Minggu, 26 Jan 2020
baliexpress
icon featured
Bali

Pasek Suardika: Hindu Perlu “Petarung Sejati”

04 September 2017, 09: 10: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

SEMINAR: (Ki-ka) Gede Pasek Suardika, I Made Surya Putra, I Made Gede Ray Misno, dan moderator I Wayan Darmayasa dalam seminar KMHDI di ruang Kertha Gosana, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Minggu (3/9).

SEMINAR: (Ki-ka) Gede Pasek Suardika, I Made Surya Putra, I Made Gede Ray Misno, dan moderator I Wayan Darmayasa dalam seminar KMHDI di ruang Kertha Gosana, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Minggu (3/9). (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Di tengah 'perang' globalisasi ini, Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas merupakan 'senjata' utama. Dengan SDM yang mumpuni, maka rakyat Indonesia bisa mengelola kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di tanah air. Demikian pula umat Hindu, hendaknya bisa mencetak generasi muda yang brilian. Sehingga memiliki daya saing yang tinggi dalam persaingan di tingkat nasional hingga internasional. Melalui SDM yang berkualitas, maka generasi muda Hindu akan menjadi 'petarung sejati'.

Demikian salah satu poin yang disampaikan anggota DPD RI, I Gede Pasek Suardika, saat menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) bertema KMHDI untuk Regenerasi di sela penutupan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) XIII KMHDI di ruang Kertha Gosana, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Minggu (3/9) kemarin.

"Sebagai generasi muda Hindu, kita harus berani menjadi petarung sejati," ujarnya dalam kegiatan yang dipandu moderator I Wayan Darmayasa tersebut.

Dikatakan mantan Ketua Komisi III DPR RI tersebut, dunia internasional sedang dilanda konflik perebutan sumber daya alam. Tidak menutup kemungkinan Indonesia suatu saat juga menjadi sasaran karena sumber daya alamnya yang melimpah. Oleh karena itu, kata dia, petarung sejati yang dimaksud dalam hal ini adalah orang-orang yang memiliki potensi dan keberanian guna bersaing di segala lini secara positif.  Salah satu modal yang penting menurutnya adalah karakter dan keisiplinan "Itu penting," tegasnya.

Selanjutnya, Dosen Stispol Wira Bhakti Denpasar, I Made Gede Ray Misno, menyatakan hal senada. Dikatakannya, karakter adalah hal yang sangat penting yang harus ditanamkan di dalam diri generasi muda Hindu. Dengan karakter, maka generasi muda akan memiliki idealisme dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Kebenaran dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, kata dia telah diajarkan agama Hindu melalui konsep Tri Kaya Parisudha. Tri Kaya Parisudha, selanjutnya menjadi modal dalam mewujudkan keselarasan dan keharmonisan sesuai konsep Tri Hita Karana, yakni harmonisasi manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta manusia dengan alam.

Berkenaan dengan hal itu, karakter akan menciptakan kepribadian seseorang yang murni. "Jadilah diri sendiri. Tidak perlu menjadi orang lain. Yang penting adalah, misalnya jika menjadi ekonom, jadilah ekonom yang berkarakter Hindu. Jika menjadi politisi, jadilah politisi yang berkarakter Hindu, dan sebagainya. Intinya adalah karakter harus dikuatkan," tegas mantan Ketua KPU Denpasar tersebut.

Sementara itu, pembicara lainnya, Dosen Unud, I Made Surya Putra, menekankan, agama Hindu mengajarkan dua kewajiban seorang warga Negara. Yakni dharma agama atau kewajiban terhadap agama dan dharma negara atau kewajiban terhadap negara. Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, karakter sangat berperan vital.

Menurut Surya Putra, dari 100 persen ilmu yang diterima di dunia pendidikan, secara umum hanya 30 persen yang digunakan dalam dunia kerja. Sementara 70 persen sisanya adalah karakter. Dengan demikian, pembentukan karakter sangatlah penting. Ia mencontohkan sebuah intan yang terbentuk dari zat yang sama terkandung dalam arang. Namun karena mengalami proses yang panjang, maka terbentuk intan yang harganya jauh lebih mahal dari setumpuk arang biasa. Demikian pula seperti besi yang ditempa menjadi sebuah senjata. 

"Intinya adalah proses yang penuh tekanan dan panas. Jika generasi muda mampu melewati proses penempaan, maka suatu saat akan menjadi generasi yang mumpuni," terangnya.

Lalu, dimana tempaan itu didapat? Selain di dunia pendidikan, yang penting, kata dia adalah pengalaman dan latihan yang didapat dari berorganisasi. Dalam organisasi pun setiap orang harus terus melatih diri dengan konsep lintas vertikal dan lintas horizontal.  Lintas vertikal, yang dimaksud adalah mengikuti proses secara bertahap. "Jadi setelah menjadi anggota, ia belajar menjadi pemimpin dan mengurus orang. Misalnya dari 10 orang, kemudian bertahap, hingga suatu saat ia bisa mengurus masyarakat," jelasnya.

Sementara lintas horizontal, kata dia berhubungan dengan komparasi. Jika seseorang menduduki posisi atau jabatan yang setara dengan orang lain, ia tak malu untuk belajar kelebihan dari orang lain. Dengan demikian, ia mampu menyerap ilmu sebanyak-banyaknya guna membangun dirinya.

Lebih lanjut, ia menyatakan, generasi muda saat ini harus menyiapkan diri untuk 'perang' yang sesungguhnya tahun 2045 mendatang.  Pasalnya tahun tersebut, Indonesia akan mendapat bonus demografi. Bonus demografi adalah keadaan saat jumlah produksi lebih besar daripada konsumsi. Sementara saat ini produksi lebih kecil daripada konsumsi. Dalam satu keluarga, kebanyakan hanya satu orang yang bekerja untuk menghidupi keluarganya. Misalnya sang ayah bekerja untuk bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.

Namun tahun 2045 yang akan datang, generasi Indonesia sedang produktif, sehingga disebut 'Generasi Emas'. Pasalnya, saat itu ditargetkan semua generasi telah mengenyam pendidikan dan dalam usia yang relatif sedang berada di puncak karir. Jumlah kelahiran dan kematian jauh lebih kecil daripada pemuda yang siap bekerja.

"Hanya ada dua pilihan. Generasi muda bisa mewujudkan mimpi itu dengan bersiap diri mulai sekarang atau hanya akan menghancurkan mimpi tersebut karena tidak siap," tandas mantan Sekjen KMHDI tersebut. 

(bx/adi/yes/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia