Minggu, 18 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Menyingkap Misteri Dewa Brahma Jarang Dipuja

24 Agustus 2017, 15: 32: 40 WIB | editor : I Putu Suyatra

ANDAKASA : Pura Andakasa di Angantelu, Manggis, Karangasem, salah satu tempat pemujaan untuk  Dewa Brahma.

ANDAKASA : Pura Andakasa di Angantelu, Manggis, Karangasem, salah satu tempat pemujaan untuk Dewa Brahma. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Jika  dibandingkan dengan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa, Dewa Brahma yang paling jarang dipuja. Ada sejumlah purana yang membeber muasal Dewa Brahma akhirnya mendapat perlakuan beda umat Hindu. Benarkah seperti itu, dan seperti apa kisahnya?

Dalam Kurma Purana, Vayu Purana, dan Siwa Purana, dikisahkan pencarian oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu untuk menemukan Anadi (awal) dan Ananta (akhir) dari Dewa Siwa, di mana kisahnya tertuang dalam Legenda Siwa Lingga (Lingodbhavamurthy).

Mengutip Hindualukta, bahwa legenda ini membuktikan kemahakuasaan Dewa Mahadewa lebih dari Dewa Hindu lainnya. Selain itu, juga menjelaskan mengapa lingga diyakini menjadi salah satu lambang yang paling ampuh untuk mencapai tujuan dalam Hindu.

Baca juga: El Savador Band Konsisten Genre Latin, Segera Luncurkan Album

Berdasar purana tersebut, dua dari Dewa Tri Murti, yakni Brahma dan Wisnu menunjukkan kemampuannya masing-masing . Lantaran keduanya punya kekuatan, dewa lainnya takut akan terjadi pertempuran yang kian sengit. Para dewa lainnya lantas meminta Siwa menjadi penengah. Dewa Siwa selanjutnya muncul berbentuk Lingga yang menyala di antara Brahma dan Wisnu, dan  kemudian menantang keduanya dengan meminta mereka untuk mengukur panjang dari Lingga. Terpesona oleh besarnya, Brahma dan Wisnu memutuskan untuk mencari ujung Lingga itu. Dewa Brahma berubah bentuk menjadi Angsa dan melesat  ke atas, sementara Dewa Wisnu mengambil bentuk Varaha (babi hutan) dan masuk ke tanah menuju ujung bumi. Keduanya mencari ribuan mil, tetapi tidak bisa menemukan ujung akhirnya. Pada perjalanannya ke atas, Brahma menemukan bunga Ketaki. Lantaran lelah dan bingung dengan pencariannya  yang tak juga menemukan ujung teratas dari lingga yang berapi-api, Brahma lalu sepakat dengan bunga Ketaki untuk berbohong bahwa ia telah menemukan ujung teratas dan bunga itu berada.

Dewa Brahma lalu turun dan bertemu dengan Dewa Wisnu,  dan menegaskan bahwa ia telah menemukan ujung Lingga itu. Namun, setelah pernyataan Brahma tersebut,  tiba-tiba bagian tengah Lingga terbelah dan Siwa muncul. Dewa Brahma dan Wisnu kemudian membungkuk memberi hormat karena kemahakuasaan Dewa Siwa. Dalam kesempatan tersebut, Dewa Siwa juga menjelaskan kepada Brahma dan Wisnu, bahwa keduanya lahir dari dia dan kemudian dipisahkan menjadi tiga aspek kemahakuasaan Tuhan. Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pelebur (Pemralina). Namun, Dewa Siwa marah dengan Dewa Brahma  karena telah berbohong. Kemudian Dewa Brahma dikutuk bahwa tidak seorang pun yang akan berdoa kepada-Nya. Dewa Siwa juga menghukum bunga Ketaki karena ikut berbohong dan melarang dia digunakan sebagai persembahan ibadah apa pun. Karena itu pada hari ke-14 (Bulan Gelap) bulan Phalguna, Dewa Siwa mengubah bentuk menjadi Lingga, dan pada hari itu pula diperingati sebagai Mahashivaratri , yakni malam pemujaan Siwa. Legenda ini sekaligus menjelaskan mengapa sedikit pemuja Brahma, termasuk minimnya Candi Brahma ditemui di India dan negara lainnya, termasuk juga di Bali.

Brahma di India memang jarang mendapatkan tempat khusus, meski masyarakat India didominasi agama Hindu. Masyarakat Hindu India lebih banyak memuja para Shakti  atau Devi (Shaktiisme), Wisnu (Waisnawa), atau Siwa (Shaivanism). Bagaimana dengan di Bali?

Penganut Hindu Nusantara meninggalkan sejumlah  jejak,bahwa memuja Dewa Brahma. Di Prambanan misalnya, Brahma dibuatkan candi khusus berdampingan dengan Wisnu. Di Bali ada Pura Andakasa di Angantelu, Kecamatan Manggis, Karangasem,  yang dikhususkan bagi pemuja Dewa Brahma.

Jro Mangku Danu, mengatakan, sebenarnya bertalian dengan puja untuk Dewa Brahma sering dilakukan umat Hindu. Bahkan, untuk bisa memuja dewa lainnya termasuk Siwa dan Wisnu, lanjut Pamangku Pura Kawitan Dukuh Aji Patapan, Desa Kedisan, Kintamani ini, umat mesti terlebih dahulu memuja Brahma. “Setiap ucapan yang keluar sesungguhnya adalah ucapan dari Brahma. Setiap sabda atau suara adalah Brahma itu sendiri, dan di Veda dinyatakan Brahma berstana di lidah atau suara,” terang  Jro Mangku Danu kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (16/11) kemarin

Bahkan, lanjutnya,  pranawa suci OM (AUM) berawal dari huruf A yang bermakna Agni dan juga Brahma. Sementara  U adalah Udaka yang bermakna Air yang juga Wisnu, sedangkan  M berarti Marut, juga Bhayu yang juga Siwa.

Diakui Jro Mangku Danu, memang dalam puja mantram nama Brahma tidak disebut langsung, seperti halnya Dewa Siwa atau Wisnu. Akan tetapi setiap mamtram agar bertuah selalu diberkati oleh Brahma lewat kata Swaha. “Swaha adalah Sakti dari Agni yakni Brahma. Tanpa kata Swaha, mantram kehilangan tuahnya. Makanya, mantram diawali oleh OM ( AUM) dan ditutup dengan Swaha,” pungkas pamangku yang menekuni meditasi secara otodidak ini. 

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news