Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Bhujangga Waisnawa, Jejak Pertapaan Ida Bagus Angker di Jatiluwih

24 Agustus 2017, 15: 39: 13 WIB | editor : I Putu Suyatra

UTAMA MANDALA: Utama Mandala Pura Luhur Bhujangga Waisnawa Gunung Sari senantiasa dihadiri oleh pamangku saat rahinan.

UTAMA MANDALA: Utama Mandala Pura Luhur Bhujangga Waisnawa Gunung Sari senantiasa dihadiri oleh pamangku saat rahinan. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Pura Bhujangga Waisnawa Gunung Sari atau Mrajan Agung Bhujangga Waisnawa Gunung Sari, lokasinya tidak jauh dari  Pura Luhur Puncak Petani, hanya berjarak sekitar 200 meter. Pura ini terletak di Desa Pakraman Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan. Karena letaknya di lereng gunung, membuat suasana pura ini hening dengan udara yang sejuk. 

Sama halnya dengan Pura Luhur Pucak Petali, keberadaan salah satu pura sungsungan warga Bhujangga Waisnawa di Bali ini, tidak terlepas dari peran Ida Bagus Angker. Pura Bhujangga Waisnawa Gunung Sari  diperkirakan sebagai pasraman beliau pada zaman dahulu. Ida Bagus Angker adalah putra Ida Rsi Waisnawa Mustika, keturunan Rsi Markandeya. Diceritakan bahwa setelah Ida Rsi Waisnawa Mustika wafat, Ida Bagus Angker dari Sengguhan Klungkung menuju Giri Kusuma untuk bertapa. Karena berhasil dalam tapanya, tempat tersebut kemudian diberi nama Gunung Sari. 
Ida Bagus Angker adalah sosok yang cerdas dan mahir dalam berbagai bidang ilmu dan sastra agama, seperti wariga atau perbintangan, usada atau pengobatan, dan sebagainya. Oleh karena itu, desa tempat beliau tinggal disebut Jati Luwih,  sesuai sosok beliau benar-benar cerdas dan berwibawa. Setelah melalui proses dwijati, Ida Bagus Angker kemudian bergelar Ida Rsi Canggu. Sedangkan Bhujangga juga berarti cerdas dan cendikia. Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa Bhujangga Waisnawa di Bali menganut ajaran Siwa Waisnawa, sesuai ajaran Rsi Markandeya. 
Guru Mangku Mertadana, 63, yang ditemui di lokasi menuturkan, sepengetahuannya dulu belum ada pura seperti sekarang. Awalnya hanya terdapat palinggih yang bentuknya seperti padma di kawasan itu. “Di sisinya dipagari dengan batu, pohon Temen, bambu Sudhamala, dan Pergu,” tuturnya, ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (16/11/2016). Ketika masih kecil ia ingat para panglingsir atau orang tua ngayah untuk membuat areal lebih luas. Dengan peralatan sederhana, mereka meratakan tanah untuk areal pura. 
Selanjutnya, secara perlahan pura tersebut dibangun. Awalnya yang digunakan adalah kayu yang dihaturkan oleh salah satu warga Bhujangga Waisnawa, almarhum Guru Nadra dari Buleleng. “Saat itu beliau tergolong mampu dari segi perekonomian dan menghaturkan kayu untuk membuat palinggih,” ujarnya. Ada pula almarhum Guru Raka Mertha dari Langon yang menghaturkan atap berbahan ijuk. 
Guru Mangku mengatakan, pembangunan saat itu tidaklah mudah. Para panglingsir harus memikul batu paras dari Desa Senganan yang jaraknya berkilo-kilometer. “Bahkan malam hari juga ngayah dan untuk penerangan mereka membawa obor,” terangnya. Namun demikian, ia mengatakan saat itu semuanya ikhlas ngayah tanpa ada rasa beban. Pura yang sudah jadi tersebut kemudian rusak karena dilanda gempa hingga tiga kali. "Akhirnya sekitar enam tahun lalu dipugar dan dibagun seperti sekarang,” jelasnya. 
Kini, di utama mandala pura terdapat beberapa palinggih, yakni Padmasari, Pasaren, Beji Bhagawan Wisnu, Padmasana, Gedong tumpang 11 sebagai stana Ida Rsi Markandeya, Gedong tumpang 7 stana Ida bhatara-bhatari, Taksu agung, Sapta Patala sebagai stana Ibu Pertiwi, Bale Piasan, dan Gedong Simpen. Sementara di Madya Mandala juga terdapat gedong kawitan dan ada Bale Agung. “Sebagai tempat pasiraman ida bhatara saat pujawali juga ada beji kangin dan beji kauh,” sebutnya. 
Guru Mangku melanjutkan bahwa pengempon pura tersebut adalah seluruh warga Bhujangga Waisnawa. “Tapi yang menjadi panganceng adalah sameton Bhujangga dari Desa Pakraman Gunung sari,” ungkapnya. Mengenai pujawali, ia mengatakan diadakan setiap Purnamaning Jyesta . “Kalau pujawali, nyejer sampai tiga hari dan umat dari berbagai daerah di Bali secara bergiliran tangkil,” ujarnya. Ia juga bercerita bahwa dulu pujawali dilaksanakan malam hari. “Kalau dulu pujawalinya malam hari. Nyiramang Ida Bhatara pun malam,” tuturnya. Oleh karena itu ada kesan yang berbeda menurutnya. 
Dikauinya, kawasan pura  memang menghadirkan suasana hening sehingga cocok sebagai tempat bermeditasi. Hanya ada burung liar dan serangga yang sesekali bersuara. Jika tangkil ke tempat ini, pamedek hendaknya menggunakan jaket yang tebal dan membawa jas hujan, jika menggunakan sepeda motor. Pasalnya, udara lumayan dingin dan hujan kerap turun. Guru Mangku Mertadana juga mengatakan tidak ada pamangku yang piket. Oleh karena itu,  kalau ingin sembahyang pada hari biasa, umat bisa langsung datang ke Desa Gunung Sari untuk mencari pamangku. “Tapi kalau hari-hari tertentu seperti purnama, tilem, atau kajeng kliwon, pasti ada pamangku di sini,” pungkasnya. 

(bx/adi/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia