkapnya.

Di samping itu Suarna juga mengatakan ada warga yang merasa terbebani dengan ngiring tersebut dan pergi ke paranormal untuk menutup auranya sehingga tidak lagi ngiring. Sayangnya usaha mereka gagal. “Mungkin kan mereka beban. Jadi ada yang pergi ke paranormal. Tapi sampai sekarang tetap ngiring,” terangnya.

Meskipun dalam keadaan trance, tidak menutup kemungkinan ada kecelakaan yang terjadi. Salah satu warga pria tiba-tiba terluka oleh keris yang ditorehkan ke tangannya. “Mungkin yang bersangkutan sedang ada cuntaka, sehingga terluka. Tentunya itu bukanlah hal yang kita harapkan,” jelasnya.

Adapun upacara Usaba Sambah tersebut telah dilaksanakan sejak Sabtu (12/11/2016) lalu. Selama upacara tersebut, semua Ida Bhatara dari Kahyangan tiga berkumpul di Pura Puseh. Warga yang terlibat berasal dari Nyuhtebel yang terdiri dari  Banjar Karanganyar, Tengah, dan Tauman.

“Tanggal 12 itu adalah beteng. Jadi acara dimulai dengan pendirian Sang Hyang Sambah serta melasti ke segara,” jelasnya.

Palinggih Sang Hyang Sambah berbentuk seperti sanggah surya yang akan dilebar saat panyineban. Sedangkan hari keempat kemarin dikatakan sebagai puncak upacara. Pada saat puncak acara tidak diperkenankan mengahaturkan daging babi. “Hanya daging ayam atau bebek saja,” jelasnya. Adapun kegiatan tersebut bermakna rasa syukur kepada Tuhan.

Di samping itu, sore kemarin semua warga yang memiliki sabuk poleng, warisan dari leluhurnya juga semua tangkil ke pura puseh. Sabuk poleng tersebut dikatakan oleh Suarna merupakan salah satu aksesoris dari pasukan di zaman dahulu. “Ibaratnya leluhur mereka adalah tentara di zaman dahulu dan sabuk poleng itu adalah salah satu kekuatannya,” jelasnya.

Dengan sabuk poleng tersebut para prajurit memiliki kesaktian dan siap bertempur melindungi wilayah kekuasaan pemimpinnya. “Oleh karena itu, hingga kini sabuk poleng tersebut disung-sung oleh keturunannya. Jumlahnya pun tinggal 50-an saja,” tandasnya. 

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia