Minggu, 28 Feb 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Tajen, Ritual Suci yang Berubah Jadi Judi

08 September 2017, 15: 56: 22 WIB | editor : I Putu Suyatra

TAJEN : Judi sabung ayam alias Tajen di masa lalu, jarang sepi petaruh. Bahkan, digelar di arena khusus.

TAJEN : Judi sabung ayam alias Tajen di masa lalu, jarang sepi petaruh. Bahkan, digelar di arena khusus. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tajen adalah pertarungan dua ekor ayam pejantan. Maraknya sabung ayam di pelosok Bali bukan berarti Umat Hindu tidak taat beragama. Hal ini dikarenakan banyak Umat Hindu yang belum memahami bahwa Tabuh Rah yang dibarengi judi itu dilarang Agama.

Tajen berasal dari kata tajian yang berarti sejenis pisau kecil yang memiliki dua mata yang panjangnya kira-kira setelunjuk orang dewasa. Taji biasanya diletakkan pada kaki kiri ayam yang akan diadu. Dalam Kitab Anutan Bebotoh (petaruh), disebut sebagai Lontar Pengayam-ayam, banyak disinggung tentang ayam yang dijamin tidak keok saat diadu. Selain ciri bawaan ayam yang mendatangkan keberuntungan, hari pertandingan pun berpengaruh.   Di samping itu, penamaan ayam jago Tajen diberikan berdasarkan warna dan keadaan bulunya. 

Mulanya Tajen hanya diselenggarakan pada upacara Tabuh Rah saja. "Namun, adanya degradasi pengetahuan tatwa dan susila menyebabkan pelaksanaan tajen berorientasi pada Judi. Serta sebagian besar pelaksanaannya berlindung pada pelaksanaan upacara Tabuh Rah," ujar Jro Mangku I Wayan Satra.

Dijelaskan lebih lanjut, Tajen berasal-usul dari Tabuh Rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan Bhuana Agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang. Namun, banyaknya orang yang menjadi bebotoh (pemain tajen) menyebabkan tradisi itu menjadi sebuah ajang perjudian.

Satra menambahkan, ada beberapa ayam yang dilarang diadu, yakni ayam yang dinamai Raja Wilah. Raja Wilah  merupakan ayam jantan yang mempunyai satu flek hitam di kakinya. Selanjutnya ayam bernama Camah Brahma, yakni ayam  jago yang memiliki ciri-ciri warna merah di seluruh urat, lidah, maupun kulit.  Kedua ayam ini pantang diadu dalam Tajen. Bila pemilik ayam nekat, risikonya bisa berupa perkelahian atau bisa ada serangan penyakit dadakan. Tak hanya si pemilik, anggota keluarganya pun bisa menjadi korban.

Ketidaktahuan atau awidya menyebabkan Tabuh Rah berkembang menjadi praktik perjudian. Ditegaskannya,  motivasi seseorang dalam berjudi adalah keinginan untuk mendapatkan uang dengan cara yang cepat. Dengan demikian, lanjutnya, orang yang mendapatkan hasil tanpa bekerja tergolong orang Tamasik (tamak).

Satra menjelaskan, Tajen dalam ritual Tabuh Rah yang lazim diadakan berkaitan dengan upacara agama. Tabuh berarti mencecerkan Rah yang berarti darah. Pelaksanaan tajen dalam Tabuh Rah dianggap sebagai bagian dari rangkaian pelaksanaan upacara, sehingga pelaksanaannya tidak dilarang.

Lebih lanjut dikatakannya, banyak Desa Pakraman yang melaksanakan Tajen untuk penggalian dana. Tajen yang dilaksanakan oleh desa yang berfungsi untuk penggalian dana disebut Tajen Terang.  Berdasarkan hukum adat, Tajen Terang tidak dilarang, bahkan setiap desa adat memiliki awig-awig yang mengatur tata cara Tajen,  meski tidak tertulis. Tajen Terang dilakukan terbuka dengan melibatkan pecalang. Bahkan, didahului dengan upacara kepada Dewa Tajen, agar tidak terjadi perselisihan selama acara berlangsung. "Sedangkan Tajen yang semata-mata berorientasi pada judi adalah Tajen Branangan yang saat ini tergolong kedalam tindakan pidana." tutup Satra. 

(bx/gus /rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news